RSS

Final Softskill SIP

15 Nov
  1. Jurnal Psikologi, Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012, Halaman 194

 Loneliness smartphone users in term of gender differences in class XI students of SMA N 9 Semarang

Yuli Triwidodo, Endah Kumala Dewi

Rangkuman Jurnal

      Kesepian merupakan suatu perasaan yang tidak menyenangkan yang bersifat subjektif sebagai akibat dari kurangnya interaksi sosial yang dialami individu baik secara kualitas maupun kuantitas. Secara kualitas individu yang kesepian memiliki hubungan sosial yang dangkal dan kurang memuaskan dibandingkan dengan apa yang diharapkan. Sedangkan kuantitas individu yang kesepian tidak memiliki teman atau hanya memiliki sedikit teman. Kesepian yang dimaksud adalah wujud dari individu lebih memilih untuk mengabaikan dengan dunia nyata dan individu lebih memilih untuk mengakses media sosial untuk mengatasi rasa kesepiannya.

       Memudahkan individu untuk berkomunikasi adalah tujuan adanya komunikasi smartphone. Melalui komunikasi manusia dapat meyampaikan pesan atau informasi kepada orang lain sehngga dapat berhubungan atau berinteraksi antara yang satu dengan  yang lainnya. Di Indonesia, pengakses internet terus meningkat. Menurut data dari Internet Word Stats Desember 2011 jumlah pengguna internet di Indonesia berkisar pada angka 55 juta pengguna dari populasi sebesar 245 juta jiwa.

      Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kesepian antara remaja laki-laki dan perempuan yang mengakses media sosial melalui smartphone, populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah berjumlah 150 orang yaitu 75 orang remaja laki-laki dan 75 orang remaja perempuan dimana populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi di SMA Negeri 9 Semarang dengan kriteria berusia 15-18 tahun, berstatus sebagai siswa SMU N 9 Semarang, dan mempunyai smartphone yang bisa untuk mengakses media sosial.

         Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan skala kesepian dari De jong Gierfeld dan Van Tilburg dari tiga aspek kesepian berdasarkan pendekatan kognitif  yaitu tipe deprivasi sosial, perspektif waktu, kondisi emosional, dan analisis data. Hasil analisis data menggunakan tes Mann-Whitney Test. Uji reabilitas menunjukkan koefisien reliabilitas sebesar 0,964. Berdasarkan hasil analisis didapatkan 45 aitem valid dan 15 gugur dan  menghasilkan 0,550 atau probabilitas diatas 0,05 (0,550 > 0,05). Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa remaja berjenis kelamin laki-laki mengalami tingkat kesepian yang rendah dengan nilai mean empirik 104,23 sedangkan tingkat kesepian yang dialami remaja berjenis kelamin perempuan menunjukkan hasil yang rendah dengan nilai empirik 102,75. Dari hasil analisis maka H0 diterima atau tidak ada perbedaan kesepian antara remaja laki-laki ddengan remaja perempuan yang mengakses media sosial melalui smartphone.

      Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kesepian pengguna smartphone dilihat dari perbedaan jenis kelamin pada siswa kelas XI SMA N 9 Semarang. Para siswa menggunakan smartphone karena untuk menjalin relasi dengan teman-temanya, keluarga yang jauh untuk menjalin komunikasi interpersonal bukan karena kesepian.

 2. Jurnal penelitian vol.9 No. 1

Pengembangan Instrumen Tes Psikologis Berbasis TIK

Siti Wuryan Indrawati

Rangkuman Jurnal

        Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan suatu alat ukur atau tes psikologis yang disebut tes GTLC (Group Tes of Learning Capacity) yang berbasis TIK. Tes Psikologi bukan hal yang baru terutama dibidang pendidikan, industri, dan klinis. Dinegara-negara maju penggunaan tes psikologi sebagai alat untuk mengetahui “human ability and traits” dan di Indonesia biasanya tes psikologis digunakan dengan tujuan untuk seleksi, penempatan, konseling, penyesuaian, therapi, dan juga penyusunan program Bimbingan di sekolah. Sedangkan dibidang industri selain untuk seleksi, penempatan, transfor dan penyesuaian tenaga-tenaga yang sudah bekerja, pemilihan orang yang akan dilatih kembali dan juga untuk menentukan syarat-syarat kerja (performance reqruitments) untuk jabatan tertentu juga bantuan dalam menentukan program-program latihan. Dibidang klinis tes psikologi dimanfaatkan untuk kepentingan diagnosis prognosis maupun therapi pada gangguan-gangguan pribadi.

Menyusun tes yang baru perlu waktu yang sangat lama sedangkan kebutuhan sangat mendesak untuk itu lebih cepat dengan mengembangkan alat yang sudah ada yang diadaptasi, divalidasi, dan dicari reliabilitasinya. Tes Psikologi yang mengukur kemampuan umum (Inteligensi umum) yang bernama GTLC (Group Tes of Learning Capacity) adalah salah satu tes yang boleh dikatakan belum matang untuk digunakan di Indonesia apalagi dengan berbasis penggunaan teknik komputer (TIK). Dengan demikian penelitian ini berupaya untuk nantinya mengembangkan Instrumen Tes Psikologi yang Berbasis TIK. Yang diawali dengan mencari validitas dan reliabilitas tes GTLC.

       Metode penelitian yang digunakan untuk pengembangan tes adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpul data dengan menggunakan Tes Psikologis dan dikorelasikan dengan tes psikologis yang telah valid sedangkan Reliabilitas Tes diperoleh dengan menggunakan Kuder 20 (KR 20). Dari data 160 siswa sampel penelitian hasil perhitungan Reliabilitas Tes cukup reliabel yaitu 0,766 dan dari 4 kelas yang 3 kelas validitasnya tinggi 0,658, 0,607, dan 0,645 hasil yang belum optimal disebabkan sampel penelitian yang kecil, akan lebih baik kalau sampelnya besar, untuk penelitian pengembangan tes psikologi. Secara keseluruhan hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai studi awal pengembangan Tes Psikologi berbasis TIK karenha dengan ukuran sampel yang kecil saja hasilnya sudah cukup baik, sehingga direkomendasikan dengan sampel yang besar penelitian pengembangan tes ini bisa dilanjutkan kearah standardisasi Tes dan yang terakhir mengembangkan tes Berbasis TIK.

3. Jurnal Generic vol. 5 No. 2 (Juli 2010)

Intelligent Tutoring System sebagai Upaya Inovatif dalam Pembelajaran untuk

Pembelajaran Berbantuan Komputer

Jaidan Jauhari dan Mohammad bin Ibrahim

Rangkuman Jurnal

       Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat juga telah merambah bidang pendidikan dan pengajaran. Penggunaan pembelajaran berbasis komputer dalam pembelajaran telah diteliti dan memberikan dampak positif dalam pembelajaran. Salah satu pembelaajran berbasis komputer yang saat ini masih terus dikembangkan adalah Intelligent Tutoring System (ITS) yang dikembangkan untuk mengatasi kelemahan pembelajaran berbasis komputer sebelumnya yang belum memperhatikan keberagaman siswa. Berbagai pembelajaran yang berbasiskan teknologi informasi sekarang ini sudah banyak pula dimanfaatkan, misalnya pembelajaran berbantuan komputer, (computer based learning), pembelajaran jarak jauh (distance learning), pembelajaran elektronik (e-learning) dan lain-lain. Di sisi lain dengan adanya ICT proses belajar dapat dilakukan kapan saja tanpa terikat ruang dan waktu.                                                                

Intelligent Tutoring System (ITS) menjadi wilayah penelitian yang cukup luas dikarenakan banyaknya bidang-bidang disiplin ilmu yang terlibat seperti ilmu pendidikan, ilmu psikologi, ilmu kognitif dan ilmu komputer. Ilmu pendidikan akan memberikan metode pedagogik yang terbaik, ilmu psikologi akan memberikan metode komunikasi terbaik antara ITS dengan pengguna, ilmu kognitif akan mengajarkan cara pengetahuan bekerja dan ilmu komputer akan mentranformasikan ketiga ilmu tadi menjadi sebuah aplikasi komputer yang dapat menjadi replika manusia dalam memberikan pengajaran. Ada beberapa komponen ITS. Pertaman, Model Komunikasi/ Antarmuka Pengguna digunakan untuk berinteraksi dengan pengguna.  Seluruh komponen interaksi disusun dengan mempergunakan kotak dialog, tombol, dan pilihan – pilihan yang secara dominant dapat diakses melalui keyboard dan mouse. Kedua, Modul Pakar  berfungsi sebagai pengatur proses pedagogig dan menghitung tingkat kognitif yang diterapkan sistem kepada siswa. Pada modul pakar, strategi penyusunan materi didasarkan pada model taksonomi tujuan instruksional (taksonomi bloom’s pada ranah kognitif). Ketiga, Modul Pedagogig  yaituHasil dari proses identifikasi pengetahuan yang diperoleh dari pakar selanjutnya diterjemahkan sebagai bentuk modul pedagogig. Empat,  Modul Siswa yaitu  pada modul siswa ini akan terekam data siswa, komponen  data yang terekam berkaitan dengan proses adaptasi sistem terhadap kemampuan siswa. Kelima, Modul Evaluator berfungsi dalam proses evaluasi jawaban siswa dari soal yang diberikan oleh sistem. Pengembangan e-learning yang ada sekarang dan pembelajaran berbantuan komputer serta pembelajaran jarak jauh yang telah ada belum mengakomodasi masalah keberagaman dan kemampuan peserta ajar secara individu, histori belajar, gaya belajar dan kelakuan belajar. Untuk mengatasinya dilakukan dengan mengembangkan suatu model pembelajaran berbasis ITS. Sebagian besar universitas telah menerapkan alat pengajaran online sebagai mekanisme untuk pembelajaran. Kelebihan alat ini adalah kemampuan mereka untuk menyediakan guru dan siswa dengan banyak fleksibilitas dalam lingkungan belajar.

 4. Jurnal Inkom, 2012

Aplikasi Sistem Pakar Tes Kepribadian Berbasis Web

Wawan Wardiana dan Visca Veronika Tobing

Rangkuman Jurnal

        Kepribadian sangatlah penting untuk diketahui setiap orang agar setiap individu mampu mengembangkan kelebihan yang dimilikinya. Seseorang yang kesulitan dalam mengembangkan dirinya kemungkinan karena tidak mengetahui sama sekali kelemahan dan kekurangan yang dimilikinya. Sistem Pakar merupakan suatu sistem yang dibangun untuk memindahkan kemampuan dari seorang atau beberapa orang pakar ke dalam komputer yang digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh pemakai dalam bidang tertentu. Untuk membantu setiap orang yang ingin mengetahui kepribadiannya, penulis membangun sebuah aplikasi sistem pakar berbasis web yang mampu membantu pengenalan seseorang terhadap kepribadiannya. Proses pembuatan aplikasi tersebut menggunakan metodologi berorientasi obyek dengan pemodelan visual Unified Modeling Language (UML). Pada tahap implementasi penulis menggunakan perangkat pemrograman berbasis web, Apache2Triad 1.5.2 yang berisi Apache 2.0.53, dan PHP 5.0.4. Aplikasi ini dapat membantu pengguna untuk mengetahui kepribadiannya, sehingga dapat membantu untuk mengembangkannya.

       Sistem pakar (expert system) adalah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer, agar komputer dapat menyelesaikan masalah yang biasa dilakukan oleh para ahli.  Sistem Pakar adalah suatu program komputer yang memperlihatkan derajat keahlian dalam pemecahan masalah di bidang tertentu sebanding dengan seorang pakar. Tes adalah suatu alat yang sudah distandarisasikan untuk mengukur salah satu sifat, kecakapan atau tingkah laku dengan cara mengukur sesuai dengan sampel dari sifat, kecakapan atau tingkah laku.  Kepribadian adalah sistem jiwa raga yang dinamis dalam diri individu yang menentukan penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkungannya.  Jadi tes kepribadian adalah suatu alat untuk mengukur sifat dan tingkah laku manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ruang lingkup dari aplikasi sistem pakar tes kepribadian ini yaitu, Aplikasi sistem pakar tes kepribadian berbasis web ini dibuat dalam 10 sikap hidup sehari-hari yaitu kepercayaan pada diri sendiri, optimisme sesorang, tingkat kehati-hatian, ketergantungan, tingkat mementingkan diri sendiri, menilai watak orang lain, daya tahan menghadapi cobaan, toleransi, ambisi, dan empati. Dan pembuatan prototype Perangkat Lunak dan simulasi penerapan pada situs yang dibuat.

       Analisis dan perancangan aplikasi dengan menggunakan diagram-diagram UML yang merupakan bahasa standar untuk memodelkan aplikasi yang dibangun dengan metodologi berorientasi objek. Gambaran system dibagi menjadi 2 yaitu aliran proses yang digambarkan dengan Use Case Diagram dan aliran kerja yang digambarkan dengan Activity Diagram. Pengujian terhadap aplikasi sistem pakar tes kepribadian ini dilakukan dengan metode Blackbox Testing, yakni hanya menguji fungsi-fungsi yang ada pada aplikasi ini apakah berjalan sesuai keinginan pengguna atau tidak sesuai. Pengujian dilakukan oleh beberapa user dengan katagori umur yang berbeda.

        Proses untuk mengetahui kepribadian seseorang yang diterapkan dalam sistem pakar yang berbasis web dapat membantu user dalam mengetahui kepribadian dirinya, sehingga dapat membantu untuk mengembangkannya. Juga dapat membantu ketersediaan psikolog yang jumlahnya sangat terbatas. Sistem pakar ini dirancang secara interaktif yang bertujuan untuk mempermudah user pada saat tes kepribadian dan menjadikan sistem lebih informatif yang bisa dilakukan kapan saja, dimana saja tanpa tergantung pada tempat dan waktu.  Aplikasi ini dibuat bukan untuk sarana hiburan seperti yang banyak beredar di internet, tetapi aplikasi ini dibangun benar-benar berdasarkan ilmu pengetahuan (base knowledge).

5. Jurnal Psikologi, Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 hal.196

Pengaruh Loneliness Terhadap Internet Addiction Pada Individu Dewasa Awal Pengguna Internet.

Josetta M.R. Tuapattinaja dan Nina Rahayu

Rangkuman Jurnal

      Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh kesepian terhadap kecanduan internet pada individu dewasa awal. Subjek dalam penelitian ini adalah 56 yang pilih dengan incidental sampling. Penelitian ini menggunakan skala kesepian dan skala kecanduan internet. Data dianalisis dengan analisis regresi dan hasilnya adalah r2 = 0,128 dengan F = 7,947 dan p < 0,05. Itu menunjukkan bahwa kesepian memberikan 12,8% dari efek yang efektif pada kecanduan internet pada individu dewasa awal yang menggunakan internet.

Individu dalam tahapan dewasa awal dengan tugas perkembangan membentuk hubungan intim dengan orang lain. Kebutuhan akan intimasi merupakan unsur pokok dalam kepuasan sesuatu. Apabila individu dewasa awal dapat membentuk persahabatan yang sehat dan hubungan dekat yang intim dengan individu lain, maka intimasi akan tercapai. Namun, jika individu tidak berhasil mengembangkan intimasinya, maka individu tersebut akan mengalami isolasi dan merasakan loneliness.

      Loneliness  diartikan oleh Peplau & Perlman sebagai perasaan dirugikan dan tidak terpuaskan yang dihasilkan dari kesenjangan antara hubungan sosial yang diinginkan dan hubungan sosial yang dimiliki. Loneliness selalu muncul sebagai respon terhada ketidakhadiran beberapa atau tipe-tipe hubungan khusus atau lebih tepatnya sebuah respon terhadap ketidakadaan suatu hubungan yang diharapkan. Shaver dan & Rubeinstein mengungkapkan bahwa individu yang mengalami loneliness menunjukkan beberapa reaksi untuk menghadapi loneliness  yang dialaminya, diantaranya melakukan kegiatan aktif (belajar, bekerja, melakukan hobi, membaca, menggunakan internet), membuat kontak sosial (menelpon, chatting, atau mengunjungi seseorang), melakukan kegiatan pasif (menangis, tidur, tidak melakukan apapun) dan melakukan kegiatan selingan yang kurang membangun (menghabiskan uang dan berbelanja). Beberapa aktivitas yang dilakukan individu yang mengalami loneliness tidak dapat menghasilkan kepuasan yang lebih tinggi dalam kehidupan sosialnya. Individu yang mengalami loneliness membutuhkan strategi coping yang lebih aktif dan positif terhadap loneliness yang dialaminya.

     Internet addiction merupakan sebuah sidrom yang ditandai dengan menghabiskan sejumlah waktu yang sangat banyak dalam menggunakan internet dan tidak mampu mengontrol penggunaannya saat online. Orang-orang yang menunjukkan sindrom ini akan merasa cemas, depresi, atau hampa saat tidak online.

      Terdapat pengaruh positif loneliness terhadap internet addiction pada pengguna internet. Loneliness memberikan subjek yang menggunakan internet rata-rata 8-21 jam per minggu untuk menggunakan internet. Internet addiction  dipengaruhi oleh faktor genetik, biologis, pengaruh keluarga (cinta, pola asuh, pembekalan kecakapan hidup), pengaruh budaya, dan pengaruh sosial (role model, pendidikan, agama, norma, dan tekanan teman sebaya)

Referensi :

  1. Triwidodo, Y., dan Dewi, E.K. (2012).  Loneliness smartphone users in term gender differences in class XI students of  SMA N 9 Semarang. Jurnal Psikologi, volume 1, nomor 1, tahun 2012, halaman 193-204. http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/empati. diakses pada tanggal 15 November 2012
  2. 2.Indrawati, S.W. (2009). Pengembangan instrumen tes psikologis berbasis TIK. Jurnal penelitian vol.9 No. 1
  3. Jauhari, J., dan Ibrahim, M. (2010). Intelligent tutoring systemsebagai upaya Inovatif dalam Pembelajaran untuk Pembelajaran Berbantuan Komputer. Jurnal Generic vol. 5 No. 2
  4. Wardiana, W., dan Veronika, V. (2012). Aplikasi Sistem Pakar Tes Kepribadian Berbasis Web.  Jurnal INKOM. Jurnal.informatika.lipi.go.id
  5. Tuapattinaja, J.S., dan Rahayu, N. (2012). Pengaruh Loneliness Terhadap Internet Addiction Pada Individu Dewasa Awal Pengguna Internet.  Jurnal Psikologi, Volume 1, Nomor 1.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: