RSS

Author Archives: moethya26

About moethya26

i'm a simple girl :)

Psikoterapi

PSIKOTERAPI

MUTIA FARIDA (15509805)

3PA01

UNIVERSITAS GUNADARMA

______________________________________________________________________________________________

A. Sejarah Psikoterapi :

Psikoterapi berawal dari upaya menyembuhkan pasien yang menderita penyakit jiwa

  • Berabad-abad yang lalu

Orientasi mistik —> upaya mengusir roh jahat dengan cara tidak manusiawi (mengisolasi, mengikat, memasung, memukul)

  • Philipe Pinel

Melakukan pendekatan bersifat manusiawi, yang berorientasi kasih sayang (love oriented approach) —> mendirikan

  • Anton Mesmer

Mempergunakan teknik hypnosis  & sugesti, teknik hypnosis kemudian digunakan oleh Jean Martin Charcot

  • Paul Dubois

Merumuskan & menekankan peranan penting teknik berbicara (speech technique, talking cure) yang digunakan kepada pasien. Paul Dubois tercatat sebagai “The First Psychotherapiest

  • Joseph Breuer (senior dari Sigmund Freud) & Sigmund Freud

Menggunakan teknik hypnosis & teknik berbicara dalam upaya menyembuhkan pasien2 histeria

  • Pada Breuer —> talking cure dilakukan terhadap pasien dalam keadaan hypnosis

       Pada Sigmund Freud —> talking cure dilakukan terhadap pasien dalam keadaan sadar  (cikal bakal lahirnya psikoanalisis)

B. Pengertian

Psyche   : mind / jiwa

Therapy :  merawat, mengobati, menyembuhkan

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN PSIKOTERAPI ?

                Banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli. Antara lain yaitu bahwa psikoterapi adalah terapi atau pengobatan yang menggunakan cara-cara psikologik, dilakukan oleh seseorang yang terlatih khusus, yang menjalin hubungan kerjasama secara profesional dengan seorang pasien dengan tujuan untuk menghilangkan, mengubah atau menghambat gejala-gejala dan penderitaan akibat penyakit. Definisi yang lain yaitu bahwa psikoterapi adalah cara-cara atau pendekatan yang menggunakan teknik-teknik psikologik untuk menghadapi ketidakserasian atau gangguan mental.

              Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, talking cures telah digunakan orang sejak berabad yang lalu. Misalnya, Soranus dari Ephesus, seorang dokter pada abad pertama Masehi, menggunakan percakapan atau pembicaraan untuk pasien-pasiennya dan mengubah ide-ide yang irasional dari pasien depresi. Kini, dalam terapi kognitif (salah satu jenis psikoterapi), terapis menelusuri cara berpikir yang irasional pada pasien-pasien depresi dan membimbing mereka agar kemudian dapat mengatasinya sendiri.

                Bermula dari Sigmund Freud, pada akhir abad ke-sembilanbelas, yang memaparkan teori psikoanalisisnya, psikoterapi kian berkembang hingga kini. Teknik dan metode yang dicetuskan oleh Freud dapat dikatakan merupakan dasar dari psikoterapi, yang tampaknya, dalam praktek sehari-hari masih tetap digunakan sebagai dasar, apa pun teori yang dianut atau menjadi landasan atau pegangan bagi seseorang yang melakukan psikoterapi.

            Ada beberapa pengertian lain psikoterapi dari  Wohlberg dan Corsini. Menurut Wohlberg, psikoterapi adalah pengobatan dengan cara psikologis dari masalah yang bersifat emosional di mana seseorang terlatih sengaja membangun hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan:

- Menghapus, mengubah atau menghambat gejala

- Yang terganggu pola mediasi perilaku

- Meningkatkan pertumbuhan kepribadian yang positif dan pengembangan.

Sedangkan menurut Corsini, psikoterapi adalah Proses interaksi formal 2 pihak (2 orang/lebih), bertujuan memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distres) pada salah 1 pihak karena tidak berfungsinya / ketidakmampuan pada fungsi kognitif, afeksi atau perilaku, dengan terapis berusaha mengembangkan memelihara atau mengubahnya dengan menggunakan metode2 sesuai pengetahuan & skill, serta bersifat profesional & legal.

C. Ciri Psikoterapi

  1. Proses :  Interaksi 2 pihak, formal, profesional, legal, etis
  2. Tujuan : Perubahan kondisi psikologis individu -à  pribadi yang positif / optimal (afektif, kognitif, perilaku/kebiasaan)
  3. Tindakan, berdasar :

                      – Ilmu (teori2), teknik, skill yang formal

              – Assessment (data yang diperoleh melalui proses assessment – wawancara, observasi, tes,dsb)

D. Tujuan terapi (Korchin) :

  1. Memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar
  2. Mengurangi tekanan emosional
  3. Mengembangkan potensi klien
  4. Mengubah kebiasaan
  5. Memodifikasi struktur kognisi
  6. Memperoleh pengetahuan tentang diri
  7. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi & hubungan  interpersonal
  8. Meningkatkan kemampuan mengambil keputusan
  9. Mengubah kondisi fisik
  10. Mengubah kesadaran diri
  11. Mengubah lingkungan sosial

E. Dasar psikoterapi :

Manusia pada dasarnya bisa dan mungkin untuk dipengaruhi / diubah melalui intervensi psikologi yang direncanakan

F. Jenis-jenis Psikoterapi

a. Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, psikoterapi dibedakan atas:

1 Psikoterapi Suportif:

Tujuan:

- Mendukung funksi-funksi ego, atau memperkuat mekanisme defensi yang ada

- Memperluas mekanisme pengendalian yang dimiliki dengan yang baru dan lebih baik.

- Perbaikan ke suatu keadaan keseimbangan yang lebih adaptif.

Cara atau pendekatan: bimbingan, reassurance, katarsis emosional, hipnosis, desensitisasi, eksternalisasi minat, manipulasi lingkungan, terapi kelompok.

Psikoterapi Reedukatif:

Tujuan:

Mengubah pola perilaku dengan meniadakan kebiasaan (habits) tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan.

Cara atau pendekatan: Terapi perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, psikodrama, dll.

3. Psikoterapi Rekonstruktif:

Tujuan :

Dicapainya tilikan (insight) akan konflik-konflik nirsadar, dengan usaha untuk mencapai perubahan luas struktur kepribadian seseorang.

Cara atau pendekatan: Psikoanalisis klasik dan Neo-Freudian (Adler, Jung, Sullivan, Horney, Reich, Fromm, Kohut, dll.), psikoterapi berorientasi psikoanalitik atau dinamik.

 b. Menurut “dalamnya”, psikoterapi terdiri atas: 

1. ”superfisial”, yaitu yang menyentuh hanya kondisi atau proses pada “permukaan”, yang tidak menyentuh hal-hal yang nirsadar atau materi yangdirepresi.

2. “mendalam” (deep), yaitu yang menangani hal atau proses yang tersimpan dalam alam nirsadar atau materi yang direpresi.

c. Menurut teknik yang terutama digunakan, psikoterapi dibagi menurut teknik perubahan yang digunakan, antara lain psikoterapi ventilatif, sugestif, katarsis, ekspresif, operant conditioning, modeling, asosiasi bebas, interpretatif, dll.

d. Menurut konsep teoretis tentang motivasi dan perilaku, psikoterapi dapat dibedakan menjadi: psikoterapi perilaku atau behavioral (kelainan mental-emosional dianggap teratasi bila deviasi perilaku telah dikoreksi); psikoterapi kognitif (problem diatasi dengan mengkoreksi sambungan kognitif automatis yang “keliru”; dan psikoterapi evokatif, analitik, dinamik (membawa ingatan, keinginan, dorongan, ketakutan, dll. yang nirsadar ke dalam kesadaran). Psikoterapi kognitif dan perilaku banyak bersandar pada teori belajar, sedangkan psikoterapi dinamik berdasar pada konsep-konsep psikoanalitik Freud dan pasca-Freud.

e. Menurut setting-nya, psikoterapi terdiri atas psikoterapi individual dan kelompok (terdiri atas terapi marital/pasangan, terapi keluarga, terapi kelompok)

f.  Menurut nama pembuat teori atau perintis metode psikoterapeutiknya, psikoterapi dibagi menjadi psikoanalisis Freudian, analisis Jungian, analisis transaksional Eric Berne, terapi rasional-emotif Albert Ellis, konseling non-direktif Rogers, terapi Gestalt dari Fritz Perls, logoterapi Viktor Frankl, dll.

g. Menurut teknik tambahan khusus yang digabung dengan psikoterapi, misalnya narkoterapi, hypnoterapi, terapi musik, psikodrama, terapi permainan dan peragaan (play therapy), psikoterapi religius, dan latihan meditasi.

h. Yang belum disebutkan dalam pembagian di atas namun akhir-akhir ini banyak dipakai antara lain: konseling, terapi interpersonal, intervensi krisis.

G.Teknik-teknik Psikoterapi

Sampai saat ini, sebagaimana yang dikemukakan oleh Atkinson, terdapat teknik psikoterapi yang digunakan oleh para psikiater atau psikolog yaitu:

1.Teknik terapi psikoanalisis, bahwa di dalam tiap-tiap individu terdapat kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan yang menyebabkan konflik internal tidak terhindarkan. Konflik yang tidak disadari itu memiliki pengaruh yang kuat pada perkembangan kepribadian individu, sehingga menimbulkan stres dalam kehidupan. Teknik ini menekankan fungsi pemecahan masalah dari ego yang berlawanan dengan impuls seksual dan agresif dari id. Model ini banyak dikembangkan dalam Psikoanalisis yang dipelopori oleh Sigmund Freud.

Menurut Freud, ada beberapa teknik penyembuhan penyakit mental, diantaranya yaitu dengan mempelajari :
– Hipnotis banyak digunakan oleh psikiater Perancis, dengan cara menghilangkan ingatan-ingatan pasien yang mengandung simptomsimptom, kemudian psikiater memberikan ingatan baru berupa sugesti-sugesti yang kuat, yang dapat memulihkan kesehatan pasien. Freud kurang tertarik dengan teknik ini, sebab tingkat keampuhannya diragukan.

- Chatarsis, yaitu pembebasan dan pelepasan ketegangan atau kecemasan dengan jalan mengalami kembali dan mencurahkan keluar kejadian-kejadian traumatis di masa-masa lalu, yang semula dilakukan dengan jalan menekan emosi-emosinya ke alam ketidaksadaran. Teknik ini digunakan dengan cara berbicara (talking cure). Cara kerjanya adalah pasien disuruh untuk menguraikan simptom secara rinci yang mengganggu jiwanya, setelah simptom itu muncul lalu psikiater segera menghilangkannya.

- Asosiasi bebas, yaitu membiarkan pasien menceritakan keseluruhan pengalamannya, baik yang mengandung symptom maupun tidak. Cerita yang dikemukakan tidak harus runtut, teratur, logis ataupun penuh makna. Cerita itu betapapun memalukan tetapi tetap harus diceritakan. Setelah simptom diketahui, psikiater mudah memberikan terapinya.

- Analisis mimpi. Mimpi adalah jalan kerajaan menuju alam bawah sadar. Ia merupakan keinginan tahu ketakutan bawah sadar dalam bentuk yang disangkal. Mimpi merupakan bentuk, isi, dan kegiatan paling primitif dari jiwa seseorang. Setelah pasien menceitakan mimpinya, psikiater mengetahui rahasia paling dalam di dalam jiwa pasien. Freud membedakan antara isi mimpi manifes (jelas, sadar) dan isi mimpi laten (tersembunyi, tidak disadari). Dengan mengungkap isi manifes dari suatu mimpi dan kemudian mengasosiasi-bebaskan isi mimpi, ahli analisis dan klien berupaya mengungkap makna bawah sadar.
Teknik terapi Psikoanalisis Freud pada perkembangan selanjutnya disempurnakan oleh Jung dengan teknik terapi Psikodinamik.

2. Teknik terapi perilaku, yang menggunakan prinsip belajar untuk memodifikasi perilaku individu. Teknik ini antara lain :
– Desensitisasi sistematik dipandang sebagai proses deconditioning atau counterconditioning. Prosedurnya adalah memasukkan suatu respons yang bertentangan dengan kecemasan , seperti relaksasi. Individu belajar untuk relaks dalam situasi yang sebelumnya menimbulkan kecemasan.

- Flooding adalah prosedur terapi perilaku di mana orang yang ketakutan memaparkan dirinya sendiri dengan apa yang membuatnya takut, secara nyata atau khayal, untuk periode waktu yang cukup panjang tanpa kesempatan meloloskan diri.

- Penguatan sistematis (systematic reinforcement) didasarkan atas prinsip operan, yang disertai pemadaman respons yang tidak diharapkan. Pengkondisian operan disertai pemberian hadiah untuk respons yang diharapkan dan tidak memberikan hadiah untuk respons yang tidak diharapkan.

- Pemodelan (modeling) yaitu mencontohkan dengan menggunakan belajar observasionnal. Cara ini sangat efektif untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan, karena memberikan kesempatan kepada klien untuk mengamati orang lain mengalami situasi penimbul kecemasan tanpa menjadi terluka. Pemodelan lazimnya disertai dengan pengulangan perilaku denganpermainan simulasi (role-playing).

- Regulasi diri melibatkan pemantauan dan pengamatan perilaku diri sendiri, pengendalian atas kondisi stimulus, dan mengembangkan respons bertentangan untuk mengubah perilaku maladaptif.

3.Teknik terapi kognitif perilaku, yaitu teknik memodifikasi perilaku dan mengubah keyakinan maladaptif. Ahli terapi membantu individu mengganti interpretasi yang irasional terhadap terhadap suatu peristiwa dengan interpretasi yang lebih realistik. Atau, membantu pengendalian reaksi emosional yang terganggu, seperti kecemasan dan depresi dengan mengajarkan mereka cara yang lebih efektif untuk menginterpretasikan pengalaman mereka.

4.Teknik terapi humanistik, yaitu teknik dengan pendekatan fenomenologi kepribadian yang membantu individu menyadari diri sesungguhnya dan memecahkan masalah mereka dengan intervensi ahli terapi yang minimal. Gangguan psikologis yang diduga timbul jika proses pertumbuhan potensi dan aktualisasi diri terhalang oleh situasi atau oleh orang lain. Carl Rogers, yang mengembangkan psikoterapi yang berpusat pada klien (client-centered-therapy), percaya bahwa karakteristik ahli terapi yang penting untuk kemajuan dan eksplorasi-diri klien adalah empati, kehangatan, dan ketulusan.

5.Teknik terapi eklektik atau integrative, yaitu memilih dari berbagai teknik terapi yang paling tepat untuk klien tertentu, ketimbang mengikuti dengan kaku satu teknik tunggal. Ahli terapi mengkhususkan diri dalam masalah spesifik, seperti alkoholisme, disfungsi seksual, dan depresi. Keenam, teknik terapi kelompok dan keluarga. Terapi kelompok adalah teknik yang memberikan kesempatan bagi individu untuk menggali sikap dan perilakunya dalam interaksi dengan orang lain yang memiliki masalah serupa. Sedang terapi marital dan terapi keluarga adalah bentuk terapi kelompok khusus yang membantu pasangan suami-istri, atau hubungan orang tua dan anak, untuk mempelajari cara yang lebih efektif, untuk berhubungan satu sama lain dan untuk menangani berbagai masalahnya.

H. Terapi —> efektif jika :

- Adanya pemulihan dalam hubungan interpersonal

- Adanya keterampilan coping yang lebih baik

- Pertumbuhan personal

I. Tahap-tahap psikoterapi :

1. Wawancara awal

  • Dikemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan2, yang akan dilakukan

terapi & diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama,

keterbatasan, dll)

  • Akan diketahui apa yang menjadi masalah klien – rapport, klien menceritakan masalah (ada

komitmen untuk mengkomunikasikan), terapis & klien bekerjasama

2. Proses terapi

  • Mengkaji pengalaman klien, hubungan terapis & klien, pengenalan – penjelasan
  • Pengartian perasaan & pengalaman klien

3. Pengertian ke tindakan

  • Terapis bersama klien mengkaji & mendiskusikan apa yang telah dipelajari klien selama terapi

berlangsung, penngetahuan klien akan aplikasinya nanti di perilaku & kehidupan sehari-hari

4. Mengakhiri terapi

  • Terapi dapat berakhir jika tujuan telah tercapai, klien tidak melanjutkan lagi, atau terapis tidak \dapat lagi  menolong kliennya (merujuk ke ahli lain)
  • Beberapa pertemuan sebelum terapi berakhir klien diberitahu à klien disiapkan untuk menjadi

lebih mandiri  menghadapi lingkungannya nanti

Sumber :

Wikipedia-Psikoterapi, Jum’at, 16 Maret 2012

http://id.wikipedia.org/wiki/Psikoterapi

Kitab Psikologi-Terapi Psikologi :  Jum’at, 16 Maret 2012

http://zainulanwar.staff.umm.ac.id/download-as-pdf/umm_blog_article_413.pdfHartosujono,%20Diktat%20Psikoterapi,Universitas%20Sarjanawiyata%20Tamansiswa,Yogyakarta:%20Fakultas%20Psikologi

Psikoterati- Tes Pengantar, Jum’at 16 Maret 2012

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=psikoterapi&source=web&cd=3&ved=0CEIQFjAC&url=http%3A%2F%2Fsrini.staff.gunadarma.ac.id%2FDownloads%2Ffiles%2F13996%2Ftespengantr-fix.doc&ei=uQhjT-bzHoW8rAeEtqi9Bw&usg=AFQjCNFXJjp23sIXhGI3V093o0qFDc-WIg&cad=rja

Psikoterapi – Sylvia D. Elvira, Jum’at 16 Maret 2012

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=psikoterapi&source=web&cd=5&ved=0CE4QFjAE&url=http%3A%2F%2Fxa.yimg.com%2Fkq%2Fgroups%2F20899393%2F125933547%2Fname%2FPsikoterapi.doc&ei=XCRjT5rmMIiJrAeTk5i9Bw&usg=AFQjCNExih8fJQkIWWpEQh0oodRDtCCqrA&cad=rja

 
 

Psikologi Lintas Budaya : Kebudayaan Jawa Tengah

MAKALAH SOFTSKILL : PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA

KEBUDAYAAN JAWA TENGAH

Disusun Oleh :

LAILATUL FAIZAH (15509489)

MUTIA FARIDA (15509805)

PANGESTIKA RAHADYANI (10509788)

YESSICA HERA PRATIWI (11509975)

TUTI SETIYAWATI (11509445)

UNIVERSITAS GUNADARMA

2011

____________________________________________________________________________

BAB I

PENDAHULUAN

 1.1       Latar Belakang

            Keunikan Jawa Tengah terletak pada budaya serta tradisi luhur dan estetis yang tetap terjaga, disertai dengan keramahan, jiwa kewirausahaan yang tangguh dan keterbukaan terhadap inovasi.

            Sejarah menunjukkan kedekatan hubungan antara orang Jawa dengan alam, pegunungan, ngarai, dan pantai yang sangat mewarnai karakter budaya dan tradisi Jawa Tengah dan tercermin pada kriya, olah seni dan mahakarya budaya yang penuh makna.

            Kreatifitas yang muncul dari tangan-tangan orang Jawa, merupakan bentuk nyata dari cipta, rasa, dan karsa, yang terinspirasi dari makrokosmos yang merangkum mikrokosmos.

            Kekuatan inspirasi jagat raya, olah kreatifitas dan etos kerja keras orang Jawa  menghasilkan antara lain Borobudur, Prambanan, Wayang, Gamelan, Topeng, Keris, dan Batik, yang menjadi warisan budaya dunia karena setiap artefak tersebut membawa serta kecantikan wujud dan kedalaman makna bagi kehidupan manusia secara universal.

1.2       Fenomena yang terjadi pada masyarakat

            Pada zaman sekarang masyarakat Jawa Tengah sebagian besar merantau ke kota-kota besar khususnya ibukota untuk mengadu nasib. Apakah masyarakat urban ini masih mengetahui dan mengikuti budaya asal mereka apa mereka sudah mulai meninggalkannya ?

 1.3       Tujuan Penelitian

                        Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jauh lebih dalam tentang kebudayaan  Jawa Tengah mulai dari tarian, alat musik , dan upacara adat.

1.4       Metode Penelitian

  1. Pendekatan Penelitian

            Pada penelitian ini kami ingin mengetahui lebih dalam tentang budaya Jawa Tengah. Sejarah budaya tersebut mulai ada, oleh karena itu kami melakukan pendekatan kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang kami gunakan adalah dengan teknik observasi dan wawancara.

  1. Subjek Penelitian

            Pada penelitian ini kami memilih subjek dengan menggunakan teknik secara sample. Subjek yang kami ambil adalah pria yang berusia 47 dan 57 tahun.

  1. Tahap – Tahap penelitian yang kami lakukan antara lain :
    1. Menentukan fenomena atau masalah yang akan diambil
    2. Mencari teori yang berhubungan dengan permasalahan
    3. Menentukan teknik pengumpulan subjek
    4. Menentukan lokasi pengambilan data
    5. Membuat  pedoman observasi dan wawancara
    6. Melakukan pengambilan data
    7. Analisis
    8. Teknik Kumpul Data

            Pada penelitian ini kami menggunakan teknik pengumpulan data khas penelitian kualitatif yaitu observasi dan wawancara. Adapun teknik observasi yang kami pilih adalah observasi non partisipan dimana dalam observasi ini kami hanya mengamati perilaku secara alamiah, tidak turun langsung ke dalam penelitian dan kehidupan subjek. Teknik wawancara yang kami gunakan adalah wawancara terstruktur dan terbuka, kami membuat pedoman wawancara singkat secara garis besar dan mewancarai subjek yang melakukan dengan menggunakan bahasa informal untuk dapat menggali lebih jauh.

  1. Alat Bantu Kumpul Data

Dalam melakukan pengumpulan data kami menggunakan berbagai macam alat seperti alat tulis, dan alat perekam suara.

BAB II

PEMBAHASAN

 2.1       Tinjauan Pustaka

            Seni Budaya

  1. Gamelan Jawa

Gamelan Jawa merupakan Budaya Hindu yang digubah oleh Sunan Bonang, guna mendorong kecintaan pada kehidupan Transedental (Alam Malakut)”Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang. Sampai saat ini tembang tersebut masih dinyanyikan dengan nilai ajaran Islam, juga pada pentas-pentas seperti: Pewayangan, hajat Pernikahan dan acara ritual budaya Keraton.

  1. Keris Jawa

Keris dikalangan masyarakat di jawa dilambangkan sebagai symbol “ Kejantanan “ dan terkadang apabila karena suatu sebab pengantin prianya berhalangan hadir dalam upacara temu pengantin, maka ia diwakili sebilah keris. Keris merupakan lambang pusaka. Di kalender masyarakat jawa mengirabkan pusaka unggulan keraton merupakan kepercayaan terbesar pada hari satu sura. Keris pusaka atau tombak pusaka merupakan unggulan itu keampuhannya bukan saja karena dibuat dari unsure besi baja, besi, nikel, bahkan dicampur dengan unsure batu meteorid yang jatuh dari angkasa sehingga kokoh kuat, tetapi cara pembuatannya disertai dengan iringan doa kepada sang maha pencipta alam ( Allah SWT ) dengan duatu apaya spiritual oleh sang empu. Sehingga kekuatan spiritual sang maha pencipta alam itu pun dipercayai orang sebagai kekuatan magis atau mengandung tuah sehingga dapat mempengaruhi pihak lawan menjadi ketakutan kepada pemakai senjata pusaka itu.

  1. KesenianTarian Jawa

Tarian merupakan bagian yang menyertai perkembangan pusat baru ini. Ternyata pada masa kerajaan dulu tari mencapai tingkat estetis yang tinggi.  Jika dalam lingkungan rakyat tarian bersifat spontan dan sederhana, maka dalam lingkungan istana tarian mempunyai standar, rumit, halus, dan simbolis.  Jika ditinjau dari aspek gerak, maka pengaruh tari India yang terdapat pada  tari-tarian istana Jawa terletak pada posisi tangan, dan di Bali ditambah dengan gerak mata.
Tarian yang terkenal ciptaan para raja, khususnya di Jawa, adalah bentuk teater tari seperti wayang wong dan bedhaya ketawang. Dua tarian ini merupakan pusaka raja Jawa. Bedhaya Ketawang adalah tarian yang dicipta oleh raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613-1646) dengan berlatarbelakang mitos percintaan antara raja Mataram pertama (Panembahan Senopati) dengan Kangjeng Ratu Kidul (penguasa laut selatan/Samudra Indonesia) (Soedarsono, 1990). Tarian ini ditampilkan oleh sembilan penari wanita.

  1. Kesenian Wayang

1)      Wayang Kulit Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa. Pertunjukan Kesenian wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animism dan dynamisme. Menurut Kitab Centini, tentang asal-usul wayang Purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang/Kediri. Sektar abad ke 10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Ceritera Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.

2)      Wayang Kulit Gagrag Banyumasan

Wayang Kulit Gagrag Banyumasan adalah jenis pertunjukan wayang kulit yang bernafas Banyumas. Lakon-lakon yang disajikan dalam pementasan tidak berbeda wayang kulit purwo, yaitu bersumber dari kitab Mahabarata dan Ramayana. Spesifikasi wayang kulit gagrag Banyumasan adalah terletak pada tehnik pembawaannya yang sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya masyarakat setempat yang memilik pola kehidupan tradisional agraris.

3)      Wayang Bocah

Berbagai macam pertunjukan kesenian yang anda lihat di Solo belum lengkap rasanya sebelum melihat bertunjukan wayang bocah biasanya pernain wayang adalah orang dewasa namun seperti namanya, wayang ini dimainkan anak anak atau dalam bahasa jawa disebut bocah. Meskipun demikian kepiawaian mereka bermain tak kalah dengan wayang orang yang dimainkan orang dewasa. Bahkan selain melihat pertunjukannya. , juga dapat melihat latihannya dengan mengunjungi sanggar tari Wayang Bocah Suryo Sumirat di Mangkunegaran atau Meta Budaya di Kampung Baluwarti.

4)      Wayang Orang Sriwedari

Wayang Orang berkembang sejak abad XVIII. Diilhami dari drama yang telah berkembang di Eropa, KGPAA Mangkunegoro I di Surakarta menciptakan Wayang Orang, bnamuiuntidak berkembang lama. pada saat Paku Buwono X membangun Sriwedari sebagai taman hiburan untuk umum dan diresmikan pada tahun 1899, diadakan pertunjukan Wayang Orang yang kemudian hidup sampai sekarang. Wayang Orang Sriwedari telah berjasa besar ikut serta melestarikan kebudayaan bangsa,yaitu seni wayang orang, seni tari, seni busana, seni suara serta seni karawitan.

5)      Wayang Golek Menak

Dijaman penyiaran agama Islam masuk ke wilayah Pulau Jawa khususnya diwilayah Pantura Pulau Jawa mengalami hambatan ‑terutama diwilayah Kota Pemalang sebagian masyarakat banyak yang menganut agama Hindu. Karena daerah Pemalang merupakan tanah perdikan dari Kerajaan Majapahit.
Untuk dapat mempengaruhi ajaran‑ajaran Islam para sunan wali dan ulama syiar dengan menggunakan wayang sebagai medianya. Di Kabupaten Pemalang ada beberapa jenis wayang yang tumbuh dan subur diantaranya : wayang kulit, wayang kemprah, wayang tutur, wayang golek cepak, wayang golek badong, wayang golek menak.

Diantara wayang yang kami sebutkan di atas wayang kulit dan wayang golek menak yang mendapat hati di masyarakat. Untuk itu, kami mengangkat wayang golek menak sebagai kesenian unggulan. Bentuk wayang tak ubahnya dengan wayang golek di daerah kami, terbuat dari kayu, dengan wajah tiga dimensi yang menggambarkan tokoh ‑ tokoh pada masa dahulu yang bersumber dari tokoh legenda dan tokoh islam.

Cerita mengambil dari dua sumber, bisa menceritakan ajaran ‑ ajaran Islam dan cerita ‑cerita daerah setempat , tinggal menurut apa keinginan masyarakat atau kehendak yang punya hajat ataupun panitia.

Ke Khasan Wayang Golek MenakCerita daerah setempat dengan cerita yang tidak dimiliki daerah lain.Gending. Gending iringan adaiah gending cengkok khusus daerah setempat Pernalangan Yang tidak di ajarkan di pawiyatan seperti iringan wayang kulit misainya.Sastra dan Sabet. Sastra kadang muncul dengan khas wayang golek menak serta sabet atau gerak Wayang golek.

  1. Produk Khas

1)      Batik (Batik of Central Java) Salah satu jenis produk sandang yang berkembang pesat di Jawa tengah sejak beberapa dekade, bahkan beberapa abad yang lalu, adalah kerajinan batik. Sebagian besar masyarakat Indonesia telah mengenal batik baik dalam coraknya yang tradisional maupun yang modern. Pada umumnya batik digunakan untuk kain jarik, kemeja, sprey, taplak meja, dan busana wanita. Mengingat bahwa jenis produk ini amat dipengaruhi oleh selera konsumen dan perubahan waktu maupun model, maka perkembangan industri batik di Jawa Tengah juga mengalami perkembangan yang cepat baik menyangkut rancangan, penampilan, corak dan kegunaannya, disesuaikan dengan permintaan dan kebutuhan pasar baik dalam maupun luar negeri. Tradisonal secara historis berasal dari zaman nenek moyang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik di Jawa Tengah mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini. Corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri. Sentra produksi batik di Jawa Tengah banyak dijumpai di Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kota Surakarta, dan Kabupaten Sragen. Dari sisi permintaan dan keunikan produk, peluang usaha di bidang industri batik masih terbuka luas dan sangat menguntungkan. Pemasaran batik selain untuk konsumsi lokal juga telah menembus pasar Eropa dan Amerika.

2)      Mebel Ukir

Salah satu produk kayu olahan yang pertumbuhannya amat pesat dalam beberapa dekade terakhir ini adalah produk mebel dan furniture. Berawal dari pekerjaan rumah tangga, produk mebel kini telah menjadi industri yang cukup besar dengan tingkat penyerapan tenaga kerja terdidik yang tidak sedikit. Produk jenis ini secara prinsip dibagi dalam dua kategori yaitu mebel untuk taman (garden) dan interior dalam rumah (indoor).

Mebel dari Jawa Tengah ( furniture from Central Java )sudah terkenal sejak lama baik karena kualitas, seni maupun harganya yang kompetitif. Banyak konsumen baik dalam maupun luar negeri yang memesan furniture antik, yang walaupun dibuat baru, namun diproses seolah-olah merupakan produk kuno (antik). Ada pula produk furniture yang dibuat dari bonggol (tonggak) pohon yang dengan sentuhan-sentuhan seni berubah menjadi produk furniture yang sangat menarik dan memiliki nilai jual tinggi. Sedangkan corak dan gaya fungsional dan modern juga berkembang pesat bersamaan meningkatnya permintaan untuk kebutuhan perkantoran dan hotel yang pembangunannya tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir ini, baik di dalam maupun luar negeri.

Produk furniture, khususnya ukiran dikembangkan oleh para pengrajin Jawa Tengah berdasarkan keterampilan mengukir yang diwariskan oleh para leluhurnya. Disamping itu, di Kota Semarang terdapat sekolah kejuruan yang mengkhususkan diri di bidang design dan teknik perkayuan (PIKA) yang menghasilkan lulusan yang memiliki keahlian tinggi. Para luklusan PIKA tersebut telah ikut menjadi tulang punggung industri permebelan di Jawa Tengah hingga mampu menghasilkan produk berkualitas dan memiliki daya saing tinggi yang tidak kalah dengan produk luar negeri.

Produksi mebel Jawa Tengah berkembang dan tumbuh pesat seiring dengan permintaan yang meningkat dari dalam maupun luar negeri, baik desain, konstruksi, corak maupun pewarnaannya. Sebagian bahannya terbuat dari kayu, dan saat ini makin bervariasi karena bahan bakunya tidak lagi semata-mata kayu jati tetapi juga mulai banyak menggunakan kayu mahoni dan jenis lainnya, serta bahan logam.

Sentra-sentra produksi mebel di Jawa Tengah tersebar di Kota Semarang, Kabupaten Jepara, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Kudus, Kabupaten Rembang, Kabupaten Blora, Batang, Sragen. Investasi di produk ini masih terbuka dengan persaingan yang cukup ketat.

3)      Rokok

Rokok sigaret kretek merupakan salah satu produk Jawa Tengah yang cukup dikenal luas. terdapat berbagai tipe dan merk rokok sigaret kretek yang dihasilkan, baik oleh pengusaha yang dikategorikan sebagai K-1000 (memproduksi rokok di bawah 1000 batang per hari) hingga yang merupakan pabrikan modern dan besar seperti Jarum, Jambu Bol, Sukun, Tapel Kuda, dan lain-lain.

Rokok sigaret kretek merupakan slaah satu jenis produk rokok yang dihasilkan melalui proses pencampuran antara rajangan tembakau, cengkeh, dan diolah dengan campuran aroma tertentu yang menimbulkan rasa dan kenikmatan khas. beberapa jenis rokok K-1000 menambahkan bahan baku lain seperti kemenyan dan dibungkus dengan daun tertentu. Bahan baku utama yaitu tembakau umumnya berasal dari Jawa Tengah sendiri yakni dari Kabupaten Wonosobo, Temanggung, Kendal, Boyolali, dan Batang.

Sentra produksi rokok tersebar di Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kota Surakarta, Kabupaten Surakarta, Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Karanganyar. Sedangkan pasarnya tidak hanya dalam negeri tetapi juga luar negeri, khususnya ASEAN.

  1. Tradisi Upacara Adat
    1. Upacara adat Tingkepan atau Mintoni sendiri merupakan sebuah upacara adat yang dilaksanakan untuk memperingati kehamilan pertama ketika kandungan sang ibu hamil tersebut memasuki bulan ke tiga, lima dan puncaknya ke tujuh bulan. Adapun maksud dan tujuan dari digelarnya upacara adat ini adalah untuk mensucikan calon ibu berserta bayi yang di kandungnya, agar selalu sehat segar bugar dalam menanti kelahirannya yang akan datang.

Kronologi singkat dari upacara tingkepan ini sendiri adalah menggelar selametan pada bulan ketiga, lima dan kemudian puncaknya adalah pada bulan ke tujuh sang ibu hamil pun menggelar sebuah prosesi upacara berupa memandikan atau mensucikan calon ibu berserta bayi yang di kandung, agar kelak segar bugar dan selamat dalam menghadapi kelahirannya.

  1. Pertama-tama sang calon ayah dan calon ibu yang akan melakukan upacara Tingkepan duduk untuk menemui tamu undangan yang hadir untuk menyaksikan upacara Tingkepan ini di ruang tamu atau ruang lain yang cukup luas untuk menampung para undangan yang hadir. Setelah semua undangan hadir maka barulah kemudian sang calon ibu dan ayah inipun di bawa keluar untuk melakukan ritual pembuka dari acara tingkepan itu sendiri yakni sungkeman. Sungkeman adalah sebuah prosesi meminta maaf dan meminta restu dengan cara mencium tangan sambil berlutut. Kedua calon ayah dan calon ibu dengan diapit oleh kerabat dekat diantarkan sungkem kepada eyang, bapak dan ibu dari pihak pria, kepada bapak dan ibu dari pihak puteri untuk memohon doa restu. Baru kemudian bersalaman dengan para tamu lainnya.
  2. Setelah acara sungkeman selesai barulah kemudian digelar upacara inti yakni memandikan si calon ibu setelah sebelumnya peralatan upacara tersebut telah dipersiapkan. Alat-alat dan bahan dalam upacara memandikan ini sendiri adalah antara lain bak mandi yang dihias dengan janur sedemikian rupa hingga kelihatan semarak, alas duduk yang terdiri dari klosobongko, daun lima macam antara lain, daun kluwih, daun alang-alang, daun opo-opo, daun dadapserat dan daun nanas. Jajan pasar yang terdiri dari pisang raja, makanan kecil, polo wijo dan polo kependem, tumpeng rombyong yang terdiri dari nasi putih dengan lauk pauknya dan sayuran mentah. Baki berisi busana untuk ganti, antara lain kain sidoluhur; bahan kurasi; kain lurik yuyu sukandang dan morikputih satu potong; bunga telon yang terdiri dari mawar, melati dan kenanga; cengkir gading dan parang serta beberapa kain dan handuk.
  3. Setelah semua bahan lengkap tersedia maka barulah kemudian si calon ibu pun di mandikan. Pertama-tama yang mendapat giliran memandikan biasanya adalah nenek dari pihak pria, nenek dari pihak wanita, dan kemudian barulah secara bergiliran ibu dari pihak pria, ibu dari pihak wanita, para penisepuh yang seluruhnya berjumlah tujuh orang dan kesemuanya dilakukan oleh ibu-ibu. Disamping memandikan, para nenek dan ibu-ibu ini pun diharuskan untuk memberikan doa dan restunya agar kelak calon bayi yang akan dilahirkan dimudahkan keluarnya, memiliki organ tubuh yang sempurna (tidak cacat), dan sebagainya.
  4. Sementara itu, ketika calon ibu dimandikan maka yang dilakukan oleh calon ayah berbeda lagi yakni mempersiapkan diri untuk memecah cengkir (kelapa muda) dengan parang yang telah diberi berbagai hiasan dari janur kelapa. Proses memecah cengkir ini sendiri hanya sekali ayun dan harus langsung terbelah menjadi dua bagian. Maksud dari hanya sekali ayun dan harus langsung terbelah ini sendiri adalah agar kelak ketika istrinya melahirkan sang anak tidak mengalami terlalu banyak kesulitan. Setelah semua upacara itu terlewati, langkah selanjutnya adalah sang calon ayah dan calon ibu yang telah melakukan upacara tersebut pun diiring untuk kembali masuk kamar dan mengganti pakaian untuk kemudian bersiap melakukan upacara selanjutnya yakni memotong janur. Prosesi memotong janur ini sendiri adalah pertama-tama janur yang telah diambil lidinya itu dilingkarkan ke pinggang si calon ibu untuk kemudian dipotong oleh si calon ayah dengan menggunakan keris yang telah dimantrai. Proses memotong ini sama seperti halnya ketika memecah cengkir, sang calon ayah harus memotong putus pada kesempatan pertama.
  1. Setelah selesainya upacara memotong janur ini pun kemudian dilanjutkan dengan upacara berikutnya yakni upacara brojolon atau pelepasan. Upacara brojolan ini sendiri adalah sebuah upacara yang dilakukan oleh calon ibu sebagai semacam simulasi kelahiran. Dalamupacara ini pada kain yang dipakai oleh calon ibu dimasukkan cengkir gading yang bergambar tokoh pewayangan yakni Batara Kamajaya dan Batari Kamaratih. Tugas memasukkan cengkir dilakukan oleh ibu dari pihak wanita dan ibu dari pihak pria bertugas untuk menangkap cengkir tersebut di bawah (antara kaki calon ibu). Ketika cengkir itu berhasil ditangkap maka sang ibu itu pun harus berucap yang jika dibahasa Indonesiakan berbunyi, “Pria ataupun wanita tak masalah. Kalau pria, hendaknya tampan seperti Batara Kamajaya dan kalau putri haruslah cantik layaknya Batari Kamaratih.” Kemudian seperti halnya bayi sungguhan, cengkir yang tadi ditangkap oleh ibu dari pihak pria ini pun di bawa ke kamar untuk ditidurkan di kasur.
  2. Langkah berikutnya yang harus dilakukan oleh calon ibu ini pun harus memakai tujuh perangkat pakaian yang sebelumnya telah disiapkan. Kain-kain tersebut adalah kain khusus dengan motif tertentu yaitu kain wahyutumurun, kain sidomulyo, kain sidoasih, kain sidoluhur, kain satriowibowo, kain sidodrajat, kain tumbarpecah dan kemben liwatan. Pertama, calon ibu mengenakan kain wahyutumurun, yang maksudnya agar mendapatkan wahyu atau rido yang diturunkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Kedua, calon ibu mengenakan kain sidomulyo, yang maksudnya agar kelak hidupnya mendapatkan kemuliaan. Ketiga, calon ibu mengenakan kain sidoasih, maksudnya agar kelak mendapatkan kasih sayang orang tua, maupun sanak saudara. Keempat, calon ibu mengenakan busana kain sidoluhur, maksud yang terkandung di dalamnya agar kelak dapat menjadi orang yang berbudi luhur. Kelima, calon ibu mengenakan kain satriowibowo, maksudnya agar kelak dapat menjadi satria yang berwibawa. Keenam, calon ibu mengenakan busana kain sidodrajat, terkandung maksud agar kelak bayi yang akan lahir memperoleh pangkat dan derajat yang baik. Ketujuh, calon ibu mengenakan busana kain tumbarpecah dan kemben liwatan yang dimaksudkan agar besok kalau melahirkan depat cepat dan mudah seperti pecahnya ketumbar, sedangkan kemben liwatan diartikan agar kelak dapat menahan rasa sakit pada waktu melahirkan dan segala kerisauan dapat dilalui dengan selamat. Sambil mengenakan kain-kain itu, ibu-ibu yang bertugas merakit busana bercekap-cakap dengan tamu-tamu lainnya tentang pantas dan tidaknya kain yang dikenakan oleh calon ibu. Kain-kain yang telah dipakai itu tentu saja berserakan dilantai dan karena proses pergantiannya hanya dipelorotkan saja maka kain-kain tersebutpun bertumpuk dengan posisi melingkar layaknya sarang ayam ketika bertelur. Dengan tanpa dirapikan terlebih dahulu kain-kain tersebut kemudian dibawa ke kamar.
  3. Prosesi selanjutnya sekaligus sebagai penutup dari rangkaian prosesi upacara tersebut adalah calon ayah dengan menggunakan busana kain sidomukti, beskap, sabuk bangun tulap dan belankon warna bangun tulip, dan calon ibu dengan mengenakan kain sidomukti kebaya hijau dan kemben banguntulap keluar menuju ruang tengahdimana para tamu berkumpul. Di sini sebagai acara penutup sebelum makan bersama para tamu, terlebih dahulu dilakukan pembacaan doa dengan dipimpin oleh sesepuh untuk kemudian ayah dari pihak pria pun memotong tumpeng untuk diberikan kepada calon bapak dan calon ibu untuk dimakan bersama-sama. Tujuan dari makan timpeng bersama ini sendiri adalah agar kelak anak yang akan lahir dapat rukun pula seperti orang tuanya. Pada waktu makan ditambah lauk burung kepodang dan ikan lele yang sudah digoreng. Maksudnya agar kelak anak yang akan lahir berkulit kuning dan tampan seperti burung kepodang. Sedangkan ikan lele demaksudkan agar kelak kalau lahir putri kepala bagian belakang rata, supaya kalau dipasang sanggul dapat menempel dengan baik. Usai makan bersama, acara dilanjutkan upacara penjualan rujak untuk para tamu sekaligus merupakan akhir dari seluruh acara tingkepan atau mitoni. Sambil bepamitan, para tamu pulang degan dibekali oleh-oleh, berupa nasi kuning yang ditempatkan di dalam takir pontang dan dialasi dengan layah. Layah adalah piring yang terbuat dari tanah liat. Sedangkan, takir pontang terbuat dari daun pisang dan janur kuning yang ditutup kertas dan diselipi jarum berwarna kuning keemasan.
  1. Upacara Pernikahan Adat Jawa Tengah

Sebelum melaksanakan upacara adat perkawinan, yang pertama kali harus dilakukan adalah memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar acara dapat berlangsung dengan baik dari awal sampai akhir.

Masyarakat Jawa Tengah dan sekitarnya akrab dengan budaya leluhur, bila akan melaksanakan sebuah hajatan, biasanya tak akan lupa menyediakan sesajen di berbagai tempat tertentu, khususnya di sekitar rumah.

Prosesi Upacara Pernikahan Adat Jawa Tengah adalah sebagai berikut:

  1. a.      Bersih Lahir Batin

Sebelum kedua mempelai terikat perkawinan, Sebelum pesta perkawinan tradisonal ini dilangsungkan, keduanya harus dibersihkan terlebih dahulu baik lahir maupun batin. Tujuannya agar kedua calon mempelai benar-benar bersih dari segala hal dan siap menyongsong status sebagai suami istri dalam keadaan bersih.

  1. b.      Midodareni

Midodareni adalah acara perkenalan dan silaturahmi antar keluarga. Dari pihak pria dilakukan oleh sesepuh dan keluarga dekat pengantin pria. Selain itu wakil orang tua pengantin pria juga dibekali dengan bingkisan balasan sebagai tanda kasih sayang dari keluarga pengantin wanita.Prosesi midodareni ini adalah awal dari rangkaian pesta pernikahan tradisonal yang biasa dilakukan di Jawa.

  1. c.       Upacara Injak Telur

Selanjutnya, Upacara dan Pesta Pernikahan Tradisional ini dilanjutkan dengan Upacara Injak Telur. Acara ini mengandung harapan bagi pengantin wanita untuk segera mempunyai keturunan, karena injak telur ini identik dengan pecah wiji dadi. Telur ini juga mempunyai makna sebagai keturunan yang akan lahir sebagai cinta kasih berdua. Kemudian dilanjutkan mencuci kaki pengantin pria yang dilakukan oleh pengantin wanita yang melambangkan kesetiaan istri pada suaminya.

  1. d.      Sikepan Sindur

Setelah acara injak telur selesai dilanjutkan dengan sikepan sindur yang dilakukan oleh ibu pengantin wanita. Sindur ini akan dibentangan pada kedua bahu mempelai. Adapun makna upacara ini mengandung harapan bahwa dengan sinfur tersebut kelak keduanya akan semakin erat karena dipersatukan dengan ibunda.

Sedangkan tugas ayah sebagai kepala rumah tangga berjalan di muka sebagai pemandu anak mengikuti langkah terbaik dalam hidup yang akan dijalani. Sang ayah bertugas sebagai penunjuk jalan kehidupan di masa depan dan hal ini perlu dijadikan contoh bagi pasangan baru.

  1. e.       Acara Pangkuan

Acara pangkuan disebut juga dengan istilah timbang bobot. Pada acara ini pengantin pria duduk di paha sebelah kanan dan pengantin wanita duduk di paha sebelah kiri sang ayah pengantin wanita, yang kemudian ditanya oleh sang ibu mana yang lebih berat dan dijawab sama berat.

Pada saat ini sang ayah seakan-akan sedang menimbang keduanya yaitu antara anak kandung dan menantu. Maknanya adalah bila kedua mempelai sudah mempunyai keturunan akan memiliki kasih sayang kepada putra-putrinya sebagaimana layaknya sang ayah memiliki kasih sayang yang sama antara anak kandung dan anak menantu.

  1. f.       Kacar-Kucur

Tahap upacara panggih adalah kacar-kucur. Acara ini melambangkan kesejahteraan dan tugas mencari nafkah dalam kehidupan berumah tangga yang dilakukan dalam bentuk biji-bijian, beras kuning, uang recehan yang semuanya diberikan kepada ibu. Begitu berat tugas suami dalam mencari nafkah, begitu juga istri dalam mengelolanya. Meski begitu mereka tetap ingat kepada orang tua mengingat perannya yang sangat besar dalam kehidupan seseorang.

  1. g.      Dahar Klimah | Dulang-dulangan

Acara selanjutnya adalah dahar klimah atau dulang-dulangan. Acara ini cukup menarik dan seru karena kedua mempelai saling menyuapi yang dilakukan sebanyak tiga kali dan dilanjutkan dengan minum air putih.

Proses ini sebenarnya mengandung harapan agar kedua mempelai senantiasa rukun, saling tolong menolong serta sepenanggungan dalam menempuh hidup baru. Selain itu juga mengandung makna sebagai ungkapan saling mencintai dan saling memperhatikan pada pasangan.

  1. h.      Titik Pitik

Setelah dahar klimah, upacara titik pitik pun dilaksanakan. Yaitu saat besan datang untuk menyaksikan upacara sakral tersebut. Dengan hadirnya besan berarti keluarga semakin berambah besar dan menjadi satu kesatuan yang kuat sebagai keluarga.

  1. i.        Ngabekten | Sungkeman

Ngabekten biasa disebut dengan istilah sungkeman atau menyembah. Sungkeman pertama ditujukan kepada orang tua yang diteruskan kepada para sesepuh lainnya seperti nenek, kakek dan sebagainya.

Sungkeman ini dilakukan dengan penuh takzim dan membuat suasana haru, karena pasangan muda ini sangat awam dalam menghadapi persoalan kehidupan rumah tangga. Padahal sejak itu mereka harus melangkah sendiri dan akan menjadi orang tua bagi anak-anaknya kelak. Oleh sebab itulah bekal berupa doa restu merupakan hal yang sangat penting dan ditunggu-tunggu oleh pasangan pengantin.

Prosesi prosesi tersebut diatas biasanya ada yang dilakukan secara utuh artinya semua kegiatan upacara pernikahan adat tersebut dilaksanakan semua, ada pula yang melaksanakan hanya beberapa bagian dari prosesi tersebut diatas.

Semua prosesi tadi biasanya dilakukan sebelum pesta perkawinan atau bersamaan dengan pesta pernikahan yang biasanya menggunakan pesta pernikahan tradisional juga.

  1. Tedhak Siten (Ritual Turun Tanah)

Tedhak artinya turun atau menapakkan kaki, Siten dari kata siti artinya tanah atau bumi. Jadi tedhak siten berarti menapakkan kaki kebumi.Ritual tedhak siten menggambarkan persiapan seorang anak untuk menjalani kehidupan yang benar dan sukses dimasa mendatang, dengan berkah Gusti, Tuhan dan bimbingan orang tua dan para guru dari sejak masa kanak-kanak.
Upacara tedhak siten juga punya makna kedekatan anak manusia kepada IbuPertiwi, tanah airnya.

Dengan menjalani kehidupan yang baik dan benar dibumi ini dan sekaligus tetap merawat dan menyayangi bumi, maka kehidupan didunia terasa nyaman dan menyenangkan. Ini untuk mengingatkan bahwa bumi atau tanah telah memberikan banyak hal untuk menunjang kehidupan manusia. Tanpa ada bumi,  sulit dibayangkan bagaimana eksistensi kehidupan manusia , sang suksma yang berbadan halus dan kasar.

Manusia wajib bersyukur kepada Gusti, Tuhan , diberikan kehidupan yang memadai dibumi yang alamnya sangat kondusif, memungkinkan mahluk manusia dan mahluk- mahluk yang lain bermukim disini. Inilah kesempatan untuk berbuat yang sebaik-baiknya, berkarya nyata, tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarganya, tetapi untuk peradaban seluruh umat manusia, yang semuanya adalah titah Gusti dan asal muasalnya dari tempat yang sama.
Hendaknya diingat bahwa tanah adalah salah satu elemen badan manusia dan yang tak             terpisahkan dengan elemen-elemen yang lain, yaitu air, udara dan api, yang mendukung kiprah kehidupan suksma didunia ini, atas kehendak Gusti.

Kapan diadakan upacara tedhak siten?

Pada waktu seorang anak kecil berumur tujuh selapan atau 245 hari. .Selapan merupakan kombinasi hari tujuh menurut kalender internasional dan hari lima sesuai  kalender Jawa.Oleh karena itu selapanan terjadi setiap 35 hari sekali. Bisa jatuh hari Senin Legi, Selasa Paing dst.

Biasanya pelaksanaan upacara tedhak siten diadakan pagi hari dihalaman depan rumah.Selain kedua orang tua bocah, kakek nenek dan para pinisepuh merupakan tamu terhormat, disamping tentunya diundang juga para saudara dekat.

Seperti pada setiap upacara tradisional, mesti dilengkapi dengan sesaji yang sesuai.Bermacam sesaji yang ditata rapi, seperti beberapa macam bunga, herbal dan hasil bumi yang dirangkai cantik, menambah sakral dan marak suasana ritual.

Sesaji itu bukan takhayul, tetapi intinya bila diurai merupakan sebuah doa permohonan kepada Gusti, Tuhan, supaya upacara berjalan dengan selamat dan lancar. Juga  tujuan dari ritual tercapai, mendapatkan berkah Gusti.

Jalannya upacara

Pertama : Anak dituntun untuk berjalan maju dan menginjak bubur tujuh warna yang terbuat dari beras ketan. Warna-warna itu adalah : merah, putih, oranye, kuning, hijau, biru dan ungu.

Ini perlambang , anak mampu melewati berbagai rintangan dalam hidupnya. Strata kesadarannya juga selalu meningkat lebih tinggi. Dimulai dari kehidupan duniawi, untuk menunjang dan mengembangkan diri, terpenuhi kebutuhan raganya, kehidupan materinya cukup, raganya sehat, banyak keinginannya terpenuhi. Seiring pertumbuhan lahir, keperluan batin meningkat ke kesadaran spiritual .

Kedua : Anak dituntun menaiki tangga yang terbuat dari batang tebu Arjuna, lalu turun lagi. Tebu merupakan akronim dari antebing kalbu, mantapnya kalbu, dengan tekad hati yang mantap.

Tebu Arjuna melambangkan supaya si anak bersikap seperti Arjuna, seorang yang berwatak satria dan bertanggung jawab. Selalu berbuat baik dan benar, membantu sesama dan kaum lemah, membela kebenaran, berbakti demi bangsa dan negara.

Ketiga : Turun dari tangga tebu, si anak  dituntun untuk berjalan dionggokan pasir. Disitu dia mengkais pasir dengan kakinya, bahasa Jawanya ceker-ceker, yang  arti kiasannya adalah mencari makan. Maksudnya si anak setelah dewasa akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Keempat : Si bocah dimasukkan kedalam sebuah kurungan yang dihias apik, didalamnya terdapat berbagai benda seperti : buku, perhiasan, telpon genggam dlsb. Dibiarkan bocah itu akan  memegang barang apa. Misalnya dia memegang buku, mungkin satu hari dia mau jadi ilmuwan. Pegang telpon genggam, dia bisa jadi tehnisi atau ahli komunikasi.

Kurungan merupakan perlambang dunia nyata, jadi si anak memasuki dunia nyata dan dalam kehidupannya dia akan dipenuhi kebutuhannya melalui pekerjaan/aktivitas yang telah dipilihnya secara intuitif sejak kecil.

Kelima : Ayah dan kakek si bocah menyebar udik-udik, yaitu uang logam dicampur berbagai macam bunga. Maksudnya si anak sewaktu dewasa menjadi orang yang dermawan, suka menolong orang lain. Karena suka menberi, baik hati, dia juga akan mudah mendapatkan rejeki. Ada juga  ibu si anak mengembannya, sambil ikut menyebarkan udik-udik.

Keenam : Kemudian anak tersebut dibersihkan dengan dibasuh atau dimandikan dengan air sritaman, yaitu air yang dicampuri bunga-bunga : melati, mawar, kenanga dan kantil.

Ini merupakan pengharapan , dalam kehidupannya, anak ini nantinya harum namanya dan bisa mengharumkan nama baik keluarganya.

Ketujuh : Pada akhir upacara, bocah itu didandani dengan pakaian bersih dan bagus. Maksudnya supaya si anak mempunyai jalan kehidupan yang bagus dan bisa membuat bahagia keluarganya.

            Demikian, ritual tedhak siten telah selesai. Seluruh keluarga berbahagia dan berharap semoga Gusti memberikan berkahnya, supaya tujuan ritual berhasil. Selanjutnya para hadirin dipersilahkan menyantap hidangan yang telah disediakan.

Hasil Wawancara (Verbatim)

 A.    Identitas Subjek 1

1. Nama (Inisial)        : SL

2. Jenis Kelamin        : Laki-laki

3. Usia                            : 47

5. TTL                            : Pekalongan, 1 Oktober 1964

4. Suku                          : Jawa

5. Pendidikan             : SMA

6. Pekerjaan               : Wirausaha

7. Agama                    : Islam

8. Hobi                        : Memancing

Pedoman Wawancara

Tanya       : Apa saja upacara adat Jawa Tengah yang anda rayakan bersama keluarga di Jakarta?

Jawab       : Upacara pernikahan , upacara kehamilan seperti saat tiga, lima, dan tujuh bulan.

Tanya       : Mengapa anda masih merayakannya walaupun sudah bermukim di Jakarta?

Jawab       : Karena keluarga dari JATENG juga banyak yang bermukim di Jakarta dan karena itu merupakan tradisi keluarga.

Tanya       : Bagaimana prosesi dan gambaran upacara adat tersebut dilangsungkan?

Jawab       : Upacara pernikahan : Yang saya tahu yaitu ketika prosesi lamaran setelah itu di pingit. Kemudian dipingit sampai acara akad nikah. Kemudian ada prosesi pertemuan antara keluarga besar kedua belah pihak. Prosesi acaranya yaitu; yang pertama ketika resepsi, yaitu dengan sang suami menginjak telur mentah dan istri membersihkan kaki suami yang habis menginjak telur tersebut. Setelah itu upacara orang tua menggendong kedua mempelai dengan cara selendang yang dililitkan ke kedua mempelai kemudian di lingkarkan dan di pegang dan berjalan bersama orang tua wanita dengan menggunakan selendang tersebut. Setelah itu acara dulangi atau saling menyuapi antar kedua mempelai sebanyak 3 kali biasanya makan nasi ataupun potongan ayam goreng dan yang terakhir adalah sungkeman antara mempelai dan kedua orang tua.

Upacara kehamilan : Biasanya itu disebut mintoni. Prosesinya dilaksanakan pada kehamilan anak pertama itu dilaksanakan pada kehamilan usia 3, 5, 7 bulan yang bertujuan supaya bayi dan ibunya selamat dan sehat biasanya pas acara itu urutannya dengan siraman dan diadakan selamatan dengan di sediakan buah buahan dan kue-kuean.

Tanya   : Apa saja upacara khas Jawa Tengah yang dipakai ketika anda melangsungkan pernikahan?

Jawab    : Sama seperti yang tadi sudah saya jelaskan sebelumnya.

Tanya   : Mengapa anda memasukkan tema tersebut ketika melangsungkan pernikahan?

Jawab   : Karena menurut saya itu merupakan suatu tradisi yang harus di lestarikan agar tradisinya tidak hilang.

Tanya    : Apa tanggapan anda mengenai pelestarian adat Jawa Tengah di tengah kehidupan kota Jakarta?

Jawab  : Sudah mulai berkurang karena kebanyakan orang sekarang ingin melaksanakan pernikahan dengan cara yang sederhana.

Tanya       : Mengapa anda berpendapat demikian?

Jawab       : Karena upacara pernikahan Jawa Tengah tergolong ribet dan harus melalui berbagai prosesi yang cukup banyak.

Tanya       : Apa yang anda ketahui mengenai tedak sinten?

Jawab       : Ya itu acara saat anak usia di bawah 1 taun secara garis besarnya untuk melihat bakat dari suatu anak misalnya ketika si anak disuruh memilih benda – benda yang ada di depannya kayak handphone , pulpen buku , dan lain – lain dari situ kita melihat ketertarikan si anak.

Tanya   : Menurut anda, Mengapa banyak orang Jawa Tengah yang hidup di Jakarta tidak mengetahui upacara adatnya sendiri?

Jawab   : Karena tradisi tersebut sudah mulai luntur dan ketika di Jakarta mereka hanya melaksanakan prosesi pernikahan secara sederhana.

Tanya       : Bagaimana cara anda melestarikan budaya Jawa Tengah di Jakarta?

Jawab       : Ya dengan itu tadi dengan melaksanakan berbagai upacara adat yang berasal dari Jawa Tengah.

Tanya       : Apa saja pengaruh dari identitas Jawa Tengah pada diri anda dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat selama hidup di Jakarta?

Jawab       : Pengaruhnya ketika kita sedang berbincang-bincang dengan teman , bergaul dan saat makan.

Tanya       : Mengapa anda merasakan hal tersebut?

Jawab       : Karena untuk lebih menyesuaikan dengan kebudayaan yang ada di  Jakarta.

Tanya       : Bagaimana pola pengasuhan anda terhadap anak-anak anda mengenai kebudayaan Jawa Tengah?

Jawab       : Dengan mengajarkan anak sedikit bahasa Jawa agar anak mengerti bahasa kampung halamannya dan sering mengajaknya pulang kampung untuk lebih mengetahui secara langsung tata krama yang ada di Jawa Tengah.

Tanya       : Mengapa pola asuh anda demikian?

Jawab       : Karena tata krama di Jawa Tengah itu mementingkan kesopansantunan agar anak mengerti tentang sopan santun.

  1. B.     Identitas Subjek

1. Nama (Inisial)        : SS

2. Jenis Kelamin        : Laki-laki

3. Usia                           : 57

5. TTL                            : Rembang, 10 Oktober 1954

4. Suku                         : Jawa

5. Pendidikan            : S1

6. Pekerjaan              : PNS

7. Agama                   : Islam

8. Hobi                       : Berkebun

Pedoman Wawancara

Tanya       : Apa saja upacara adat Jawa Tengah yang anda rayakan bersama keluarga di Jakarta?

Jawab       : Siraman sebelum melakukan pernikahan, sungkeman kepada yang lebih tua pada idul fitri atau acara-acara tertentu.

Tanya       : Mengapa anda masih merayakannya walaupun sudah bermukim di Jakarta?

Jawab       : Karena tradisi keluarga turun-menurun.

Tanya       : Bagaimana prosesi dan gambaran upacara adat tersebut dilangsungkan?

Jawab       : Ketika melakukan upacara pernikahan pengantin dipingit dahulu dan tidak bertemu satu sama lainnya dan melakukan siraman untuk memperoleh doa restu. Malam sebelum pernikahan ada acara midodareni dimana calon pengantin pria berkunjung ke kediamana mempelai wanita tetapi tidak dipertemukan. Keesokannya melakukan sungkeman kepada orang tua. Kalau     idul fitri biasanya yang lebih muda sungkem atau meminta maaf dan meminta doa pada yang lebih tua.

Tanya   : Apa saja upacara khas Jawa Tengah yang dipakai ketika anda melangsungkan pernikahan?

Jawab       : Sama kayak yang tadi.

Tanya       : Mengapa anda memasukkan tema tersebut ketika melangsungkan pernikahan?

Jawab       : Karena saya percaya prosesi tersebut semata-semata bermaknaan doa untuk sang kedua mempelai.

Tanya       : Apa tanggapan anda mengenai pelestarian adat Jawa Tengah di tengah kehidupan kota Jakarta?

Jawab       : Bagus sih. Harusnya tradisi dari zaman dulu di pertahankan sampe sekarang walaupun sudah tidak berada di daerah setempat.

Tanya       : Mengapa anda berpendapat demikian?

Jawab       : Harus dilestarikan karena merupakan warisan leluhur dan memiliki banyak makna.

Tanya       : Apa yang anda ketahui mengenai tedak sinten?

Jawab       : Saya gatau tentang prosesi itu.

Tanya  : Menurut anda, Mengapa banyak orang Jawa Tengah yang hidup di Jakarta tidak mengetahui upacara adatnya sendiri?

Jawab   : Karena mungkin disebabkan pola asuh orang tuanya yang tidak mengajarkan adat tersebut.

Tanya       : Bagaimana cara anda melestarikan budaya Jawa Tengah di Jakarta?

Jawab       : Dengan menerapkan pada kehidupan pada kehidupa sehari-hari.

Tanya       : Apa saja pengaruh dari identitas Jawa Tengah pada diri anda dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat selama hidup di Jakarta?

Jawab       : Pengaruhnya baik untuk diri saya. Contohnya pada masyarakat Jawa Tengah diajarkan nilai moral seperti kesabaran, harus selalu melihat kebawah, kalau makan tidak boleh sisa.

Tanya       : Mengapa anda merasakan hal tersebut?

Jawab   : Karena adat Jawa Tengah bagus untuk membentuk perilaku yang baik dalam bersosialisasi ataupun lingkungan.

Tanya       : Bagaimana pola pengasuhan anda terhadap anak-anak anda mengenai kebudayaan Jawa Tengah?

Jawab       : Saya mendidik anak saya dengan mengajari dan memberi contoh perilaku-perilaku yang ditanamkan orang tua saya berdasarkan adat Jawa Tengah.

Tanya       : Mengapa pola asuh anda demikian?

Jawab       : Agar anak saya bisa lebih baik dari pada orang tuanya punya perilaku yang baik.

BAB III

ANALISIS

3.1 Analisis

Conformity adalah proses dimana seseorang mengubah perilakunya untuk menyesuaikan dengan aturan kelompok. Dapat juga diartikan sebagai perubahan pendapat atau perilaku seseorang sebagai hasil dari tekanan nyata atau imajinasi dari orang atau kelompok lain (Sternberg, 2001). Konformitas mengacu pada sikap mengalah seseorang pada tekanan sosial, baik nyata maupun yang dibayangkan (Dayakisni & Yuniardi, 2008; Matsumoto, 2008). Kiesler & Kiesler (Sarwono, 2005) mendefinisikan sebagai perubahan perilaku keyakinan karena adanya tekanan dari kelompok, baik yang sungguh-sungguh ada maupun yang dibayangkan saja.

Compliance adalah proses dimana seseorang mengikuti permintaan orang lain. Dapat juga diartikan sebagai menunjukkan perbuatan dan perilaku dari keyakinan yang diubah untuk mengikuti tujuan orang lain (Sternberg, 2001). Ketundukan atau compliance secara umum didefinisikan sebagai sikap mengalah orang pada tekanan sosial dalam kaitannya dengan perilaku sosial mereka, meski mungkin keyakinan pribadi mereka tidak berubah (Dayakisni & Yuniardi, 2008; Matsumoto, 2008). Compliance adalah konformitas yang dilakukan secara terbuka sehingga terlihat oleh umum, walaupun hatinya tidak setuju (Sarwono, 2005).

Obedience adalah proses dimana seseorang mengikuti perintah dari seseorang yang dirasa sebagai figur yang lebih berkuasa (Sternberg, 2001). Kepatuhan atau obedience merupakan salah satu bentuk ketundukan yang muncul ketika orang mengikuti suatu perintah langsung, biasanya dari seseorang dengan suatu posisi otoritas (Dayakisni & Yuniardi, 2008; Matsumoto, 2008).

Subjek pertama mengatakan bahwa alasannya masih tetap melaksanakan upacara-upacara adat Jawa Tengah di Jakarta adalah, “karena keluarga dari JATENG juga banyak yang bermukim di Jakarta dan karena itu merupakan tradisi keluarga.” Dimana hal ini menunjukkan adanya unsur conformity dan compliance yang mempengaruhi subjek melakukan hal tersebut. Seandainya keluarga dari JATENG yang bermukim di Jakarta sedikit, mungkin ceritanya akan lain. Subjek pertama dalam rangka melestarikan adat Jawa Tengah lebih terpusat kepada pencontohan yang merupakan bagian dari konformitas. Baik dalam kehidupan bersosialisasi maupun dalam hal pola asuh. Subjek pertama lebih moderat dan lebih menyesuaikan dengan kebudayaan di Jakarta sehingga mungkin pengaruh Jawa Tengahnya agak luntur. Meskipun begitu, pengetahuannya tentang upacara adat Jawa Tengah masih kental.

Sementara itu, subjek kedua dalam rangka melestarikan adat Jawa Tengah lebih terpusat kepada obedience (kepatuhan). Baik dalam kehidupan bersosialisasi maupun dalam hal pola asuh. Subjek kedua lebih konservatif dalam menanamkan nilai-nilai kebudayaan meskipun pengetahuannya tentang upacara adat Jawa Tengah tidak sebanyak subjek pertama. Pengaruh kebudayaan Jawa Tengah dalam membentuk kepribadian subjek masih kuat. subjek kedua menyatakan alasannya tetap melaksanakan upacara adat adalah karena tradisi turun-temurun, yang menunjukkan adanya pengaruh obedience dalam keputusannya melakukan upacara adat. Meskipun subjek hidup di lingkungan yang sedikit orang Jawa Tengahnya, kemungkinan besar subjek akan tetap mempertahankan tradisi upacara adat Jawa Tengahnya karena kepatuhannya terhadap leluhur (obedience).

Kesamaan dari subjek pertama dan subjek kedua adalah terletak kepada bentuk atribusi yang mempengaruhi kebiasaan, perilaku dan kepribadian mereka saat hidup di Jakarta. Keduanya menggunakan bentuk atribusi eksternal yaitu nilai adat kebudayaan Jawa Tengah. Atribusi eksternal adalah atribusi yang memandang penyebab perilaku berada di luar diri seseorang. Sedangkan atribusi internal adalah atribusi yang memandang bahwa penyebab perilaku ada dalam diri pelakunya; (Matsumoto, 2008). Sedangkan arti atribusi sendiri adalah penarikan kesimpulan atau inferensi yang diambil orang tentang apa yang menjadi penyebab suatu kejadian dan perilaku diri maupun orang lain (Dayakisni & Yuniardi, 2008; Matsumoto, 2008). Atribusi juga didefinisikan sebagai penjelasan mental yang menunjukkan penyebab perilaku seseorang, termasuk juga perilaku seseorang dalam membuat atribusi tersebut (Sternberg, 2001).

BAB IV

PENUTUP

4.1  Simpulan

Perilaku sosial manusia akan berbeda seiring budaya yang melatarbelakanginya. Budaya yang diperoleh manusia mempengaruhi pengalaman yang dicerminkan melalui perilaku mereka, cara berinteraksi dan bekerja dengan orang lain. Budaya suatu kelompok bahkan mengatur unsur-unsur dalam sistem sosial dan bagaimana cara individu berperilaku dalam lingkungan sosialnya.

DAFTAR PUSTAKA

Berry, J. W. et al. (1992). Cross-Cultural Psychology: Research and Application. Cambridge: Cambridge University Press.

Dayakisni, T., Yuniardi, S. (2008). Psikologi Lintas Budaya. Edisi Revisi. Malang: UMM Press.

Matsumoto, D. (2008). Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sarwono, S. W. (2005). Psikologi Sosial: Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka.

Sternberg, R. J. (2001). Psychology: In Search of the Human Mind. Orlando: Hartcourt     Publishers

http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Tengah#Suku

http://www.jatengprov.go.id/?mid=tentang

 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2011 in Psikologi Lintas Budaya

 

Report Tugas Softskill : Psikologi Lintas Budaya

Report Tugas Softskill : Psikologi Lintas Budaya

Nama   : Mutia Farida

NPM  : 15509805

Kelas : 3PA01

Tema : Jawa Tengah

Proses penyusunan data penelitian tentang Jawa Tengah tidak banyak hambatannya. Data-data tentang Jawa Tengah bisa diperoleh dengan mudah melalui internet dan dari subjek yang bersuku Jawa yang ada atau merantau di Jakarta. Mereka yang merantau atau tinggal di Jakarta karena bekerja atau pindah tugas dari kota asalnya, tapi walaupun sudah lama tinggal di Jakarta kebudayaan asli, tradisi Jawa Tengah masih digunakan, selain itu keseharian mereka juga masih menggunakan bahasa Jawa . Mereka umumnya merantau ke Jakarta dan berdomisili di Jakarta karena mereka bekerja di Jakarta. Proses yang belum selesai adalah analisis mengenai data yang diperoleh dari teori.

Harapan kelompok kami semoga penelitian ini bisa diselesaikan sebaik mungkin.

 
Leave a comment

Posted by on December 9, 2011 in Psikologi Lintas Budaya

 

Kebudayaan Indis

Materi Ke-1

Nama Kelompok :
1. Lailatul Faizah
2. Muthia Farida
3. Pangestika Rahadiyani
4. Putri Uswatul khasanah
5. Tuti Setiyawati
6. Yessica Hera Pratiwi
Mata Kuliah : Psikologi Lintas Budaya

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Budaya telah menjadi perluasan topik ilmu psikologi di mana mekanisme berpikir dan bertindak pada suatu masyarakat kemudian dipelajari dan diperbandingkan terhadap masyarakat lainnya. Psikologi lintas budaya adalah cabang dari psikologi yang (terutama) menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda.

1.2 Tujuan Pembuatan Makalah
1. Memenuhi tugas Psikologi Lintas Budaya
2. Mengetahui persamaan dan perbedaan antara kebudayaan indis dan kebudayaan lain

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Pustaka
a) Pengertian Psikologi Lintas Budaya
Budaya dalam kehidupan manusia adalah hal yang dekat dan melekat padanya. Budaya merupakan hasil karya manusia, lahir untuk manusia dalam mengatur dan mendukung kehidupannya. Tujuan menjadikan kehidupan ini menjadi lebih baik adalah keadaan akhir yang diinginkan tersebut. Kelly mendefinisikan budaya sebagai bagian yang terlibat dalam proses harapan-harapan yang dipelajari/dialami. Orang-orang yang memiliki kelompok budaya yang sama akan mengembangkan cara-cara tertentu dalam mengonstruk peristiwa-peristiwa, dan mereka pun mengembangkan jenis-jenis harapan yang sama mengenai jenis-jenis perilaku tertentu.
Budaya telah menjadi perluasan topik ilmu psikologi di mana mekanisme berpikir dan bertindak pada suatu masyarakat kemudian dipelajari dan diperbandingkan terhadap masyarakat lainnya. Psikologi lintas budaya adalah cabang dari psikologi yang (terutama) menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda.
b) Tujuan Mempelajari Psikologi Lintas Budaya
Tujuan dari kajian psikologi Lintas Budaya adalah mencari persamaan dan
perbedaan dalam fungsi-fungsi individu secara psikologis, dalaam berbagai budaya dan kelompok etnik.
c) Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan Ilmu lain
Psikologi lintas budaya sama seperti dengan Psikologi budaya mencoba mempelajari bagaimana faktor budaya dan etnis mempengaruhi perilaku manusia. Namun psikologi lintas budaya tidak hanya mempelajari faktor budaya dengan prilaku tetapi faktor antar budaya atau perbedaan budaya yang mempengaruhi prilaku manusia.
Psikologi Sosial mempelajari tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan masyarakat sekitarnya. Psikologi lintas budaya juga sama mempelajari individu dengan masyarakat selain itu juga mempelajari individu dengan atar masyarakat yang berbeda.
d) Etnosentrisme dalam Psikologi Lintas Budaya
Etnosentrisme secara formal didefinisikan sebagai pandangan bahwa kelompok atau budaya sendiri adalah pusat segalanya dan budaya lain akan selalu dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar budaya sendiri. Etnosentrisme membuat kebudayaan diri sebagai patokan dalam mengukur baik buruknya, atau tinggi rendahnya dan benar atau ganjilnya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan kebudayaan sendiri, adanya.
e) Persamaan dan perbedaan antara budaya dalam hal transmisi budaya melalui enculturasi dan Sosialisasi.
Berbagai peranan harus dipelajari oleh anak (individu anggota masyarakat) melalui proses sosialisasi; adapun mengenai kebudayaan perlu dipelajarinya melalui enkulturasi. Jika anak tidak mengalami sosialisasi dan/atau enkulturasi, maka ia tidak akan dapat berinteraksi sosial, ia tidak akan dapat melakukan tindakan sosial sesuai status dan peranannya serta kebudayaan masyarakatnya.
f) Persamaan dan perbedaan antar budaya Melalui Perkembangan Moral
Perkembangan sosial merupakan proses perkembangan kepribadian siswa selaku seorang anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain. Perkembangan ini berlangsung sejak masa bayi hingga akhir hayat. Perkembangan merupakan suatu proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pembentukan pribadi dalam keluarga, bangsa dan budaya. Perkembangan sosial hampir dapat dipastikan merupakan perkembangan moral, sebab perilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam bertingkah laku sosial. Seorang siswa hanya akan berperilaku sosial tertentu secara memadahi apabila menguasai pemikiran norma perilaku moral yang diperlukan untuk menguasai pemikiran norma perilaku moral yang diperlukan.
Proses perkembangan sosial dan moral selalu berkaitan dengan proses belajar. Konsekuensinya, kualitas hasil perkembangan sosial sangat bergantung pada kualitas proses belajar (khususnya belajar sosial), baik dilingkungan sekolah, keluarga, maupun di lingkungan masyarakat. Hal ini bermakna bahwa proses belajar sangat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moral, agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral yang berlaku dalam masyarakat.

g) Persamaan dan perbedaan antar budaya Melalui Perkembangan Remaja
Saat ini pengaruh budaya barat tidak hanya sebatas cara berpakaian, pergaulan, tapi juga di bidang pendidikan dan gaya hidup. Subjek yang paling terpengaruh adalah remaja. Bahkan bagi sebagian remaja, gaya hidup barat merupakan suatu kewajiban dalam pergaulan. Tanpa disadari, para remaja telah memadukan kebudayaan dengan pergaulan dalam aspek kehidupan mereka. Pada dasarnya remaja memiliki semangat yang tinggi dalam aktivitas yang digemari. Mereka memiliki energi yang besar, yang dicurahkannya pada bidang tertentu, ide-ide kreatif terus bermunculan dari pikiran mereka. Selain itu, remaja juga memiliki rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Untuk menuntaskan rasa ingin tahunya, mereka cenderung menggunakan metode coba-coba.
h) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal konfromitas, kompliance, dan obedience
Conformity adalah proses dimana seseorang mengubah perilakunya untuk menyesuaikan dengan aturan kelompok. Compliance adalah konformitas yang dilakukan secara terbuka sehingga terlihat oleh umum, walaupun hatinya tidak setuju. Kepatuhan atau obedience merupakan salah satu bentuk ketundukan yang muncul ketika orang mengikuti suatu perintah langsung, biasanya dari seseorang dengan suatu posisi otoritas.
Untuk membandingkan bagaimana conformity, compliance, dan obedience secara lintas budaya, maka telaah itu harus memusatkan perhatian pada nilai konformitas dan kepatuhan itu sebagai konstruk sosial yang berakar pada budaya. Dalam budaya kolektif, konformitas dan kepatuhan tidak hanya dipandang “baik” tetapi sangat diperlukan untuk dapat berfungsi secara baik dalam kelompoknya, dan untuk dapat berhasil menjalin hubungan interpersonal bahkan untuk dapat menikmati status yang lebih tinggi dan mendapat penilaian atau kesan positif.
i) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal nilai-nilai
Telaah lintas budaya mengenai nilai-nilai baik kemasyarakatan maupun perseorangan tergolong baru nilai merupakan gambaran yang dipegang oleh perseorangan atau secara kolektif oleh anggota kelompok, yang mana dapat diinginkan dan mempengaruhi baik pemaknaan dan tujuan tindakan diantara pilihan-pilihan yang ada.
Dalam Psikologi Lintas Budaya nilai dimasukkan sebagai salah satu aspek dari budaya atau masyarakat. Nilai muncul menjadi ciri khas yang cenderung menetap pada seseorang dan masyarakat dan karenanya penerimaan nilai berpengaruh pada sifat kerpibadian dan karakter budaya.
j) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal Prilaku Gender
Gender merupakan kajian tentang tingkah laku dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender berbeda dari seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis. Perbedaan pola sosialisasi ini juga berkaitan dengan beberapa faktor budaya dan faktor ekologi.
Gender merupakan hasil konstruksi yang berkembang selama masa anak-anak sebagaimana mereka disosialisasikan dalam lingkungan mereka. Adanya perbedaan reproduksi dan biologis mengarahkan pada pembagian kerja yang berbeda antara pria dan wanita dalam keluarga. Perbedaan-perbedaan ini pada gilirannya mengakibatkan perbedaan ciri-ciri sifat dan karakteristik psikologis yang berbeda antara pria dan wanita. Faktor-faktor yang terlibat dalam memahami budaya dan gender tidak statis dan unidimensional. Keseluruhan sistem itu dinamis dan saling berhubungan dan menjadi umpan balik atau memperkuat sistem itu sendiri. Sebagai akibatnya sistem ini bukan suatu unit yang linear dengan pengaruh yang berlangsung dalam satu arah, dan semua ini diperoleh dalam kehidupan kita sendiri.
Sebagai konsekuensinya, budaya yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda pula. Satu budaya mungkin mendukung kesamaan antara pria dan wanita, namun budaya lainnya tidak mendukung kesamaan tersebut. Dengan demikian budaya mendefinisikan atau memberikan batasan mengenai peran, kewajiban, dan tanggung jawab yang cocok bagi pria dan wanita.
k) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal Sosial Bermasyarakat
Masyarakat didefinisikan oleh Ralph Linton sebagai “setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas”. Sejalan dengan definsi dari Ralph Linton, Selo Sumardjan mendefinisikan masyarakat sebagai “orangorang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan” (Soerjono Soekanto, 1986). Mengacu kepada dua definisi tentang masyarakat seperti dikemukakan di atas, dapat di identifikasi empat unsur yang mesti terdapat di dalam masyarakat, yaitu:
1.Manusia (individu-individu) yang hidup bersama.
2.Mereka melakukan interaksi sosial dalam waktu yang cukup lama.
3.Mereka mempunyai kesadaran sebagai satu kesatuan.
4.Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.
l) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal Sosial Cognitif
Kognitif diartikan sebagai kegiatan untuk memperoleh, mengorganisasikan dan menggunakan pengetahuan. Dalam psikologi, kognitif adalah referensi dari faktor-faktor yang mendasari sebuah prilaku. Kognitif juga merupakan salah satu hal yang berusaha menjelaskan keunikan manusia. Pola pikir dan perilaku manusia bertindak sebagi aspek fundamental dari setiap individu yang tak lepas dari konsep kemanusiaan yang lebih besar, yaitu budaya sebagai konstruksi sosial. Sedangkan kebudayaan (culture) dalam arti luas merupakan kreativitas manusia (cipta, rasa dan karsa) dalam rangka mempertahankan kelangsunganhidupnya. Manusia akan selalu melakukan kreativitas (dalam arti luas) untuk memenuhi kebutuhannya (biologis, sosiolois, psikologis) yang diseimbangkan dengan tantangan, ancaman, gangguan, hambatan (AGHT) dari lingkungan alam dan sosialnya.

m) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal Individual dan Kolektivitas
1) Individual
Diri individual adalah diri yang fokus pada atribut internal yang sifatnya personal; kemampuan individual, inteligensi, sifat kepribadian dan pilihan-pilihan individual. Diri adalah terpisah dari orang lain dan lingkungan. Budaya dengan diri individual mendesain dan mengadakan seleksi sepanjang sejarahnya untuk mendorong kemandirian sertiap anggotanya. Mereka didorong untuk membangun konsep akan diri yang terpisah dari orang lain, termasuk dalam kerangka tujuan keberhasilan yang cenderung lebih mengarah pada tujuan diri individu. Dalam kerangka budaya ini, nilai akan kesuksesan dan perasaan akan harga diri megambil bentuk khas individualisme. Keberhasilan individu adalah berkat kerja keras dari individu tersebut.
2) Kolektif
Dalam konstruk diri kolektif ini, nilai keberhasilan dan harga diri adalah apabila individu tersebut mampu memenuhi kebutuhan komunitas dan menjadi bagian penting dalam hubungan dengan komunitas. Individu focus pada status keterikatan mereka (interdependent), dan penghargaan serta tanggung jawab sosialnya. Aspek terpenting dalam pengalaman kesadaran adalah saling terhubung antar personal. Dalam budaya diri kolektif ini, informasi mengenai diri yang terpenring adalah aspek-aspek diri dalam hubungan.

2.2 Kebudayaan Indis
2.2.1 Awal Kehadiran Orang Belanda

A. ETNOSENTRISME
“Pandangan bahwa kelompok atau budaya sendiri adalah pusat segalanya dan budaya lain Akan selalu dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar budaya sendiri”
Semua artefak kebudayaan berupa monografi, kesusasteraan, kisahperjalanan, lukisan, foto,sketsa,artefakan seni bangunan indis menunjukkan kemampuan segolongan masyarakat Indonesia dalam mengambi unsur – unsur budaya asing tanpa meninggalkan budaya tradisionalnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat suku jawa memiliki sikap open minded tolerance atau savoir vivre (lapang dada) dalam menanggapi kebudayaan asing yang hadir sepanjang sejarah Indonesia.

B. TRANSMISI BUDAYA DAN BIOLOGIS
Suburnya budaya indis pada awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang parapejabat Belanda.Saatitu, ada larangan membawa istri dan mendatangkan perempuan Belanda ke Hindia Belanda.Hal tersebut mendorong lelaki Belanda menikahi penduduk setempat.Maka, terjadilah percampuran darah yang melahirkan anak – anak campuran, serta menumbuhkan budaya dan gaya hidup Belanda – Pribumi, atau gaya indis. Pada tahun 1870, Terusansuez dibuka, terusan tersebut memperpendek jarak antara negeri Belanda dengan Indonesia, sehingga kehadiran perempuan dari negeri Belanda makin banyak ke Indonesia. Kehadiran perempuan Eropa ke Indonesia pun memperluas percampuran budaya.

C. ENKULTURASI
“Suatu proses dimana individu belajar cara berpikir ,cara bertindak , dan merasa yang mencerminkan kebudayaan masyarakatnya”
Orang belanda memiliki kemampuan sebagai bangsa penguasa, ternyata bangunan rumah belanda terpengaruh juga oleh seni bangunan setempat yang disebut “Indo-Europeeschebouwkunst”. Ia menunjukkan sushistoris – arsitektural romaw ikuno yang tumbuh dan berkembang akibat bentuk seni budaya yunani. Hal semacam ini berlanjut dan terjadi pula di Hindia Belanda.Kedua pihak saling mengambil dan mengisi ;diawali dari kelompok pertama, yaitu bangsa belanda membawa pola peradaban belanda ke daerah koloninya di jawa.Dari parabirokrat pemerintah colonial, berkembanglah kebudayaan indis yang merupakan kebudayaan hasil jalinan erat antara dua budaya, yaitu budaya jawa dan belanda.Jalinan yang erat semacam ini digambarkan seolah – olah terdapat osmose dan pertukaran mental di antara orang jawa dan belanda, yaitu manusia jawa memasuki lingkungan budaya eropa dan sebaliknya.

D. KONFORMITAS
“Proses dimana seseorang mengubah perilakunya untuk menyesuaikan dengan aturan kelompok”

E. KEPATUHAN
“Salah satu bentu ketundukkan yang muncul ketika orang mengikuti suatu perintah langusng, biasanya dari seseorang dengan suatu posisi otoritas”
Politik liberal yang diberlakukan oleh pemerintah colonial pada 1870, ditambah dengan berkembangnya banyak perusahaan swasta di bidang perkebunan ,pelayaran , perbankan , dan perkeretaapian, memerlukan banyak tenagaterampil. Tenaga buruh kasar untuk mengerjakan irigasi, pembuatan jalan dan sebagainya diambil dari desa – desa di Jawa.
Pemerintah colonial mengharuskan pengusaha untuk bergaya hidup serta membangun gedung dan tempat tinggalnya dengan menggunakanciri – ciridan lambing yang berbeda dari rakyat yang dijajahnya.Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk menunjukkan kekuasaan dan kebesarannya.

F. Nilai
“gambaran yang dipegang oleh perseorangan atau secara kolektif oleh anggota kelompok yang mana dapat diinginkan dan mempengaruhi baik pemaknaan dan tujuan tindakan diantara pilihan – pilihan yang ada”
Orang eropa mengenal peletakkan batu pertama dan pemancanganb endera di atas kemuncak bangunan rumahnya yang sedang dibangun dengan diikuti pesta minum nir, tetapi hal semacam ini adalah peninggalan lama mereka.Kegiatan itu adalah “gema” saja dari adat lama yang sudah kabur pengertiannya. Bagi orang jawa, menaikkan mala (tiang) sebuah rumah tinggal dengan slametan, melekan (wungon, bedagang), meletakkan secarik kain tolak bala, sajen dan memilih haribaik, memiliki arti simbolik tertentu. Bagi orang jawa, meninggalkan adat kebiasaan seperti itu sangat bera karenaa danya paham kepercayaan terhadap kekuatan supranatural yang sulit dijelaskan.

G. EPISTEMOLOGI GENETIK
Dalam hal membangun rumah tempat tinggal dengan susunan tata ruangnya. Arti simbolik suatu bagian ruang rumah tinggal berhubungan erat dengan perilaku penghuninya.Pada suku jawa, misalnya, tidak dikenal ruang khusus bagi keluarga dengan pembedaan umur, jeniskelamin, generasi, family bahkan di antara anggota dan bukan anggota penghuni rumah.Maka, fungsi ruang tidak dipisahkan atau dibedakan dengan jelas.
Contoh lain yang sangat menarik adalah keselarasan system simbolik, khususnya gaya hidup. Betapa canggungnya orang pribumi jawa yang hidup secara tradisional di kampong, kemudian pindah untuk bertempat tinggal di dalam rumah gedung di dalam blok atau kompleks dengan suasana rumah bergaya barat modern. Kelengkapan rumah tangga yang serba asing, pembagian ruang – ruang di dalam rumah dengan fungsi yang khusus, fungsi ruang secara terpisah untuk terjamin privilege atau privacy penghuninya, semua itu menambah kecanggungan orang pribumi untuk tinggal di dalam rumah yang asingitu.
H. GAYA KOGNITIF
Anggapan bahwa rumah adalah model alam mikrokosmos menurut konsep pikiran jawa dans ebagainya, tidak ada pada alam pikiran eropa.

2.2.2. Kebudayaan Indis
A. Akulturasi
Sejak awal kedatangan bangsa Belanda telah terjadi kontak budaya yang kemudian menghasilkan perpaduan budaya. Kebudayaan campuran yang didukung oleh segolongan masyarakat Hindia Belanda itu disebut “Kebudayaan Indis”. Percampuran budaya tersebut meliputi berbagai unsure kebudayaan.
Dalam proses akulturasi dua kebudayaan tersebut, peran penguasa colonial di Hindia Belanda sangat menentukan. Sementara itu, bangsa Indonesia menerima nasib sebagai bangsa terjajah serta menyesuaikan diri sebagai aparat penguasa jajahan atau colonial. Hasil perpaduan menunjukan bahwa cirri-ciri Barat (Eropa) tampak lebih menonjol dan dominan.
Akulturasi yang diciptakan antara bangsa belanda dan masyarakat pribumi menghasilkan banyak kebudayaan baru yang masih awet sampai sekarang. Contohnya saja hasil karya budayanya, arsitektur rumah, peralatan rumah tangga, gaya hidup, serta tata kota merupakan hasil kebudayaan campur antara bangsa Belanda dan masyarakat pribumi yang masih bisa kita nikmati sampai sekarang. Bangunan-bangunan lama bergaya belanda-betawi itu, salah satu saksi mati adanya percampuran 2 kebudayaan tersebut.
B. Kognisi Sosial dan Nilai-nilai (nilai keindahan)
Kognitif diartikan sebagai kegiatan untuk memperoleh, mengorganisasikan dan menggunakan pengetahuan. Sedangkan kebudayaan (culture) dalam arti luas merupakan kreativitas manusia (cipta, karsa, dan rasa) dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya. Manusia akan selalu melakukan kreativitasnya (dalam arti luas) untuk memenuhi kebutuhannya yang diseinvangkan dengan tantangan, ancaman, gangguan, dan hambatan dari lingkungan alam dan sosialnya.
Dalam hal ini, wujud dan isi kebudayaan yang terjadi dalam proses akulturasi ada tiga macam, yaitu: system kultur yang berupa gagasan, ide, pikiran dan konsep. System kemasyarakatan yang berwujud kelakuan. Serta artifacts, yaitu benda-benda hasil karya manusia.
Hasil karya manusia pribumi itu sendiri berupa benda antara lain berupa ukiran-ukiran kayu untuk perabotan rumah tangga, arsitektur rumah, bangunan candi, yang kemudian dipadukan dengan pengetahuan dari bangsa eropa yang kemudian menghasilkan alat kelengkapan hidup seperti pakaian, dan alat – alat produksi yang bergaya indis. Dengan perpaduan tersebut terciptalah hasil karya gabungan yang memiliki nilai artistic yang tinggi.
Isi kebudayaan menurut para antropolog, ada tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal. “IsI” kebudayaan Belanda yang datang memperkaya kebudayaan Indonesia dalam konteks tujuh unsur budaya universal itu ialah:
1. Bahasa (lisan maupun tertulis)
2. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia ( pakaian, rumah, senjata, alat transpotrasi, alat produksi, dll
3. Mata pencaharian dan system ekonomi (pertanian dan perternakan, system produksi, dll)
4. Sistem kemasyarakatan (organisasi politik, system kekerabatan, system hokum, system perkawinan, dll)
5. Kesenian (seni rupa, seni sastra, seni gerak, dll)
6. Ilmu pengetahuan
7. Religi
C. Sosialisasi Bahasa dan Keturunan (Biologis)
Sejak awal abad ke 18 sampai awal abad ke 20, bahasa melayu pasar mulai berbaur dengan bahasa Belanda. Pembauran ini berawal dari bahasa komunikasi yang digunakan oleh keluarga dalam lingkungan. “indische Landshuizen”, yang selanjutnya digunakan oleh golongan Indo-Belanda. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, proses perpaduan bahasa Belanda dan Jawa terjadi hanya pada sebagian masyarakat pendukung kebudayaan indis. Proses ini menimbulkan bahasa pijin atau bahasa campuran yang pada umumnya digunakan oleh orang-orang keturunan Belanda dengan ibu Jawa, oleh Cina keturunan, dan Timur asing. Bahasa hasil campuran orang-orang Belanda dengan orang Jawa ini lazim disebut bahasa Peotjoek
Kehadiran bangsa Belanda di Indonesia yang dilanjutkan dengan pencampuran darah dan budaya, memunculkan sekelompok masyarakat yang berdarah campuran. Mereka juga menggunakan bahasa poetjoek, yaitu bahasa yang digunakan oleh golongan orang-orang papa atau miskin dan orang-orang Belanda yang tidak diakui. Bahasa poetjoek juga digunakan oleh anak-anak Indo dan anak-anak dari golongan masyarakat terpandang, tapi tidak boleh digunakan dirumah karena mereka harus menggunakan bahasa Belanda sopan.
Anak-anak yang beribu Jawa dan berayah Belanda, biasanya lebih banyak menerima pengaruh budaya dari pihak Ibu. Hal itu disebabkan karena mereka besar dalam lingkungan orang Jawa, dan sehari-hari mereka mendengar bahasa Jawa serta menyaksikan tingkah laku orang Jawa. Mereka juga mendengar bahasa belanda dari ayahnya, namun mereka melafalkannya dengan menggunakan logat Jawa.
D. Konformitas Dalam Menggunakan Karya Untuk Kelengkapan Hidup dan Perkembangan Moral
a. Rumah Tempat Tinggal
Bentuk bangunan tempat tinggal dengan ukuran yang besar dan luas, memiliki hiasan mewah, penataan halaman yang rapi, dan perabotan lengkap merupakan tolak ukur derajat kekayaan pemiliknya dan status sosial dalam masyarakat. Gaya hidup yang serba cukup mewah dapat menjadi lambang prestise dan status sosial yang tinggi.

b. Kelengkapan dan Peralatan Rumah Tangga
Kelengkapan rumahtangga, seperti meja, kursi, dan almari merupakan barang baru yang dikenal oleh suku Jawa setelah orang Eropa datang ke Nusantara. Setelah itu baru kemudian golongan bangsawam dan priyayi mulai menggunakan peralatan rumah tangga yang disebut meubelair.
Perabotan rumah tangga atau meubelair yang dibuat di Hindia Belanda berbahan dasar kayu jati berkualitas baik dengan ukiran motif bergaya Jawa atau bercampur dengan motif bergaya Eropa.

E. Konformitas, Compliance, Obedience Dalam Mata Pencaharian
Abad ke 18 dan 19 merupakan zaman keemasan bagi penjajahan dunia, demikian pula dengan VOC. VOC mencapai puncak kejayaannya setelah pemerintahan Belanda memperkokoh kekuasaannya di Nusantara. Sebelum pertengahan abad ke -19, politik colonial belanda berbeda dengan abad-abad sebelumnya yang lebih mengutamakan perdagangan,. Pada abad ke -19 ini, Belanda lebih mengutamakan penaklukan ilayah dari tangan bangsa pribumi serta merebut peragangan rempah-rempah dari sainganya.
Berbagai usaha perluasan penjajahan ini melibatkan banyak tenaga pribumi sehingga muncullah mata pencaharian baru bagi banyak orang jawa. Pekerjaan yang menggunakan tenaga Indo-Eropa atau pribumi antara lain sebgai prajurit sewaan,pejabat administrasi pemerintahan, dan tenaga kasar.
Dari ulasan diatas, para pribumi melakukan pekerjaan dari mata pencahariannya itu tidak semata-mata denggan sukarela, tapi disana terdapat proses dan prilaku konformitas, konkompliance, dan obdiaence yaitu tujuannya agar tidak hanya dipandang “baik”, tapi sangat diperlukan untuk dapat berfungsi secara baik dalam kelompoknya, dan untuk dapat berhasil menjalin hubungan interpersonal bahkan untuk menikmati status yang lebih tinggi dan mendapat penilaian atau kesan positif, dan yang terpenting, mereka dapat menghidupi keluarganya karena menjadikan sesuatu yang dipatuhi, dan diikutinya itu sebagai mata pencahariannya dan penunjang kehidupannya.

F. PENGERTIAN DAN TUJUAN PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA
Manusia diciptakan tidak bersifat universal melainkan bersifat local, hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dan memiliki budaya sendiri.
Konsep Indis disini hanya terbatas pada ruang lingkup di daerah kebudayaan Jawa, yaitu tempat khusus bertemunya kebudayaan Eropa (Belanda ) dengan Jawa.
G. HUBUNGAN PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA DENGAN ILMU LAIN
Psikologi lintas budaya sama seperti dengan Psikologi budaya mencoba mempelajari bagaimana factor budaya dan etnis mempengaruhi perilaku manusia.
Gaya hidup golongan masyarakat pendukung kebudayaan Indis menunjukkan perbedaan mencolok dengan kelompok-kelompok social lainnya., terutama dengan kelompok masyarakat tradisional Jawa. Tujuh unsure universal kebudayaan Indis, seperti halnya tujuh unsure universal yang dimiliki semua bangsa, mendapatkan bentuk dari akar budaya Belanda, ataupun budaya Pribumi Jawa. Kehidupan social dan ekonomi yang rata-rata lebih baik dibandingkan dengan kehidupan social masyarakat Pribumi pada umumnya, memungkinkan mereka memiliki rumah tinggal berukuran besar, yang bagus di dalam kompleks yang wilayahnya khusus pula.
H. Etnosentrisme dalam Psikologi Lintas Budaya
Kedudukan sebagai kelompok penguasa membuat masyarakat Indis berupaya menjaga prestise dan kedudukannya melalui berbagai cara agar dpat dibedakan dengan kelompok masyarakat lainnya. Kewibawaan, kekayaan dan kebesarannya ditampilkan agartampak lebih mewah dan agung dibandingkan kelompok-kelompok masyarakat lain. Hal demikian dimaksudkan untuk menjaga kelangsungan kekuasaa mereka di nusantara.
Kehidupan masyarakat Hindia Belanda umumya terpisah dalam kelompok-kelompok dengan batas-batas yang diatur dengan ketat. Batas-batas tersebut antaralain batas warna kulit, kelas social serta asal keturunan. Namun, ada pengecualian dalam lapangan ekonomi, ada kelas majikan yang berkulit putih dan pekerja atau budak yang berkulit berwarna. Selain itu dalam lapangan kerja seks, lazim para pejabat pemerintahan atau administrator perkebunan memiliki dan memelihara nyai ata gundik yang dapat diambil dari anak atau isteri kuli pekerja perkebunan atau dari kampong orang Pribumi.
I . Transmisi Budaya melalui enkulturasi dan sosialisasi
Enkulturasi adalah suatu proses dimana individu belajar cara berpikir, bertindak, dan merasa yang mencerminkan kebudayaan masyarakatnya. Sosialisasi menunjukkan proses pengintegrasian individu ke dalam sebuah kelompok social.
Kehadiran balatentara Jepang dalam Pernag Dunia II tahun 1942 menumbangkan lambing-lambang kebesaran budaya Indis dan mengubur kebudayaan dan gaya hidup boros serta mewah itu. Meskipun demikian, kebudayaan Indis tidak seluruhya lenyap. Dari pohon budaya Indis yang besar dan menjangkau peradaban yang luas di Indonesia itu, masih ada tunas-tunas yang hidup dan tetap berlanjut dan berkembang pada pada masa Republik Indonesia setelah runtuhnya pendudukan Jepang. Bahkan, di antara usur-unsur universal budaya Indis yang tetap menjadi unsure dominan sebagai kebudayaan nasional Indonesia, misalnya system pendidikan, system pemerintahan, perundang-undangan, dan sebagainya.Bahkan karya seni sesudah Indonesia merdeka, khususnya seni music dan seni drama tetap berlanjut. Penggunaan panggung proscenium, peralatan dan berbagai kelengkapan paggung yang modern seperti spotlight, pengeras suara, dekor dan sebagainya, melanjutkan kebiasaan masa Indis.
J. Perbedaan dan Persamaan antar budaya dalam hal-hal nilai
Satu kebiasaan yang umum dilakukan bangsa Pribumi Jawa pada pagi hari adalah pergi ke kali. Hal demikian sangat biasa termasuk untuk para perempuannya. Kebiasaan seperti iini yangmembuat jamban terletak di luar rumah. Sedangkan keluarga keturunan Belanda membuat tempat untuk mandi di tepi sungai.
Orang yang lahir di Belanda sebenarnya membenci kebiasaan mandi setiap hari. Hal demikian itu juga berlaku bagi bangsa Portugis, termasuk juga perempuannya, khususnya para nona.
K. Kontekstualisasi Kognitif
Pada upacara kematian untuk pejabat VOC atau pemerintah Hindia Belanda terdapat tokoh-tokoh yang dapat ikut “menangisi” jenazah,. Mereka menangis hingga iring-iringan pengantar jenazah sudah tidak tampa, jauh dari rumah duka. Acara meratap dan menangis tidak dikenal di Belanda. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh adat kebiasaan masyarakat Cina di Batavia sebagai tanda rasa berduka cita. Menangisi jenazah juga tidak tidak dikenal dalam ajaran Nasrani.
L.PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTAR BUDAYA DALAM HAL NILAI-NILAI
dalam disertasi F.A Soetjipto tentang kota-kota pantai disekitar selat madura terdapat informasi tentang sumber-sumber berita tertulis Pribumi antara lain berupa babat, kidung maupu serat, baik yang masih berupa manuskrip maupun yang sudah dengan jumlah cukup banyak. Karya-karya tulis ini banyak ditulis di daerah pantai (pesisir) dan pedalaman pulau Jawa.
Manuskrip tersebut antara lain Babad Negeri Semarang, Babad Tuban, Babad Gresik, Babad Blambangan, Babad Kitho Pasoeroean, Babad Lumajang dan Babad Banten. Yang berupa cerita perjalanan anatar lain adalah perjalanan R.M Poerwolelono. Kitab-kitab tersebut memberitakan dan menerangkan keadaan berbagai aspek kehidupan suku Jawa, dan secara tidak langsung juga memberitakan tentang kota, rumah, adat, sejarah, dan sebagainya.
M. AKAR SEJARAH ALAM BENTUK PERSEPSI
Menggunakan sumber-sumber berupa babad, serat atau cerita perjalanan memerlukan ketelitian dan sikap kritis dalam memahaminya karena kitab-kitab tersebut memang tidak dimaksudkan sebagai karya sejarah, tetapi lebih bersifat karya sastra. Zoetmulder mengingatkan bahwa sikap subjektif dan fantasi si penulis mungkin sangat menonjol sehingga diperlukan sikap hati-hati dan kritis para pembaca.
N. PERSEPSI POLA DAN GAMBAR
Untuk meneliti kebenaran karya tuliis atau relief sebagai sumber berita sejarah, diperlukan kecermatan dan sikap hati-hati. Bagaimanapun juga, silang pendapat antara N.J>krom dan F.D.K. Bosch dalam menggunakan relief candi di Jawa sebagai sumber sejarah kehidupan sehari-hari masyarakatJawa perlu diperhatikan(sebagai contoh). Kedua pengamat dan peneliti sejarah kesenian Indonesia kuno tersebut mempermasalahkan nilai relief Candi Borobudur sebagai sumber sejarah. N.J.Krom menilai pentingnya relief candi sebagai sumber sejarah kehidupan masyarakat Jawa, sementara F.D.K. Bosch meragulkan kebenaran bentuk bangunan rumah pada relief bangunan tersebut benar-benar terdapat Jawa. T. Galestien sependapat dengan N.J.Korm dalam tulisannya berjudul Houtbouwop Oost Javansche Reliefs. Penulis sependapat bahwa relief candi merupakan hal yang berharga bagi penelusuran sejarah masyarakat Jawa. Pada kaki asli Candi Borobudur dengan relief Karmawibangga, terdapat tulisan-tulisan berhuruf dan bahasa Jawa kuno yang sangat berharga untuk sumber sejarah kehidupan masyarakat Jawa. Bukti ini menjadi petunjuk bahwa si pelaksana pembangunan Candi Borobudur adalah orang yang berbahasa dan menulis dengan dengan huruf atau orang Jawa.

O. TRANSMISI BUDAYA
Sejak 1960-an demi kepentingan ekonomi dan perdagangan, banyak bangunan rumah gaya Indis yang dirombak atau digusur. Penggusuran semacam itu antara lain diawali di Jakarta untuk kepentingan Asian Games, kemudian disusul proinsi-provinsi lain. Bangunan-bangunan Indis yang megah tersebut banyak yang dirombak dan digusur untuk dijadikan bangunan bank, toko swalayan dan sebagainya. Bahkan perombakan dan penggusuran dapat terjadi karena suatu bangunan dianggap tidak sesuai lagi dengan gaya zaman atau selera rasa keindahan bangsa Indonesia sekarang.
P. INTELIGENSI UMUM
Sayang sekali peninggalan seni lukis pada benda-benda keramik (misalnya lukisan pada jambangan dan piring) di Indonesia tidak dikenal. Bahkan sampai sekarang tidak ada tradisi melukiskan bangunan atau rumah pada karya keramik seniman dan pengrajin Indonesia, apalagi disertakan tulisan. Untunglah ingatan generasi tua bangsa Indonesia masih segar dan peninggalan bangunan rumah gaya Indis masih banyak tersebar di setiap kota di Pulau Jawa, walaupun pada akhir abad ke-20 nasibnya makin merana. Nama penghuni dan kegunaan masing-masing bangunan masih dapat dirunut kembalidari cerita para orang tua yang kini masih hidup atau dari berbagai karya sastera, namun jumlah generasi tua makin sedikit dan mereka semakin pikun.
KONTEKS SOSIAL
Pakaian para pekerja, apabila dibandingkan dengan pakaian tuan-tuan bangsa Eropa, tampak jelas berbeda. Bahkan pakaian antara orang-orang Eropa sendiri, sesuai dengan kedudukan kepangkatannya, tampak berbeda.
C. Pola Pemukiman Masyarakat Indis di Kota, Provinsi dan Kabupaten di Jawa
Pengertian kota dan macam-macam jenis kota yang menarik ialah karya tulis Peter J.M Nas yang membahas tentang kota yang dibedakannya menjadi empat macam, yaitu :
1. Kota awal Indonesia
Kota awal Indonesia memiliki struktur yang jelas mencerminkan tatatanam kosmologis dengan pola-pola sosial budaya yang dibedakan dalam dua tipe, yaitu :
a. Kota-kota pedalaman dengan ciri-ciri tradisional dan religius.
b. Kota-kota pantai yang berdasarkan pada kegiatan perdangangan, misalnya kota Indis Semarang.
2. Kota Indis
3. Kota Kolonial
4. Kota Modern.

• Etnosentrisme dalam psikologi
Etnosentrisme secara formal didefinisikan sebagai pandangan bahwa kelompok atau budaya sendiri adalah pusat segalanya dan budaya lain akan selalu dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar budaya sendiri. Sejak awal pembentukannya sebagai kota, Batavia dijadikan pusat penguasa kolonial di Indonesia. Konfigurasi penduduk beserta wilayah pemukimannya sudah berkiblat pada bentuk kemajemukan. Pandangan bahwa kelompok atau budaya sendiri adalah pusat segalanya bisa dilihat dari pembaruan administrasi pemerintahan di Residensi Batavia telah melepaskan konsepsi pengelompokan etnis. Dasar pembagian ras dalam soal kependudukan dan susunan wilayah pemukiman tetap dipertahankan, bagaimanapun juga pengelompkan etnis dan pemisahan pemukiman berdasrkan ras dalam suatu kebijakan kolonial tidak sepnuhnya mampu membuat dikotomi mutlak.
• Awal perkembangan dan pengasuhan
Keterbukaan sebuah kota pusat pemerintahan dan perdagangan mengahruskan adanya perkembangan komunikasi dan teknologi pada abad ke-20 namun sampai abad ke-18 kota-kota di Jawa ridak mengalami perkembangan yang berarti. Kota tersebut tidak memiliki fungsi perdagangan umumnya menjadi pusat pemerintahan daerah.

• Enkulturasi dan sosialisai,Budaya dan Nilai-nilai
Berbagai peranan harus dipelajari oleh anak (individu anggota masyarakat) melalui proses sosialisasi; adapun mengenai kebudayaan perlu dipelajarinya melalui enkulturasi. Jika anak tidak mengalami sosialisasi dan/atau enkulturasi, maka ia tidak akan dapat berinteraksi sosial, ia tidak akan dapat melakukan tindakan sosial sesuai status dan peranannya serta kebudayaan masyarakatnya.
Enkulturasi adalah suatu proses dimana individu belajar cara berpikir, cara bertindak, dan merasa yang mencerminkan kebudayaan masyarakatnya. Herkovits menyatakan bahwa sosialisasi menunjukkan proses pengintegrasian individu ke dalam sebuah kelompok sosial, sedangkan enkulturasi adalah proses perolehan kompetensi budaya untuk hidup sebagai anggota kelompok. Dalam buku Kebudayaan Indis Kaarsten berupaya menggunakan percobaan dengan ilham bangunan pedesaan. Semuanya diciptakan Kaarsten dengan rekayasa desain seperti di negeri Belanda. Berlage menyebut kota Semarang adalah kota “ciptaan Kaarsten” karena Kaarsten memberi cap atau ciri bangunan di kota Semarang. Kaarsten juga membangun gedung Sobokerti, gedung pertunjukan prosenium ini adalah hasil salah satu percobaan untuk pemecahan masalah tentang gaya campuran Pribumi dengan Eropa yang disebutnya Indo-Europeesche Stjil. Tujuan utamanya agar dapat digunakan sebagai tempat pertunjukan wayang orang dan juga dapat digunakan untuk pertunjukan bentuk baru seni pentas gaya Barat dengan posisi para penonton di dalam ruangan dapat duduk dikursi, melihat kesatu arah panggung prosenium. Posisi penonton seperti ini sama dengan posisi penonton di gedung Pulzig, Berlin, Jerman sebagai banguna opera modern sebelum Perang Dunia II. Pertunjukan drama atau sandiwara dengan dialog bahasa Indonesia merupakan salah satu karya gaya Indis.
• Persepsi dan Pola gambar
Bentuk kota dan kabupaten digambarkan tidak jauh berbeda dengan lingkungan pedesaan sekitarnya. Rumah (dalem) bupati dan para pejabat tampak menonjol disekeliling alun-alun, diselingi dengan rumah kontrolir atau asisten residen dan perkantoran. Kelompok bangunan di kota lebih rapat satu sama lain dibandingkan dengan kelompok perumahan di pedesaan. Dibandingkan dengan kota-kota pantai kuno, kelompok perumahan di kota pusat pemerintahan lebih jarang.

• Budaya dan Kesehatan
Pada 1925, Sociaal Technische Vereeniging mengadakan Volkshuisvesting Congres yang kedua. Laporan (verslag) kongres kedua mempunyai jangkauan tiga hal, yaitu :
a. Rumah tinggal penduduk Pribumi
b. Perbaikan kampung-kampung jelek dan kumuh untuk jangka panjang
c. Pameran tentng perumhana penduduk.
Pengamatan tentang perbaikan pemukiman dan perumahan pribumi banyak kendalanya, khususnya pada bidang kesehatan. Yang paling memprihatinkan ialah berjangkitnya berbagai penyakit. Setelah 1910 terjadi kekurangan bahan makanan di Jawa sehingga diperlukan impor beras dari berbagai negeri di Asia. Salah satu kapal pembawa beras membawa sejenis tikus yang dengan cepat menularkan penyakit pes. Pada tahun yang sama tersebar penyakit pes dengan pesat di Malang dan menyebar lebih luas ke arah barat. Untuk memberantas penyakit, segera dibentuk dinas kesehatan rakyat.peraturan dan perbaikan rumah-rumah permukiman bangsa pribumi berhubungan erat dengan kepentingan kesehatan bangsa Belanda sendiri yang juga tinggal didalam kota yang sama.
• Self dalam konteks Sosial
Gaya hidup golongan masayarakat kebudayaan indis menunjukkan perbedaan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya terutama dengan kelompok masyarakat. Seperti di Pasuruan, orang –orang Cina tinggal di Pecinaan, sementara Pribumi tinggal di kampung-kampung yang berpenduduk padat. Untuk setiap kelompok masyarakat didirikan sekolah. Sekolah orang Eropa terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya, sedangkan orang Cina di selatan kota. Sekolah untuk anak negeri didirikan di pusat kota, tidak jauh dari kampung-kampung.
Ada empat golongan dan kebangsaan menurut Maclaine, yaitu :
1. Anak negeri atau kelompok Pribumi
2. Orang yang disamakan dengan anak negeri
3. Orang Eropa
4. Orang yang disamakan dengan bangsa Eropa
Orang yang disamakan dengan anak negeri yaitu orang Cina, Arab, Koja dan Keling. Mereka dinamakan “orang asing di bawah angin”. Untuk tetap tinggal di Jawa dan Madura mereka harus mendapat izin dari gubernur dan jenderal. Untuk tinggal di luar tempat ini, mereka harus mendapat izin kepala pemerintah setempat. Menurut Staatsblad “orang di bawah angin” ini ditempatkan dikampung-kampung yang sudah ditentukan, yang diatur kepala pemerintah negeri.
D. Upaya Mencukupi Kebutuhan Perumahan Kota
• Nilai-nilai dan motif kerja
Dari sudut ekonomi, pembangunan rumah dapat dimaksudkan untuk mencari untung. Pengusaha real estate sejak awal sudah menduga bahwa rumah berukuran kecil dibawah f 125 sebulan, tidak akan mampu disewa orang dan tidak akan menguntungkan. Khusus di Surabaya masyarakat ingin menjadi pengusaha real estate. Perusahaan membangun rumah berukuuran kecil untuk disewakan dan untuk menyimpan modal kekayaan yang menguntungkan. Dikalangan masyarakat pengusaha (asing dan Timur asing) ada yang bernafsu membuat rumah0rumah berukuran kecil atau sedang, tetapi dilengkapi perabotan serba lengkap untuk disewakan kepada orang Eropa. Pemrintah kolonial lebih tertarik untuk menarik uang subsidi dari gemeente. Subsidi digunakan untuk biaya pembuatan rumah-rumah kecil, khususnya untuk bangsa Pribumi dengan sewa paling rendah.
Sesak dan padatnya kota Bandung berubah menjadi kota industri sehingga kolonial memberlakukan hal-hal berikut :
1. Membeli tanah yang siap dibangun (bowklaar) untuk mendirikan rumah kecil dengan cara mengangsur pembayarannya secara ringan dan dengan harga tanah serendah mungkin.
2. Mendirikan rumah-rumah sederhana untuk disewakan atau dikreditkan (sewa beli)
3. Memberikan bantuan bahan-bahan atau alat-alat rumah yang tinggal dipasang.
4. Menutup suatu daerah di dalam bagian kota tertntu dan hak eigendom, yaitu hak pemilikan pribadi sehingga harga tanah tempat itu tidak selalu naik.
5. Pada awal 1930, pemerintah Bandung membuat contoh mendirikan rumah-rumah kecil sebanyak-banyaknya dengan sewa serendah-rendahnya.

E. Penggunaan Unsur Seni Tradisional dalam Rumah Gaya Indis
• Enkulturasi
Pada penggunaan unsur seni tradisional dalam rumah gaya Indis Ch. Meyll bertutur bahwa para arsitek Inggris di India berhasil dalam ciptaan-ciptaannyabdengan mendapat ilham dan mencontoh arsitektur tradisional Pribumi India yang ada disekeliling mereka. Conto-contoh dari arsitektur hasil katya bangsa yang dianggap lebih rendah atau tidak beradap. Hendaknya karya-karya yang merupakan ilham dari orang Jawa yang berbakat tersebut dapat dipakai untuk bahan ide membangun arsitektur modern di dunia Timur (Hindia Belanda)
Para reflektor menganjurkan tidak bersikap sentimen dan menolak menggunakan unsur-unsur budaya bangsa Pribumi, bila perlu mereka bisa mengawinkan dua unsur sebagai usaha baru dalam penciptaan. Orang-orang Eropa yang berbudaya dan tinggal di bumi Hindia Belanda perlu belajar dan meneliti hasil kkarya orang Jawa, arab, Cina dan India. Hal ini diperlukan untuk menghadapi adat kebiasaan pada masa lalu dan abad-abad yang akan datang.
• Ciri sifat antar budaya
Di Hindia Belanda ada dua kelompok pendapat tentang penggunaan atau pemakaian seni budaya Jawa dalam bangunan. Kelompok pertama, mengutamakan pemindahan dari negeri ibu (Belanda) yang menghendaki seni bangunan ( nasional Belanda ) diberlakukan di daerah koloni, khususnya Jawa karena kemajuan teknik bangunan tidak mudah untuk diduga sebelumnya. Kelompok ini menyebutkan bahwaperalihan menuju ke seni Jawa masih sedikit. Oleh karena itu tidak ada gejolak yang berati dalam peralihan bentuk seni bangunan dan pandangan arsitek. Kelompok kedua, karena merasa dipisahkan oleh kenyataan adanya pertimbangan politik, mereka lebih mengharapkan adanya peralihan ke seni Jawa yang dapat menuju ke seni Indo-Eropa, yaitu apabila nantinya Hindia Belanda telah dapat berdiri sendiri.
Seni Jawa juga mempunyai karakteristik sendiri seperti halnya seni bangsa Barat atau negeri-negeri di Barat lainnya. Pentingnya faktor konstruksi bangunan, kesehatan dan ekonomi juga dihargai. Walaupun demikian, pada hakikatnya jiwa nasionalisme yang terdalam dimiliki bangsa Pribumi harus diutamakan.
BAB V
Ragam Hias Rumah Tinggal
Arsitektur rumah tinggal merupakan suatu bentuk kebudayaan. Marcus Vitruvius Pollio dengan karyanya yang berjudul De Architectura Libri Dacem adalah orang yang pertama kali mencetuskan konsep ini pada abad pertama sebelum masehi. Menurutnya, terdapat tiga unsur yang merupakan faktor dasar dalam arsitektur, yaitu: (a). Kenyamanan (convenience); (b). Kekuatan atau kekukuhan (strength); dan keindahan (beauty). Sedangkan salah satu elemen dalam dunia arsitektur adalah ornamen atau ragam hias.
Abad ke-19 dikenal sebagai periode elektik, yaitu suatu periode gaya hidup yang menerapkan cara pandang serba praktis. Orang lebih mementingkan fungsi, sehingga ornament atau ragam hias tidak dianggap penting. Terlebih sejak abad ke-20 banyak benda tidak lagi memerlukan hiasan. Rumah dan interiornya tidak lagi dihias karena memang dianggap tidak perlu.
Sementara itu, ada pendapat yang menyebutkan bahwa ornamen digunakan karena diilhami faktor emosi dan faktor teknik. Faktor emosi yaitu hasil cipta yang didapat dari kepercayaan, agama, dan magis atau faktor naturalistik. Sedangkan faktor teknik mencakup bahan-bahan baku dari ornamen dan proses pembuatannya.
Berikut ini adalah lima indikasi seni bangunan dan seni lukis. Pertama, seni lukis modern adalah karya seni yang meninggalkan naturalisme yang terdapat pada seni plastid (pahat patung). Kedua, seni lukis modern bersifat bebas, terbuka, dan berlawanan dengan seni arsitektur. Ketiga, seni lukis modern penuh dengan warna-warna pada bidang yang bertolakbelakang dengan arsitektur yang tidak banyak menggunakan warna-warni seperti karya lukis. Keempat, seni lukis modern meliputi proses penciptaan bentuk plastis pada bidang datar, yang menghasilkan sesuatu yang kontras dengan permukaan bidang datar yang terbatas pada bangunan. Kelima, seni lukis modern member bentuk plastis pada bidang datar dengan pertimbangan yang tepat dan imbang.
B. Bentuk Atap dan Hiasan Kemuncak
Bangunan rumah jawa tradisional dan hiasannya dari masa awal abad ke-20 terdapat suatu keganjilan apabila dibandingkan dengan bagaimana masyarakat yang tinggal di pulau sekitarnya. Orang sumatera membangun rumah dari kayu dan orang Bali membangun rumahnya dari tanah liat yang dijemur atau dengan batu bata. Sedangkan pada umumnya bangunan pribumi di Jawa dibuat dari bahan yang murah, berdinding bamboo, beratap daun pohon palem atau rerumputan.
Bangunan rumah Jawa memiliki bermacam-macam bentuk atap. Nama atau gaya sesuatu bangunan rumah justru ditentukan menurut masing-masing bentuk atapnya, misalnya: rumah joglo, limas an, tajug, kampung dan sebagainya. Sedangkan bentuk atap bangunan rumah merupakan penentu nama sesuatu gaya bangunan rumah di Jawa dan Indonesia pada umumnya. Adapun di Eropa orang menggunakan bentuk tiang atau kepala tiang sebagai penentu ciri suatu bangunan.
Hiasan atap dan kemuncak bangunan rumah tradisional Jawa sangat sederhana. Demikian pula dengan hiasan atap dan kemuncak bangunan rumah gaya Indis pada awal abad ke-20 sebelum pengaruh seni Eropa melanda Pulau Jawa. Bersamaan dengan itu, corak bangunan rumah gaya Indis kembali lebih mendekati gaya Eropa. Hal itu tampak antara lain pada bentuk bangunan tertutup yang cocok bagi alam Eropa yang dingin.
C. Hiasan dan Kemuncak Tadhah Angin dan Sisi Depan Rumah
Di Indonesia, khususnya di Jawa, hiasan di bagian atap rumah kurang mendapat perhatian, kecuali pada bangunan-bangunan peribadatan. Pada bangunan Eropa, hiasan kemuncak mendapat perhatian da mempunyai arti tersendiri, baik dari sudut keindahan, status sosial, maupun kepercayaan.
Hiasan kemuncak dengan sisi depan rumah gaya Indis di Jawa tidak terlalu banyak digunakan, baik pada bangunan di kota maupun rumah di pegunungan dan pedesaan. Semangat menghias rumah seperti halnya masyarakat Eropa tidak terdapat pada masyarakat Indis di Jawa. Hal demikian terjadi akibat tekanan ekonomi atau kemiskinan zaman Malaise akibat Perang Dunia I. Umumnya rumah gaya Indis beragam hias sederhana, kecuali rumah orang Cina yang kaya.
Pada awal abad ke-19, bangunan rumah kayu yang setengah batu yang memiliki sisi depan atap yang meruncing menjadi ciri umum bangunan rumah gaya Indis. Namun pada akhir abad ke-20, masyarakat Indis mulai banyak menggunakan bentuk tertutup menyerupai gaya Eropa.
Pada umumnya, sisi depan atap rumah gaya Indis berbentuk runcing menjorok ke depan (tuitgevel), suatu bentuk yang lazim digunakan untuk bangunan gudang (pakhuizen), yaitu menggunakan tadhah angin berbentuk segitiga (tjimpanon atau geveltoppen) bervariasi, dari hiasan sederhana berbentuk sumbu kemuncak nokspil hingga ornamen-ornamen yang bagus. Tympanon ini berbentuk segitiga, bagian atas disebut voorschot yang terdiri atas papan-papan kayu yang disusun vertikal.
Sejarah lambang-lambang yang dipahatkan pada papan lis tadhah angin (tympanon) dapat dibedakan menjadi tiga babakan waktu, yaitu:
1. Lambang dari masa Pra-Kristen, antara lain diwujudkan dengan gambar pohon hayat, kepala kuda, atau roda matahari.
2. Masa Kristen, berupa lambing gambar salib gambar hati(hart) , jangkar (angker),
3. Khusus lambing-lambang dari agama Roma katolik, yaitu berupa miskelk dan hostie.
Bagi bangunan rumah gaya Indis di Indonesia, lambang seperti tersebut di atas sudah kehilangan makna sebagai hiasan yang mengandung arti simbolik, tetapi berfungsi hanya sebagai hiasan belaka.
1. Macam-macam Hiasan Kemuncak dan Atap Rumah
a. Penunjuk arah Angin (Windwizer)
Penunjuk arah tiupan angin (windwijzer) atau windvaan, dalam bahasa Perancis disebut girovettes dan apabila berputar-putar disebut wire-wire.
b. Hiasan Puncak Atap (Nok Acroterie) dan cerobong asap Semu
Hiasan ini terbuat dari daun alang-alang sebagai prototype, kemudian dalam rumah gaya Indis dibentuk dengan bahan semen. Atap daun alang-alang (rumbia) digantikan dengan atap genteng. Demikian halnya cerobong asap yang menjulang tinggi di Negara Belanda, digantikan menjadi “cerobong asap semu”.
c. Hiasan Kemuncak Tampak-Depan (Geveltoppen)
Bentuk segitiga pada depan rumah disebut voorschot. Seringkali voorschot itu dihias dengan papan kayu yang dipasang vertical, berhiasan, yang digunakan sampai dengan abad ke-19. Ragam hias yang dipahatkan seringkali memiliki arti simbolik berupa huruf-huruf yang distilisasi sehingga merupakan motif ragam hias (runenschrift). Misalnya:
1. Lambang Manrune, dengan bentuk huruf M, terkadang dengan bentuk bunga tulip atau leli, mengandung arti simbolik kesuburan.
2. Perhiasan oelebord atau uilebord yang terdapat di rumah para petani Friesland berupa kayu berukir melukiskan dua ekor angsa bertolakbelakang yang bersandar pada makelaar. Pada rumah gaya Indis, bentuk angsa bertolakbelakang ada yang digantikan pohon hayat (kalpataru, kalpawreksa).
3. Hiasan berupa makelaar, yaitu papan kayu berukir, panjang sekitar dua meter ditempel secara vertikal.
d. Ragam Hias Pasir dari Material Logam
Ragam hias lain yang melengkapi bangunan rumah yang berbahan besi misalnya untuk:
a. Pagar serambi (stoep)
b. Kerbil, yaitu penyangga atap emper pada bagian depan dan belakang rumah.
c. Penunjuk arah mata angin
d. Lampu halaman
e. Kursi kebun
2. Ragam Hias pada Tubuh Bangunan
Ragam hias yang terdapat di bagian tubuh bangunan misalnya pada lubang-lubang angin (bovenlicht) yang terletak di atas pintu atau jendela. Hiasan yang berupa ukir krawanga (a’jour relief) ini lazimnya terbuat dari kayu, tetapi pada rumah-rumah mewah yang dihuni pembesar pemerintah kadang terbuat dari besi.

Lubang angin pada rumah gaya Indis di Jawa dihias sederhana saja, yaitu lukisan beberapa anak panah yang ujung-ujungnya menuju kearah pusat. Sedangkan pada bangunan besar seperti istana atau keraton raja-raja Jawa Yogyakarta dan Solo, batang bagian dalamnya dihias dengan gaya Ionia dan Korinthia.

Penggunaan tiang gaya Doria, Ionia, Korinthia, dan Komposit disesuaikan dengan pandangan dan filsafat Yunani dan Romawi kuno. Bangsa Doria yang bersifat dan berjiwa militer serta menyukai kekuasaan menciptakan gaya Doria. Sehingga gaya Doria sangat cocok sebagai hiasan bangunan pemerintahan atau penguasa. Suku Ionia yang berwatak menyukai ketenangan, keindahan, dan keserasian menciptakan gaya Ionia. Sementara itu, para pedagang Korinthia, untuk menunjukkan kekayaan dan kemewahan, memesan batang tiang gaya Korinthia kepada para seniman bernama Kalimachos.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pandangan bahwa kelompok atau budaya sendiri adalah pusat segalanya dan budaya lain Akan selalu dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar budaya sendiri” Semua artefak kebudayaan berupa monografi, kesusasteraan, kisahperjalanan, lukisan, foto,sketsa,artefakan seni bangunan indis menunjukkan kemampuan segolongan masyarakat Indonesia dalam mengambi unsur – unsur budaya asing tanpa meninggalkan budaya tradisionalnya.

3.2 Saran

Diharapkan mahasiswa mahasiswa mampu memahami dan mengerti tentang unsur-unsur kebudayaan Indis yang ada di Indonesia. Sehingga diharapkan bisa dituangkan dalam kehidupan sehari-hari untuk dapat saling bertoleransi satu sama lain.

 
1 Comment

Posted by on October 4, 2011 in Kebudayaan Indis, Psychology

 

Konsep Sehat, Kepribadian sehat Psikoanalisa dan Behavioristik

I. Konsep Sehat

Apa itu sehat??? Apakah konsep sehat yang sebenarnya? Menurut saya sehat adalah sehat jasmani dan rohani dan sehat itu bukan hanya dari sehat fisik saja, melainkan sehat mental, emosional, sosial.   Dimana seseorang bisa mengembangkan potensinya lebih baik jika dalam keadaan sehat, jika mereka tidak dalam keadaan sehat pengembangan potensi akan berkurang.

II. Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

A.     Era pra Ilmiah

1.      Kepercayaan Animisme

Sejak zaman dulu sikap terhadap gangguan kepribadian atau mental  telah muncul dalam konsep primitif animeisme, ada kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasisi oleh roh-roh atau dewa-dewa. Orang primitrif percaya bahwa angin bertiup, ombak mengalun, batu berguling, dan pohon tumbuh karena pengaruh roh yang tinggal dalam benda-benda tersebuit.

Orang yunani percaya bahwa gangguan mental terjadi karena dewa marah dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dari korban.

2.      Kemunculan Naturalisme

Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-467). Dia dan pengikuutnya mengembangkan pandangan revolusioner dalam pengobatan, yaitu dengan menggunakan pendekatan ”Naturalisme”, suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental atau fisik itu merupakan akibat dari alam. Hipocrates menolak pengaruh roh, dewa, syetan atau hantui sebagai penyebab sakit. Dia menyatakan: ”Jika anda memotong batok kepala, maka anda akan menemukan otak yang basah, dan memicu bau yang amis, akan tetapi anda tidak akan melihat roh, dewa atau hantuyang melukai badan anda”.

Ide naturalkistik ini kemudian dikembangkan oleh Galen, seorang tabib dalam lapangan pekerjaan pemeriksaan atau pembedahan hewan.

Dalam perkembangan selajutnya, pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi dikalangan orang-orang kristen. Seorang dokter perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filasafat politik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia telah terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, para pasiennya (yang maniac) dirantai, diikat ditembok dan ditempat tidur. Para pasien yang telah dirantai selama 20 tahun atau lebih, adan mereka dipandang sangat berbahaya dibawa jalan-jalan disekitar ruimah sakit. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak menunjukkan lagi kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya sendiri.

B.     Era Ilmiiah (Modern)

Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan era pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan tradisional ke sikap dan cara yang rasional (ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya Psikologi Abnormal dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada tahun 1783. ketika itu benyamin rush (1745-1813) menjadi anggota staff medis dirumah sakit Penisylvania. Dirumah sakit ini ada 24 pasien yang dianggap sebagai ”lunaties” (orang-orang gila atau sakit ingatan).

Pada waktu itu sedikit sekali pengetahuan tentang penyakit kegilaan tersebut, dan kurang mengetahui bagaimana menyembuhkannya. Sebagai akibatnya, pasien-pasien tersdebut didukung dalam sel yang kurang sekali alat ventilasinya, dan mereka sekali-sekali digugur dengan air.

Rush melakukan usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan mental tersebut. Cara yang ditempuhnya adalah dengan melalui penulisan artikel-artikel dalam koran, ceramah, dan pertemuan-pertemuan lainnya. Akhirnya, setelah usaha itu dilakukan (selama 13tahun), yaitu pada tahun 1796, dirumah mental. Ruangan ini dibedakan untuk pasien wanita dan pria. Secara berkesenimbungan, rush mengadakan pengobatan kepada para pasien dengan memberikan dorongan (motivasi) untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan.

Perkembangan psikologi abnormal dan pskiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya Mental Hygiene yang berkembang menjadi suatu ”Body Of Knowledge” berikut gerakan-gerakan yang teorganisir.

Perkembangan kesehatan mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran dan inspirasi para ahli, dalam hal ini terutama dari dua tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde Dix dan Clifford Whittingham Beers. Kedua orang ini banyak mendedikasikan hidupnya dalam bidang pencegahan gangguan mental dan pertolongan bagi orang-orang miskin dan lemah. Dorthea Lynde Dix lahir pada tahun 1802 dan meninggal duinia tanggal 17 July 1887. dia adalah seorang guru sekolah di Massachussets, yang menaruh perhatian terhadap orang-orang yang mengalami gangguan mental. Sebagian perintis (pioneer), selama 40tahun dia berjuang untuk memberikan pengorbanan terhadap orang-orang gila secara lebih manusiawi.

Usahanya mula-mula diarahkan pada para pasien mental dirumah sakit. Kemudian diperluas kepada para penderita gangguan mental yang dikurung dirumah-rumah penjara. Pekerjaan Dix ini merupakan faktror penting dalam membangun kesadaran masyarakat umum untuk memperhatikan kebutuhan para penderita gangguan mental. Berkat usahanya yang tak kenal lelah, di Amerika serilkat didirikan 32 rumah sakit jiwa, dimana dia layak mendapat pujian sebagai salah seorang wanita besar di abad 19.

Pada tahun 1909, gerakan kesehatan mental secara formal mulai muncul. Selama dsekade 1900-19090 beberpa organisasi kesehetran mental telah didirikan, sepert: American Social Hygiene Associatin (ASHA), dan American Federation for Sex Hygiene.

Perkembangan  gerakan-gerakan dibidang kesehatan mental ini tidak lepas dari jasa Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Bahkan, karena jasa-jasanya itulah, dia dinobatkan sebagai ”The Founder Of The Mental Hygiene Movement”. Dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi.

Dedikasi Beers yang begitu kuat dalam kesehatan mental, dipengaruhi juga oleh pengalamannya sebagai pasien dibeberapa rumah sakit jiwa yang berbeda. Selama dirumah sakit, dia mendapatkan pelayanan atau pengobatan yang keras dan kasar (kuarang manusia). Kondisi seperti ini terjadi, karena pada masa itu belum ada perhatian terhadap masalah gangguan mental, apalagi pengobatannya.

Setelah dua tahun mendapatkan perawatan dirumah sakit dia mulai memperbaiki dirinya, dan selama tahun terakhirnya sebagai pasien, dia mulai mengembangkan gagasan untuk membuat suatu gerakan untuk melindungi orang-orang yang mengalami gangguan mental atau orang gila (insane). Setelah dia kembali dalam kehidupan yang normal (sembuh dari penyakitnya), pada tahun 1908 di menindaklanjuti gagasannya demngan mempublikasikan sebuah tulisan autobiografinya sebagai, mantan penderita gangguan mental, yang berjudul ”A Mind That Found It Self”. Kehadiran buku ini disambut baik oleh Willian james, sebagai seorang pakar psikologi. Dalam buku ini, dia memberikan koreksi terhadap program pelayanan, perlakuan atau ”treatment” yang diberikan kepada para pasien dirumah sakit-rumah sakit yang dipandangnya kurang manusiawi. Disamping itu dia melupakan reformasi terhadap lembaga yang diberikan perawatan gangguan mental.

Beers meyakini bahwa penyakit atau gangguan mental dapat dicegah atau disembuhkan. Selanjutnya dia merancang suatu program yang bersifat nasional tujuan:

1.      Mereformasi program perawatan dan pemngobatan terhadap orang-orang pengidap penyakit jiwa.

2.      Melakukan penyebaran informasi kepada masyarakat agar mereka memiliki pemahaman dan sikap yang positif terhadap para pasien yang mengidap gangguan atau penyakit jiwa

3.      Mendorong dilakukannya berbagai penelitian tentang kasus-kasus dan pengobatan gangguan mental.

4.      Mengembangkan praktik-praktik untuk mencegah gangguan mental.

Program Beers ini ternyata mendapat respon positif dari kalangan masyarakat, terutama kalangan para ahli, seperti Wlliam James dan seorang Psikiatris ternama, yaitu Adolf Mayer. Begitu tertariknya terhadap gagasan Beers, Adolf Mayer menyarankan untuk menamai gerakan itu dengan nama ”Mental Hygiene”. Dengan demikian, yang mempopulerkan istilah ”Mental Hygiene” adalah Mayer.

Belum lama setelah buku itu diterbitkan, yaitu pada tahun 1908, sebuah organisasio pertama, didirikan, dengan nama ”Connectievt Society For Mental Hygiene”. Satu tahu kemudian, tepatnya pada tanggal 19 Februari 1909 didirikan ”National Commitye Siciety For Mental Hygiene”, disini Beers diangkat menjadi sekretarisnya. Organusasi ini bertujuannya:

1.      Melindungi kesehatan mental masyarakat

2.      Menyusun standar perawatan para pengidap gangguan mental

3.      Meningkatkan studi tentang gangguan mental dalam segala bentuknya dan berbagai aspek yang terkait dengannya.

4.      Menyebarkan pengetahuan tentang kasus gangguan mental, pencegahan dan pengobatannya

5.      Mengkoordinasikan lembaga-lembhaga perawatan yang ada

Terkait dengan perkembangan gerakan kesehatan mental ini, Deutsch mengemukakan bahwa pada masa dan pasca Perang Dunia I, gerakan kesehatan mental ini mengkonsentarsikan programnya untuk membantu mereka yang mengalami masalah serius. Setelah perang usai, gerakan kesehatan mental semakin berkembang dan cakupan garapannya meliputi berbagai bidang kegiatan, seperti : pendidikan, kesehatan masyarakat, pengobatan umum, industri, kriminologi, dan kerja sosial.

Secara hukum, gerakan kesehatan mental ini mendapatkan pengukuhannya pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani ”The National Mental Helath Act”. Dokumen ini merupakan bluprint yang komprehensif, yang berisi program-program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat.

Beberapa tujuan yang terkandung dalam dokumen tersebnut itu meliputi:

1.      Meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat Amerika Serikat, melalui penelitian, inevetigasi, eksperimen penanganan kasus-kasus, diagnosis dan pengobatan

2.      Membantu lembaga-lembaga pemerintah dan swasta yang melakukan kegiatan penelitian dan meningkatkan koordinasi antara para peneliti dalam melakukan kegiatan penelitian dan meningkatkan kegiatan dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitiannya.

3.      Memberikan latihan terhadap para personel tentang kesehatan mental

4.      Mengembangkan dan membantu negara dalam menerapkan berbagai metode pencegahan, diagnosis, dan pengobatan terhadap para pengidap gangguan mental

Pada tahun 1950 organisasi kesehatan mental terus bertambah, yaitu dengan berdirinya ”National Association For Mental Health” yang bekerjasama dengan tiga organisasi swadaya masyarakat lainnya, yaitu ”National Committee For Mental Hygiene”, ”National Mental Health Foundation”, dan ”Psychiatric Foundation”.

Gerakan kesehatan mental ini terus berkambang, sehingga pada tahun 1075 di Amerika serikat terdapat lebih dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Dibelahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui ”The World Federation For Mental Health” dan “The World Health Organization”.

(Yusuf, Syamsu. ”Mental Hygiene Perkembangan Kesehatan Mental dalam kajian Psikologi dan agam”. Pustaka Bani Quraisy bandung. Bandung. 2004 ; http://bpi2006uinjkt.blogspot.com/2009/06/sejarah-gerakan-kesehatan-mental.html)

III. Kepribadian Sehat

Kepribadian sehat terbagi dari 3 aliran Psikologi yaitu :

1. Psikoanalisa

2. Behavioristik

3. Humanistik :  – Allport

- Rogers

- Maslow

- Fromn

3 aliran tersebut pasti sudah sering kita dengar, mungkin sebagian orang yang bukan latar belakang psikologi ada yang tahu dan ada juga yang tidak mengenal 3 aliran diatas, tapi untuk mahasiswa psikologi pasti sudah sering mendengar ketiga aliran tersebut. Saya akan menulisakan Kepribadian Sehat menurut Psikoanalisa dan Behavioristik saja.

Apakah itu kepribadian sehat? Bagaimana tingkah laku, pikiran, serta perasaan orang memilki kepribadian sehat?

Sebagian besar orang Amerika mencari-cari dalam kelompok, menyelidiki, dan menyingkapkan diri batiniah (dan badan) mereka dalam sensitivity session, dan sejumlah bentuk encounter therapy lainnya. Pokok dari geerakan yang sangat populer ini adalah menemukan suatu kepribadian yang sehat. Tekanan yang tidak begitu banyak pada penyembuhan konflik-konflik yang ada hubungannya dengan masa kanak-kanak dan luka-luka emosional masa lampau dibandingakan dengan pada pelepasan sumber-sumber yang tersembunyi dari bakat, kreativitas, dan dorongan. Yang maksudnya adalah ke arah apa seseorang dapat menjadi, bukan kearah apa telah terjadi.

1. Psikoanalisa

Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia.

Aliran psikoanalisa melihat manusia dari sisi negatif, alam bawah sadar (id, ego, super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini mengabaikan Potensi yang dimiliki oleh manusia. Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis dan pengalaman-pengalaman dini.

Kepribadian Sehat Psikoanalisa:

  • Pada alam pikiran tidak sadar dan kreativitas sebagai kompensasi untuk masa anak-

anak yang traumatis.

  • Individu bersifat egois, tidak bermoral, dan tidak mau tahu kenyataan.
  • Manusia sebagai homo valens dengan berbagai dorongan dan keinginan
  • Motif-motif dan konflik tak sadar adalah sentral dalam tingkah laku sekarang
  • Manusia didorong oleh dorongan seksual agresif
  • Perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada

konflik-konflik masa kanak-kanak yang direpresi.

Dalam aliran Psikoanalisa ini bisa dibilang manusia adalah korban tekanan biologis dan konflik masa kanak-kanak. Aliran ini melihat dari sisi negative individu, alam bawah sadar (id,ego,superego, mimpi dan masa lalu.

Pandangan kaum psikoanalisa, hanya memberi kepada kita sisi yang sakit atau kurang, ‘sisi yang pincang’ dari kodrat manusia, karna hanya berpusat pada tingkah laku yang neuritis dan psikotis.

Sigmund freud dan orang-orang yang mengikuti ajarannya mempelajari kepribadian yang terganggu secara emosional, bukan kebribadian yang sehat; atau kebribadian yang paling buruk dari kodrat manusia, bukan yang paling baik.

Jadi, aliran ini memberi gambaran pesimis tentang kodrat manusia, dan manusia dianggap sebagai korban dari tekanan-tekanan  biologis dan konflik masa kanak-kanak.

2. Behavioristik

Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage danBerliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Aliran behaviorisme memperlakukan manusia sebagai mesin, yaitu di dalam suatu system kompleks yang bertigkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum. Dalam pandangan kaum behavioris, individu digambarkan sebagai suatu organisme yang bersifat baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup, berkreativitas, seperti alat pengatur panas.

Kepribadian sehat behavioristik :

  • Manusia adalah makhluk perespon; lingkungan mengontrol perilaku.
  • Manusia tidak memiliki sikap diri sendiri
  • Mementingkan faktor lingkungan
  • Menekankan pada faktor bagian
  • Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
  • Sifatnya mekanis mementingkan masa lalu

Manusia diperlukan sebagai mesin, layaknya alat pengatur panas yang mengatur semuanya. Aliran ini menganggap manusia yang memberikan respons positif yang berasal dari luar. Dalam aliran ini manusia dianggap tidak memiliki sikap diri sendiri. Dan ciri-cirinya yaitu : tersusun baik, teratur dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup dan krativitas.

Jadi, manusia dilihat oleh para behavioris sebagai orang-orang yang memberikan respons secara pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar dan manusia di anggap tidak memiliki diri sendiri.

Suatu tipe orang yang berbeda dari apa yang digambarkan oleh behaviorisme dan psikoanalisis, bentuk-bentuk psikologi tradisional. Behaviorisme memperlakukan manusia sebagai suatu mesin , “ suatu sistem kompleks yang bertingkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum. Individu digambarkan sebagai suatu ot=rganisme yang tersusun baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup, dan kreativitas, seperti suatu alat pengatur panas.

Psikoanalisis telah memberi kepada kita hanya sisi sakit atau pincang dari kodrat manusia karena hanya berpusat pada tingkah laku yang neurotis dan psikotis. Freud dan orang-orang yang mengikuti ajarannya mempelajari kepribadian yang terganggu secara emosional, bukan kepribadian yang sehat, yang paling buruk dari kodrat manusia, bukan yang paling baik.

Baik behaviorisme maupun psikolanalisis tidak berbicara mengenai potensi kita untuk bertumbuh, keinginan kita untuk menjadi lebih baik atau lebih banyak dari yang ada.

 

Sumber : Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan Model-model Kepribadian Sehat.  Yogyakarta : Kanisius

http://hanasukachelseabgd.blogspot.com/2009/10/perbedaan-teori-kepribadian-sehat.html

http://community.gunadarma.ac.id/blog/view/id_2663/title_kepribadian-sehat-psikoanalisa-humanistik-dan/

http://devianggraeni90.wordpress.com/2009/10/12/perbedaan-psikoanalisa-behaviorisme-dan-humanistik-terhadap-kepribadian-sehat/

 

 

 

Teknologi komputer dalam bidang psikologi pendidikan

Teknologi Komputer dalam bidang Psikologi Pendidikan


Mutia Farida

15509805

2PA01

——————————————————————————————————————————————–

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan

BAB II KOMPUTER DAN PSIKOLOGI

2.1 Pengertian Komputer

2.2 Sejarah Komputer

2.2.1 Generasi Pertama

2.2.2 Generasi Kedua

2.2.3 Generasi Ketiga

2.2.4 Generasi keempat

2.2.5 Generasi kelima

2.3 Pengertian Psikologi

2.4. Sejarah Psikologi

2.5 Psikologi Pendidikan

2.6 Sejarah Psikolgi Pendidikan

BAB III TEKNOLOGI KOMPUTER  DALAM  BIDANG  PSIKOLOGI  PENDIDIKAN

3.1 Beberapa Teori Dalam Psikologi yang Berhubungan dengan Pengembangan Teknologi Pendidikan

3.2 Psikologi Pendidikan dan Media Pembelajaran

3.3 Psikologi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran

3.4 Ragam Model Pembelajaran

3.5 Hubungan Psikologi Pendidikan dengan Teknologi Pembelajaran

BAB IV PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah Psikologi dan Teknologi Internet

Saya menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini saya menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.

Saya menyadari bahwa dalam proses pembuatan penulis makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, saya telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya,kami dengan rendah hati dan tangan terbuka menerima masukan,saran,dan usulan guna penyempurnaan makalah ini. Akhirnya saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Psikologi pendidikan adalah studi ilmiah tentang perilaku dan proses mental. Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Psikologi pendidikan adalah bidang yang sangat luas sehingga dibutuhkan satu buah bahasan tersendiri untuk menjelaskannya.

Teknologi pendidikan keberadaanya sudah cukup lama, yaitu di era pertengahan 1970-an. Namun sekarang masih banyak tenaga pendidik yang kurang begitu memahami apalagi menerapkannya dalam dunia pendidikan. Bahkan tidak dapat dipungkiri, masih banyak orang yang memiliki persepsi yang keliru terhadap disiplin ini. Mereka beranggapan bahwa teknologi pendidikan hanya mengenai televisi, computer atau penggantian peran guru oleh seperangkat teknologi di kelas

1.2 Tujuan

Di dalam pembuatan makalah ini ada beberapa tujuan yang saya jabarkan, diantaranya adalah :

1. Sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Psikologi dan Teknologi Internet

2. Dari hasil diatas, untuk memahami dan mengetahui lebih dalam tentang Psikologi yang Berhubungan dengan Pengembangan, Teknologi Pendidikan, Psikologi Pendidikan dan Media Pembelajaran, Psikologi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran, Ragam Model Pembelajaran, dan hubungan Psikologi Pendidikan dengan Teknologi Pembelajaran

 

BAB II

KOMPUTER DAN PSIKOLOGI

2.1 Pengertian Komputer

Komputer adalah alat yang dipakai untuk mengolah data menurut prosedur  yang telah dirumuskan. Kata computer semula dipergunakan untuk menggambarkan orang yang perkerjaannya melakukan perhitungan aritmatika, dengan atau tanpa alat bantu, tetapi arti kata ini kemudian dipindahkan kepada mesin itu sendiri. Asal mulanya, pengolahan informasi hampir eksklusif berhubungan dengan masalah aritmatika, tetapi komputer modern dipakai untuk banyak tugas yang tidak berhubungan dengan matematika

Dalam arti seperti itu terdapat alat seperti slide rule, jenis kalkulator mekanik  mulai dari abakus dan seterusnya, sampai semua komputer elektronik  yang kontemporer. Istilah lebih baik yang cocok untuk arti luas seperti “komputer” adalah “yang mengolah informasi ” atau “sistem pengolahinformasi” Selama bertahun-tahun sudah ada beberapa arti yang berbeda dalam kata “komputer”, dan beberapa kata yang berbeda tersebut sekarang disebut disebut sebagai komputer.

Kata computer secara umum pernah dipergunakan untuk mendefiniskan orang yang melakukan perhitungan aritmatika, dengan atau tanpa mesin pembantu. Menurut Barnhart Concise Dictionary of Etymology, kata tersebut digunakan dalam bahasa Inggris pada tahun 1646 sebagai kata untuk “orang yang menghitung” kemudian menjelang 1897 juga digunakan sebagai “alat hitung mekanis”. Selama Perang Dunia II kata tersebut menunjuk kepada para pekerja wanita Amerika Serikat  dan Inggris yang pekerjaannya menghitung jalan artileri perang dengan mesin hitung.

Charles Babbage mendesain salah satu mesin hitung pertama yang disebut mesin analitikal. Selain itu, berbagai alat mesin sederhana seperti slide rule juga sudah dapat dikatakan sebagai computer.

2.2 Sejarah Komputer

Saat ini, komputer sudah semakin canggih. Tetapi, sebelumnya komputer tidak sekecil, secanggih, sekeren dan seringan sekarang. Dalam sejarah komputer, ada 5 generasi dalam sejarah komputer.

2.2.1 Generasi Pertama

Komputer Generasi pertama dikarakteristik dengan fakta bahwa instruksi operasi dibuat secara spesifik untuk suatu tugas tertentu. Setiap komputer memiliki program kode biner yang berbeda yang disebut “bahasa mesin” (machine language). Hal ini menyebabkan komputer sulit untuk diprogram dan membatasi kecepatannya. Ciri lain komputer generasi pertama adalah penggunaan tube vacum  (yang membuat komputer pada masa tersebut berukuran sangat besar) dan silinder magnetik untuk penyimpanan data.

2.2.2 Generasi Kedua

Pada tahun 1948, penemuan transistor sangat mempengaruhi perkembangan komputer. Transistor menggantikan tube vakum di televisi, radio, dan komputer. Akibatnya, ukuran mesin-mesin elektrik berkurang drastis.

Transistor mulai digunakan di dalam komputer mulai pada tahun 1956. Penemuan lain yang berupa pengembangan memori inti-magnetik membantu pengembangan komputer generasi kedua yang lebih kecil, lebih cepat, lebih dapat diandalkan, dan lebih hemat energi dibanding para pendahulunya.

2.2.3 Generasi Ketiga

Walaupun transistor dalam banyak hal mengungguli tube vakum, namun transistor menghasilkan panas yang cukup besar, yang dapat berpotensi merusak bagian-bagian internal komputer. Batu kuarsa (quartz rock) menghilangkan masalah ini. Jack Kilby, seorang insinyur di Texas Instrument, mengembangkan sirkuit terintegrasi (IC : integrated circuit) di tahun 1958. IC mengkombinasikan tiga komponen elektronik dalam sebuah piringan silikon kecil yang terbuat dari pasir kuarsa. Pada ilmuwan kemudian berhasil memasukkan lebih banyak komponen-komponen ke dalam suatu chip tunggal yang disebut semikonduktor. Hasilnya, komputer menjadi semakin kecil karena komponen-komponen dapat dipadatkan dalam chip. Kemajuan komputer generasi ketiga lainnya adalah penggunaan sistem operasi (operating system) yang memungkinkan mesin untuk menjalankan berbagai program yang berbeda secara serentak dengan sebuah program utama yang memonitor dan mengkoordinasi memori komputer.

2.2.4 Generasi keempat

Setelah IC, tujuan pengembangan menjadi lebih jelas: mengecilkan ukuran sirkuit dan komponen-komponen elektrik. Large Scale Integration (LSI) dapat memuat ratusan komponen dalam sebuah chip. Pada tahun 1980-an, Very Large Scale Integration (VLSI) memuat ribuan komponen dalam sebuah chip tunggal.

2.2.5 Generasi kelima

Mendefinisikan komputer generasi kelima menjadi cukup sulit karena tahap ini masih sangat muda. Contoh imajinatif komputer generasi kelima adalah komputer fiksi HAL9000 dari novel karya Arthur C. Clarke berjudul 2001: Space Odyssey. HAL menampilkan seluruh fungsi yang diinginkan dari sebuah komputer generasi kelima. Dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), HAL dapat cukup memiliki nalar untuk melakukan percapakan dengan manusia, menggunakan masukan visual, dan belajar dari pengalamannya sendiri.

2.3 Pengertian Psikologi

Upaya untuk mendefinisikan psikologi adalah suatu pekerjaan yang sulit, karena luasnya cakupan yang menjadi permasalahan dan adanya perbedaan filosofis diantara  para praktisi. Menurut asalnya katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: “ψυχή” (Psychē yang berarti jiwa) dan “-λογία” (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.

2.4. Sejarah Psikologi

Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, psikologi melalui sebuah perjalanan panjang. Bahkan sebelum Wundt mendeklarasikan laboratoriumnya tahun 1879, yang dipandang sebagai kelahiran psikologi sebagai ilmu. pandangan tentang manusia dapat ditelusuri jauh ke masa Yunani Kuno. Dapat dikatakan bahwa sejarah psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual di Eropa, dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di benua Amerika.

2.5 Psikologi Pendidikan

Psikologi pendidikan adalah studi ilmiah tentang perilaku dan proses mental. Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Psikologi pendidikan adalah bidang yang sangat luas sehingga dibutuhkan satu buah bahasan tersendiri untuk menjelaskannya.

2.6 Sejarah Psikolgi Pendidikan

Awal mula munculnya psikologi pendidikan berawal dari tokoh pertama, William James (1842-1910) memberikan serangkaian kuliah bertajuk “Talks to Teachers”. Dalam kuliah ini ia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. Ia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.

Tokoh kedua, John Dewey (1859-1952) merupakan motor penggerak pengaplikasian psikologi dalam tingkat praktis, sehingga kemudian ia membangun laboratorium psikologi pendidikan pertama di Universitas Columbia Amerika Serikat (1894). Beberapa kajian yang penting darinya adalah pertama, kita mendapatkan pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learning), dimana anak bukan pasif duduk diam menerima pelajaran tetapi juga aktif agar proses belajar anak akan lebih baik.

Kedua, pendidikan harus difokuskan pada anak secara keseluruhan dan kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dewey percaya bahwa anak-anak seharusnya tidak mendapatkan pelajaran akademik saja, tetapi juga harus mempelajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan lingkungan luar sekolah, seperti mampu untuk memecahkan masalah dengan baik. Ketiga, ia berpendapat bahwa semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang selayaknya, mulai dari kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan, semua golongan etnis, sampai pada semua lapisan ekonomi-sosial.

Tokoh ketiga, E.L Thorndike (1874-1949) berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Thorndike sangat ahli dalam melakukan studi belajar dan mengajar secara ilmiah. Thorndike mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran.

 

BAB III

TEKNOLOGI KOMPUTER  DALAM  BIDANG  PSIKOLOGI  PENDIDIKAN

3.1 Beberapa Teori Dalam Psikologi yang Berhubungan dengan Pengembangan Teknologi Pendidikan

Pembelajaran pada hakekatnya mempersiapkan peserta didik untuk dapat menampilkan tingkah laku hasil belajar dalam kondisi yang nyata, atau untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Untuk itu, pengembang program pembelajaran selalu menggunakan teknik analisis kebutuhan belajar untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan yang diperlukan peserta didik. Bahkan setelah peserta didik menyelesaikan kegiatan belajar selalu dilakukan analisis umpan balik untuk melihat kesesuaian hasil belajar dengan kebutuhan belajar.

Menurut Lumsdaine (dalam Miarso 2009), ilmu perilaku merupakan ilmu yang utama dalam perkembangan teknologi pendidikan terutama ilmu tentang psikologi belajar, sedangkan menurut Deterline (dalam miarso 2009) berpendapat bahwa teknologi pembelajaran merupakan pengembangan ataupun aplikasi dari teknologi perilaku yang digunakan untuk menghasilkan suatu perubahan perilaku tertentu dari pebelajar secara sitematis guna pencapaian ketuntasan hasil belajar itu sendiri. Sedangkan Harless (1968) menyebutnya dengan “front-end analysis”, sedangkan Mager dan Pape (1970) menyebutnya “performance problem analysis”. Dan Romizwoski (1986) mengistilahkan kegitan tersebut sebagai “performance technology”. Belajar berkaitan dengan perkembangan psikologis peserta didik, pengalaman yang perlu diperoleh, kemampuan yang harus dipelajari, cara atau teknik belajar, lingkungan yang perlu menciptakan kondisi yang kondusif, sarana dan fasilitas yang mendukung, dan berbagai faktor eksternal lainnya. Untuk itu, Malcolm Warren (1978) mengungkapkan bahwa diperlukan teknologi untuk mengelola secara efektif pengorganisasian berbagai sumber manusiawi. Romizowski (1986) menyebutnya dengan “Human resources management technology”. Penanganan berbagai pihak yang diperlukan dan memiliki perhatian terhadap pengembangan program belajar dan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran memerlukan satu teknik tertentu yang dapat mengkoordinir dan mengakomodasikannya sesuai dengan potensi dan keahlian masing-masing.

Kajian ahli-ahli psikologi dan sosial psikologi dalam pendidikan berlangsung selama masa dan pasca perang dunia ke II, terutama menjadi fokus kajian di lingkungan pengajaran militer (Lange, 1969). Hasil kajiannya membawa pengaruh terhadap penyelenggaraan pembelajaran, terutama dalam menetapkan tujuan pengajaran, memahami peserta didik, pemilihan metode mengajar, pemilihan sumber belajar, dan penilaian. Kemudian berkembang beberapa kajian yang berkaitan dengan hubungan antara media audiovisual dengan pembelajaran yang difokuskan pada persepsi peserta didik, penyajian pesan, dan pengembangan model pembelajaran. Studi masa itu kebanyakan diwarnai oleh aliran psikologi behavior, sebagai contoh operant behavioral conditioning yang ditemukan BF Skinner (1953). Teori belajar dan psikologi behavior ini mempengaruhi teknologi pendidikan pada masa itu dalam tiga hal, yaitu:

1.    Pengembangan dan penggunaan teaching machine dan program pembelajaran;

2.    Spesifikasi tujuan pendidikan ke arah behavioral objectives; dan

3.    Pencocokan konsep operant conditioning dengan konsep model komunikasi (Ely, 1963).

3.2 Psikologi Pendidikan dan Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pendukung keberhasilan proses belajar mengajar (Sunarno, 1998). Komputer termasuk salah satu media pembelajaran. Pengunaan komputer dalam pembelajaran merupakan aplikasi teknologi dalam pendidikan. Pada dasarnya teknologi dapat menunjang proses pencapaian tujuan pendidikan. Namun sementara ini, komputer sebagai produk teknologi khususnya di sekolah-sekolah kurang dimanfaatkan secara optimal, hanya sebatas word processing saja. Kini yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menjadikan teknologi (komputer) dapat bermanfaat bagi kemajuan pendidikan.

Di lapangan, sistem penyajian (materi) melalui komputer dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti : hyperteks, simulasi–demontrasi ataupun tutorial. Tiap-tiap sistem memiliki keistimewaan masing–masing. Sangat menarik jika keunggulan masing–masing sistem tersebut digabungkan ke dalam satu bentuk model yang dapat digunakan dalam pembelajaran sehingga proses belajar mengajar akan lebih berkesan dan bermakna.

Media pembelajaran sekarang bukan hanya sekedar alat bantu bagi guru dalam menyampaikan materi-materi pembelajaran di sekolah. Media pembelajaran ini manfaatnya sangat luas, dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki peserta didik, melampaui batas ruang dan waktu, dapat membangkitkan motivasi belajar peserta didik. Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran juga dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk mengakses teknologi informasi dan komunikasi dan mempunyai ketrampilan dalam mengaplikasikannya.

Contoh penggunaan komputer dalam proses belajar. Keterampilan dalam menggunakan komputer sangat dibutuhkan peserta didik untuk hidup dalam kehidupannya di masa kini dan masa yang akan datang. Dalam perkuliahan psikologi pendidikan, selain menggunakan berbagai media seperti proyektor, laptop, dan wi-fi, kita sebagai mahasiswa juga diharuskan mempunyai blog sendiri. Dengan begitu, semua mahasiswa diharuskan membuat dan mampu mengaplikasikan blog tersebut. Dari tugas individu maupun tugas kelompok, materi kuliah dan berbagai info lainnya dapat diakses dari blog.

3.3 Psikologi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran

Teknologi pendidikan yang juga dikenal sebagai teknologi pembelajaran adalah studi dan etika praktik dalam memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengatur proses dan sumber teknologi yang tepat. Istilah teknologi pendidikan sering diasosiasikan dengan teori instruksional dan teori belajar. Teknologi instruksional meliputi proses dan sistem belajar dan instruksi, sedangkan teknologi pendidikan berkaitan dengan segala sistem yang digunakan dalam proses perkembangan kemampuan manusia.

Dengan semakin berkembangnya teknologi mempengaruhi proses belajar mengajar di dunia pendidikan. Teknologi memberikan kemudahan baik bagi pengajar maupun peserta didik dalam mengakses informasi pembelajaran.

Teknologi ini tidak hanya terpaku pada proses belajar secara e-learning akan tetapi proses belajar secara tatap muka (face to face) juga bisa dianggap sebagai pemanfaatan dari teknologi tergantung dari alat maupun fasilitas yang digunakan. Teknologi dapat berupa teknologi cetak, teknologi audio-visual, teknologi berbasis komputer, teknologi terpadu.

Dengan adanya pemanfaatan teknologi secara efektif akan dapat menunjang proses belajar mengajar karena bahan ajar tidak hanya terpaku pada kurikulum yang berlaku, para peserta didik juga dapat mengembangkan kemampuan kognitif mereka karena proses pembelajaran yang didapat tidak hanya dari institusi-institusi tertentu.

Tiga teori utama yang merupakan dasar dalam teknologi pendidikan antara lain :

1.         Behaviorisme

2.         Kognitivisme

3.         Konstruktivisme

3.4 Ragam Model Pembelajaran

Ragam model pembelajaran adalah berbagai cara yang digunakan oleh guru ataupun staf pengajar dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Ragam model pembelajaran yang dibuat tentu mempunyai benefit/manfaat yang sekiranya berguna bagi semuanya, adapun model desain pembelajaran ditujukkan untuk:

1.         Memudahkan para pengajar dlm memilih desain pembelajaran yang cocok untuk dipakai

2.         Meningkatkan hasil belajar anak didik baik dari segi pemahaman konsep maupun prakteknya,mningkatkan daya kreatifitas anak didik

3.         sebagai materi bahan ajar dan bahan acuan bagi pengajar

Berbagai ragam model pembelajaran metode pembelajaran:

1. Metode Ceramah

Dalam metode ceramah proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru umumnya didominasi dengan cara ceramah.

2. Metode Diskusi

Metode diskusi adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan penyajian materi melalui pemecahan masalah, atau analisis sistem produk teknologi yang pemecahannya sangat terbuka. Suatu diskusi dinilai menunjang keaktifan siswa bila diskusi itu melibatkan semua anggota diskusi dan menghasilkan suatu pemecahan masalah.

Jika metoda ini dikelola dengan baik, antusiasme siswa untuk terlibat dalam forum ini sangat tinggi. Tata caranya adalah sebagai berikut: harus ada pimpinan diskusi, topik yang menjadi bahan diskusi harus jelas dan menarik, peserta diskusi dapat menerima dan memberi, dan suasana diskusi tanpa tekanan.

3. Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi adalah cara pengelolaan pembelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, benda, atau cara kerja suatu produk teknologi yang sedang dipelajari. Demontrasi dapat dilakukan dengan menunjukkan benda baik yang sebenarnya, model, maupun tiruannya dan disertai dengan penjelasan lisan.

Demonstrasi akan menjadi aktif jika dilakukan dengan baik oleh guru dan selanjutnya dilakukan oleh siswa. Metoda ini dapat dilakukan untuk kegiatan yang alatnya terbatas tetapi akan dilakukan terus-menerus dan berulang-ulang oleh siswa.

4. Metode Pemberian Tugas

Metode pemberian tugas adalah cara mengajar atau penyajian materi melalui penugasan siswa untuk melakukan suatu pekerjaan. Pemberian tugas dapat secara individual atau kelompok. Pemberian tugas untuk setiap siswa atau kelompok dapat sama dan dapat pula berbeda.

Agar pemberian tugas dapat menunjang keberhasilan proses pembelajaran, maka:

1) tugas harus bisa dikerjakan oleh siswa atau kelompok siswa,

2) hasil dari kegiatan ini dapat ditindaklanjuti dengan presentasi oleh siswa dari satu kelompok dan ditanggapi oleh siswa dari kelompok yang lain atau oleh guru yang bersangkutan,

3) di akhir kegiatan ada kesimpulan yang didapat.

5. Metode Tanya jawab

Metode tanya jawab adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan mengahasilkan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa memahami materi tersebut. Metoda Tanya Jawab akan menjadi efektif bila materi yang menjadi topik bahasan menarik, menantang dan memiliki nilai aplikasi tinggi. Pertanyaaan yang diajukan bervariasi, meliputi pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya satu kemungkinan) dan pertanyaan terbuka (pertanyaan dengan banyak kemungkinan jawaban), serta disajikan dengan cara yang menarik.

6. Mind Mapping

Suatu metode  untuk memaksimalkan potensi pikiran dengan menggunakan otak  kanan dan otak kirinya secara simultan. Biasanya dalam bentuk power point.

Sebenarnya masih banyak metode-metode pembelajaran. Dari keenam metode diatas adalah metode pembelajaran yang paling sering digunakan dalam pembelajaran.

3.5 Hubungan Psikologi Pendidikan dengan Teknologi Pembelajaran

Media berasal dari bahasa latin, asal kata jamaknya adalah medium. Medium arti sederhananya adalah ANTARA. Kembali ke istilah belajar. Belajar terjadi ketika ada interaksi dengan sumber belajar (mengalami). Untuk berinteraksi dengan sumber belajar, tentunya perlu “makelar” alias “perantara”. Disitulah peran penting diperlukannya apa yang dinamakan MEDIA. Tentu saja, dalam hal ini adalah media pembelajaran. Dengan demikian, karena dalam proses pembelajaran terjadi proses komunikasi atau interaksi antara orang yang belajar dengan aneka sumber belajar, maka agar komunikasi atau interaksi tersebut terjadi secara optimal dibutuhkan media pembelajaran yang relevan tentunya.

Teknologi pendidikan memegang peran yang penting, terutama setelah berkembangnya TIK, dimana komputer menjadi bagian integral didalamnya. Teknologi pendidikan merupakan pengembangan, penerapan, dan penilaian sistem-sistem, teknik-teknik dan alat-alat baru untuk memperbaiki proses pembelajaran.

Perlu diingat, teknologi tidak akan menggantikan guru. Teknologi pembelajaran, sebenarnya memiliki posisi dan peran sebagai pengembang multimedia pembelajaran yang bermutu. Tentu saja bekerjasama dengan pihak lain.

Implementasi teknologi di bidang pendidikan perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan (master plan) terhadap semua aspek pengembangan pendidikan secara seimbang (bukan secara proyek). Sering pengumuman yang muncul di media mengenai teknologi di arena pendidikan kelihatannya kurang menilaikan penelitian dan pengalaman di dunia pendidikan. Kasus-kasus teknologi dan pendidikan tertentu kelihatannya juga diankat sebagai solusi umum.Memang kita wajib untuk mencari solusi yang kreatif, tetapi kita juga wajib untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang ada di dunia supaya kita tidak hanya mengulangkan kegagalan negara lain.

Dengan mengkombinasikan soft-technology (seperti strategi, metode pembelajaran) yang tepat dengan hard-technology yang ada, maka seorang pengajar dapat menyulap proses pembelajaran menjadi suatu pembelajaran yang menarik dan efektif (tujuan tercapai). Dalam hal ini, bukan teknologi yang membuat suatu pembelajaran berhasil, tapi ketepatan menerapkan teknologi itulah yang menyebabkan suatu pembelajaran berhasil dengan baik.

 

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulannya adalah bahwa teknologi komputer sangat berhunbungan dengan dunia pendidikan salah satunya adalah berhubungan dengan psikologi pendidikan dimana siswa menggunakan komputer untuk mngerjakan tugas, penulisan ilmiah, dan skripsi.

Teknologi pendidikan memegang peran yang penting, terutama setelah berkembangnya TIK, dimana komputer menjadi bagian integral didalamnya. Teknologi pendidikan merupakan pengembangan, penerapan, dan penilaian sistem-sistem, teknik-teknik dan alat-alat baru untuk memperbaiki proses pembelajaran.

 

DAFTAR PUSTAKA

Munir. 2008. Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: CV Alfabeta

Riyanti,D.B.P.  Probowo. H. Puspitawati, I. 1996. Psikologi umum 1. Jakarta: UniversitasGunadarma.

Sarwono Sarlito W. Pengantar Psikologi Umum. Rajawali Pers.

http://amrull4h99.wordpress.com/2009/12/24/landasan-psikologi-pendidikan/

http://09034bobby.wordpress.com/2010/03/05/hasil-diskusi-online-kelompokkuliah-online-2/

http://09-043vera.blogspot.com/2010/03/tugas-diskusi-3-psikologi-pendidikan.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_komputer

 

 

Teknologi komputer dalam bidang psikologi pendidikan

Teknologi Komputer dalam bidang Psikologi Pendidikan

Mutia Farida
15509805
2PA01
———————————————————————————————————————————————————————————————————————-
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
BAB II KOMPUTER DAN PSIKOLOGI
2.1 Pengertian Komputer
2.2 Sejarah Komputer
2.2.1 Generasi Pertama
2.2.2 Generasi Kedua
2.2.3 Generasi Ketiga
2.2.4 Generasi keempat
2.2.5 Generasi kelima
2.3 Pengertian Psikologi
2.4. Sejarah Psikologi
2.5 Psikologi Pendidikan
2.6 Sejarah Psikolgi Pendidikan
BAB III TEKNOLOGI KOMPUTER  DALAM  BIDANG  PSIKOLOGI  PENDIDIKAN
3.1 Beberapa Teori Dalam Psikologi yang Berhubungan dengan Pengembangan Teknologi Pendidikan
3.2 Psikologi Pendidikan dan Media Pembelajaran
3.3 Psikologi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran
3.4 Ragam Model Pembelajaran
3.5 Hubungan Psikologi Pendidikan dengan Teknologi Pembelajaran
BAB IV PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah Psikologi dan Teknologi Internet
Saya menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini saya menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Saya menyadari bahwa dalam proses pembuatan penulis makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, saya telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya,kami dengan rendah hati dan tangan terbuka menerima masukan,saran,dan usulan guna penyempurnaan makalah ini. Akhirnya saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Psikologi pendidikan adalah studi ilmiah tentang perilaku dan proses mental. Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Psikologi pendidikan adalah bidang yang sangat luas sehingga dibutuhkan satu buah bahasan tersendiri untuk menjelaskannya.
Teknologi pendidikan keberadaanya sudah cukup lama, yaitu di era pertengahan 1970-an. Namun sekarang masih banyak tenaga pendidik yang kurang begitu memahami apalagi menerapkannya dalam dunia pendidikan. Bahkan tidak dapat dipungkiri, masih banyak orang yang memiliki persepsi yang keliru terhadap disiplin ini. Mereka beranggapan bahwa teknologi pendidikan hanya mengenai televisi, computer atau penggantian peran guru oleh seperangkat teknologi di kelas
1.2 Tujuan
Di dalam pembuatan makalah ini ada beberapa tujuan yang saya jabarkan, diantaranya adalah :
1. Sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Psikologi dan Teknologi
Internet
2. Dari hasil diatas, untuk memahami dan mengetahui lebih dalam tentang Psikologi
yang Berhubungan dengan Pengembangan, Teknologi Pendidikan, Psikologi Pendidikan dan Media Pembelajaran, Psikologi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran, Ragam Model Pembelajaran, dan hubungan Psikologi Pendidikan dengan Teknologi Pembelajaran
BAB II
KOMPUTER DAN PSIKOLOGI
2.1 Pengertian Komputer
Komputer adalah alat yang dipakai untuk mengolah data menurut prosedur  yang telah dirumuskan. Kata computer semula dipergunakan untuk menggambarkan orang yang perkerjaannya melakukan perhitungan aritmatika, dengan atau tanpa alat bantu, tetapi arti kata ini kemudian dipindahkan kepada mesin itu sendiri. Asal mulanya, pengolahan informasi hampir eksklusif berhubungan dengan masalah aritmatika, tetapi komputer modern dipakai untuk banyak tugas yang tidak berhubungan dengan matematika
Dalam arti seperti itu terdapat alat seperti slide rule, jenis kalkulator mekanik  mulai dari abakus dan seterusnya, sampai semua komputer elektronik  yang kontemporer. Istilah lebih baik yang cocok untuk arti luas seperti “komputer” adalah “yang mengolah informasi ” atau “sistem pengolahinformasi” Selama bertahun-tahun sudah ada beberapa arti yang berbeda dalam kata “komputer”, dan beberapa kata yang berbeda tersebut sekarang disebut disebut sebagai komputer.
Kata computer secara umum pernah dipergunakan untuk mendefiniskan orang yang melakukan perhitungan aritmatika, dengan atau tanpa mesin pembantu. Menurut Barnhart Concise Dictionary of Etymology, kata tersebut digunakan dalam bahasa Inggris pada tahun 1646 sebagai kata untuk “orang yang menghitung” kemudian menjelang 1897 juga digunakan sebagai “alat hitung mekanis”. Selama Perang Dunia II kata tersebut menunjuk kepada para pekerja wanita Amerika Serikat  dan Inggris yang pekerjaannya menghitung jalan artileri perang dengan mesin hitung.
Charles Babbage mendesain salah satu mesin hitung pertama yang disebut mesin analitikal. Selain itu, berbagai alat mesin sederhana seperti slide rule juga sudah dapat dikatakan sebagai computer.
2.2 Sejarah Komputer
Saat ini, komputer sudah semakin canggih. Tetapi, sebelumnya komputer tidak sekecil, secanggih, sekeren dan seringan sekarang. Dalam sejarah komputer, ada 5 generasi dalam sejarah komputer.
2.2.1 Generasi Pertama
Komputer Generasi pertama dikarakteristik dengan fakta bahwa instruksi operasi dibuat secara spesifik untuk suatu tugas tertentu. Setiap komputer memiliki program kode biner yang berbeda yang disebut “bahasa mesin” (machine language). Hal ini menyebabkan komputer sulit untuk diprogram dan membatasi kecepatannya. Ciri lain komputer generasi pertama adalah penggunaan tube vacum  (yang membuat komputer pada masa tersebut berukuran sangat besar) dan silinder magnetik untuk penyimpanan data.
2.2.2 Generasi Kedua
Pada tahun 1948, penemuan transistor sangat mempengaruhi perkembangan komputer. Transistor menggantikan tube vakum di televisi, radio, dan komputer. Akibatnya, ukuran mesin-mesin elektrik berkurang drastis.
Transistor mulai digunakan di dalam komputer mulai pada tahun 1956. Penemuan lain yang berupa pengembangan memori inti-magnetik membantu pengembangan komputer generasi kedua yang lebih kecil, lebih cepat, lebih dapat diandalkan, dan lebih hemat energi dibanding para pendahulunya.
2.2.3 Generasi Ketiga
Walaupun transistor dalam banyak hal mengungguli tube vakum, namun transistor menghasilkan panas yang cukup besar, yang dapat berpotensi merusak bagian-bagian internal komputer. Batu kuarsa (quartz rock) menghilangkan masalah ini. Jack Kilby, seorang insinyur di Texas Instrument, mengembangkan sirkuit terintegrasi (IC : integrated circuit) di tahun 1958. IC mengkombinasikan tiga komponen elektronik dalam sebuah piringan silikon kecil yang terbuat dari pasir kuarsa. Pada ilmuwan kemudian berhasil memasukkan lebih banyak komponen-komponen ke dalam suatu chip tunggal yang disebut semikonduktor. Hasilnya, komputer menjadi semakin kecil karena komponen-komponen dapat dipadatkan dalam chip. Kemajuan komputer generasi ketiga lainnya adalah penggunaan sistem operasi (operating system) yang memungkinkan mesin untuk menjalankan berbagai program yang berbeda secara serentak dengan sebuah program utama yang memonitor dan mengkoordinasi memori komputer.
2.2.4 Generasi keempat
Setelah IC, tujuan pengembangan menjadi lebih jelas: mengecilkan ukuran sirkuit dan komponen-komponen elektrik. Large Scale Integration (LSI) dapat memuat ratusan komponen dalam sebuah chip. Pada tahun 1980-an, Very Large Scale Integration (VLSI) memuat ribuan komponen dalam sebuah chip tunggal.
2.2.5 Generasi kelima
Mendefinisikan komputer generasi kelima menjadi cukup sulit karena tahap ini masih sangat muda. Contoh imajinatif komputer generasi kelima adalah komputer fiksi HAL9000 dari novel karya Arthur C. Clarke berjudul 2001: Space Odyssey. HAL menampilkan seluruh fungsi yang diinginkan dari sebuah komputer generasi kelima. Dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), HAL dapat cukup memiliki nalar untuk melakukan percapakan dengan manusia, menggunakan masukan visual, dan belajar dari pengalamannya sendiri.
2.3 Pengertian Psikologi
Upaya untuk mendefinisikan psikologi adalah suatu pekerjaan yang sulit, karena luasnya cakupan yang menjadi permasalahan dan adanya perbedaan filosofis diantara  para praktisi. Menurut asalnya katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: “ψυχή” (Psychē yang berarti jiwa) dan “-λογία” (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.
2.4. Sejarah Psikologi
Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, psikologi melalui sebuah perjalanan panjang. Bahkan sebelum Wundt mendeklarasikan laboratoriumnya tahun 1879, yang dipandang sebagai kelahiran psikologi sebagai ilmu. pandangan tentang manusia dapat ditelusuri jauh ke masa Yunani Kuno. Dapat dikatakan bahwa sejarah psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual di Eropa, dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di benua Amerika.
2.5 Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan adalah studi ilmiah tentang perilaku dan proses mental. Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Psikologi pendidikan adalah bidang yang sangat luas sehingga dibutuhkan satu buah bahasan tersendiri untuk menjelaskannya.
2.6 Sejarah Psikolgi Pendidikan
Awal mula munculnya psikologi pendidikan berawal dari tokoh pertama, William James (1842-1910) memberikan serangkaian kuliah bertajuk “Talks to Teachers”. Dalam kuliah ini ia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. Ia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.
Tokoh kedua, John Dewey (1859-1952) merupakan motor penggerak pengaplikasian psikologi dalam tingkat praktis, sehingga kemudian ia membangun laboratorium psikologi pendidikan pertama di Universitas Columbia Amerika Serikat (1894). Beberapa kajian yang penting darinya adalah pertama, kita mendapatkan pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learning), dimana anak bukan pasif duduk diam menerima pelajaran tetapi juga aktif agar proses belajar anak akan lebih baik.
Kedua, pendidikan harus difokuskan pada anak secara keseluruhan dan kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dewey percaya bahwa anak-anak seharusnya tidak mendapatkan pelajaran akademik saja, tetapi juga harus mempelajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan lingkungan luar sekolah, seperti mampu untuk memecahkan masalah dengan baik. Ketiga, ia berpendapat bahwa semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang selayaknya, mulai dari kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan, semua golongan etnis, sampai pada semua lapisan ekonomi-sosial.
Tokoh ketiga, E.L Thorndike (1874-1949) berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Thorndike sangat ahli dalam melakukan studi belajar dan mengajar secara ilmiah. Thorndike mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran.
BAB III
TEKNOLOGI KOMPUTER  DALAM  BIDANG  PSIKOLOGI  PENDIDIKAN
3.1 Beberapa Teori Dalam Psikologi yang Berhubungan dengan Pengembangan Teknologi Pendidikan
Pembelajaran pada hakekatnya mempersiapkan peserta didik untuk dapat menampilkan tingkah laku hasil belajar dalam kondisi yang nyata, atau untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Untuk itu, pengembang program pembelajaran selalu menggunakan teknik analisis kebutuhan belajar untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan yang diperlukan peserta didik. Bahkan setelah peserta didik menyelesaikan kegiatan belajar selalu dilakukan analisis umpan balik untuk melihat kesesuaian hasil belajar dengan kebutuhan belajar.
Menurut Lumsdaine (dalam Miarso 2009), ilmu perilaku merupakan ilmu yang utama dalam perkembangan teknologi pendidikan terutama ilmu tentang psikologi belajar, sedangkan menurut Deterline (dalam miarso 2009) berpendapat bahwa teknologi pembelajaran merupakan pengembangan ataupun aplikasi dari teknologi perilaku yang digunakan untuk menghasilkan suatu perubahan perilaku tertentu dari pebelajar secara sitematis guna pencapaian ketuntasan hasil belajar itu sendiri. Sedangkan Harless (1968) menyebutnya dengan “front-end analysis”, sedangkan Mager dan Pape (1970) menyebutnya “performance problem analysis”. Dan Romizwoski (1986) mengistilahkan kegitan tersebut sebagai “performance technology”. Belajar berkaitan dengan perkembangan psikologis peserta didik, pengalaman yang perlu diperoleh, kemampuan yang harus dipelajari, cara atau teknik belajar, lingkungan yang perlu menciptakan kondisi yang kondusif, sarana dan fasilitas yang mendukung, dan berbagai faktor eksternal lainnya. Untuk itu, Malcolm Warren (1978) mengungkapkan bahwa diperlukan teknologi untuk mengelola secara efektif pengorganisasian berbagai sumber manusiawi. Romizowski (1986) menyebutnya dengan “Human resources management technology”. Penanganan berbagai pihak yang diperlukan dan memiliki perhatian terhadap pengembangan program belajar dan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran memerlukan satu teknik tertentu yang dapat mengkoordinir dan mengakomodasikannya sesuai dengan potensi dan keahlian masing-masing.
Kajian ahli-ahli psikologi dan sosial psikologi dalam pendidikan berlangsung selama masa dan pasca perang dunia ke II, terutama menjadi fokus kajian di lingkungan pengajaran militer (Lange, 1969). Hasil kajiannya membawa pengaruh terhadap penyelenggaraan pembelajaran, terutama dalam menetapkan tujuan pengajaran, memahami peserta didik, pemilihan metode mengajar, pemilihan sumber belajar, dan penilaian. Kemudian berkembang beberapa kajian yang berkaitan dengan hubungan antara media audiovisual dengan pembelajaran yang difokuskan pada persepsi peserta didik, penyajian pesan, dan pengembangan model pembelajaran. Studi masa itu kebanyakan diwarnai oleh aliran psikologi behavior, sebagai contoh operant behavioral conditioning yang ditemukan BF Skinner (1953). Teori belajar dan psikologi behavior ini mempengaruhi teknologi pendidikan pada masa itu dalam tiga hal, yaitu:
1.    Pengembangan dan penggunaan teaching machine dan program pembelajaran;
2.    Spesifikasi tujuan pendidikan ke arah behavioral objectives; dan
3.    Pencocokan konsep operant conditioning dengan konsep model komunikasi (Ely, 1963).
3.2 Psikologi Pendidikan dan Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pendukung keberhasilan proses belajar mengajar (Sunarno, 1998). Komputer termasuk salah satu media pembelajaran. Pengunaan komputer dalam pembelajaran merupakan aplikasi teknologi dalam pendidikan. Pada dasarnya teknologi dapat menunjang proses pencapaian tujuan pendidikan. Namun sementara ini, komputer sebagai produk teknologi khususnya di sekolah-sekolah kurang dimanfaatkan secara optimal, hanya sebatas word processing saja. Kini yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menjadikan teknologi (komputer) dapat bermanfaat bagi kemajuan pendidikan.
Di lapangan, sistem penyajian (materi) melalui komputer dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti : hyperteks, simulasi–demontrasi ataupun tutorial. Tiap-tiap sistem memiliki keistimewaan masing–masing. Sangat menarik jika keunggulan masing–masing sistem tersebut digabungkan ke dalam satu bentuk model yang dapat digunakan dalam pembelajaran sehingga proses belajar mengajar akan lebih berkesan dan bermakna.
Media pembelajaran sekarang bukan hanya sekedar alat bantu bagi guru dalam menyampaikan materi-materi pembelajaran di sekolah. Media pembelajaran ini manfaatnya sangat luas, dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki peserta didik, melampaui batas ruang dan waktu, dapat membangkitkan motivasi belajar peserta didik. Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran juga dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk mengakses teknologi informasi dan komunikasi dan mempunyai ketrampilan dalam mengaplikasikannya.
Contoh penggunaan komputer dalam proses belajar. Keterampilan dalam menggunakan komputer sangat dibutuhkan peserta didik untuk hidup dalam kehidupannya di masa kini dan masa yang akan datang. Dalam perkuliahan psikologi pendidikan, selain menggunakan berbagai media seperti proyektor, laptop, dan wi-fi, kita sebagai mahasiswa juga diharuskan mempunyai blog sendiri. Dengan begitu, semua mahasiswa diharuskan membuat dan mampu mengaplikasikan blog tersebut. Dari tugas individu maupun tugas kelompok, materi kuliah dan berbagai info lainnya dapat diakses dari blog.
3.3 Psikologi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran
Teknologi pendidikan yang juga dikenal sebagai teknologi pembelajaran adalah studi dan etika praktik dalam memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengatur proses dan sumber teknologi yang tepat. Istilah teknologi pendidikan sering diasosiasikan dengan teori instruksional dan teori belajar. Teknologi instruksional meliputi proses dan sistem belajar dan instruksi, sedangkan teknologi pendidikan berkaitan dengan segala sistem yang digunakan dalam proses perkembangan kemampuan manusia.
Dengan semakin berkembangnya teknologi mempengaruhi proses belajar mengajar di dunia pendidikan. Teknologi memberikan kemudahan baik bagi pengajar maupun peserta didik dalam mengakses informasi pembelajaran.
Teknologi ini tidak hanya terpaku pada proses belajar secara e-learning akan tetapi proses belajar secara tatap muka (face to face) juga bisa dianggap sebagai pemanfaatan dari teknologi tergantung dari alat maupun fasilitas yang digunakan. Teknologi dapat berupa teknologi cetak, teknologi audio-visual, teknologi berbasis komputer, teknologi terpadu.
Dengan adanya pemanfaatan teknologi secara efektif akan dapat menunjang proses belajar mengajar karena bahan ajar tidak hanya terpaku pada kurikulum yang berlaku, para peserta didik juga dapat mengembangkan kemampuan kognitif mereka karena proses pembelajaran yang didapat tidak hanya dari institusi-institusi tertentu.
Tiga teori utama yang merupakan dasar dalam teknologi pendidikan antara lain :
1.         Behaviorisme
2.         Kognitivisme
3.         Konstruktivisme
3.4 Ragam Model Pembelajaran
Ragam model pembelajaran adalah berbagai cara yang digunakan oleh guru ataupun staf pengajar dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Ragam model pembelajaran yang dibuat tentu mempunyai benefit/manfaat yang sekiranya berguna bagi semuanya, adapun model desain pembelajaran ditujukkan untuk:
1.         Memudahkan para pengajar dlm memilih desain pembelajaran yang cocok
untuk dipakai
2.         Meningkatkan hasil belajar anak didik baik dari segi pemahaman konsep
maupun prakteknya,mningkatkan daya kreatifitas anak didik
3.         sebagai materi bahan ajar dan bahan acuan bagi pengajar
Berbagai ragam model pembelajaran metode pembelajaran:
1. Metode Ceramah
Dalam metode ceramah proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru umumnya didominasi dengan cara ceramah.
2. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan penyajian materi melalui pemecahan masalah, atau analisis sistem produk teknologi yang pemecahannya sangat terbuka. Suatu diskusi dinilai menunjang keaktifan siswa bila diskusi itu melibatkan semua anggota diskusi dan menghasilkan suatu pemecahan masalah.
Jika metoda ini dikelola dengan baik, antusiasme siswa untuk terlibat dalam forum ini sangat tinggi. Tata caranya adalah sebagai berikut: harus ada pimpinan diskusi, topik yang menjadi bahan diskusi harus jelas dan menarik, peserta diskusi dapat menerima dan memberi, dan suasana diskusi tanpa tekanan.
3. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara pengelolaan pembelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, benda, atau cara kerja suatu produk teknologi yang sedang dipelajari. Demontrasi dapat dilakukan dengan menunjukkan benda baik yang sebenarnya, model, maupun tiruannya dan disertai dengan penjelasan lisan.
Demonstrasi akan menjadi aktif jika dilakukan dengan baik oleh guru dan selanjutnya dilakukan oleh siswa. Metoda ini dapat dilakukan untuk kegiatan yang alatnya terbatas tetapi akan dilakukan terus-menerus dan berulang-ulang oleh siswa.
4. Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalah cara mengajar atau penyajian materi melalui penugasan siswa untuk melakukan suatu pekerjaan. Pemberian tugas dapat secara individual atau kelompok. Pemberian tugas untuk setiap siswa atau kelompok dapat sama dan dapat pula berbeda.
Agar pemberian tugas dapat menunjang keberhasilan proses pembelajaran, maka:
1) tugas harus bisa dikerjakan oleh siswa atau kelompok siswa,
2) hasil dari kegiatan ini dapat ditindaklanjuti dengan presentasi oleh siswa dari satu kelompok dan ditanggapi oleh siswa dari kelompok yang lain atau oleh guru yang bersangkutan,
3) di akhir kegiatan ada kesimpulan yang didapat.
5. Metode Tanya jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan mengahasilkan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa memahami materi tersebut. Metoda Tanya Jawab akan menjadi efektif bila materi yang menjadi topik bahasan menarik, menantang dan memiliki nilai aplikasi tinggi. Pertanyaaan yang diajukan bervariasi, meliputi pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya satu kemungkinan) dan pertanyaan terbuka (pertanyaan dengan banyak kemungkinan jawaban), serta disajikan dengan cara yang menarik.
6. Mind Mapping
Suatu metode  untuk memaksimalkan potensi pikiran dengan menggunakan otak  kanan dan otak kirinya secara simultan. Biasanya dalam bentuk power point.
Sebenarnya masih banyak metode-metode pembelajaran. Dari keenam metode diatas adalah metode pembelajaran yang paling sering digunakan dalam pembelajaran.
3.5 Hubungan Psikologi Pendidikan dengan Teknologi Pembelajaran
Media berasal dari bahasa latin, asal kata jamaknya adalah medium. Medium arti sederhananya adalah ANTARA. Kembali ke istilah belajar. Belajar terjadi ketika ada interaksi dengan sumber belajar (mengalami). Untuk berinteraksi dengan sumber belajar, tentunya perlu “makelar” alias “perantara”. Disitulah peran penting diperlukannya apa yang dinamakan MEDIA. Tentu saja, dalam hal ini adalah media pembelajaran. Dengan demikian, karena dalam proses pembelajaran terjadi proses komunikasi atau interaksi antara orang yang belajar dengan aneka sumber belajar, maka agar komunikasi atau interaksi tersebut terjadi secara optimal dibutuhkan media pembelajaran yang relevan tentunya.
Teknologi pendidikan memegang peran yang penting, terutama setelah berkembangnya TIK, dimana komputer menjadi bagian integral didalamnya. Teknologi pendidikan merupakan pengembangan, penerapan, dan penilaian sistem-sistem, teknik-teknik dan alat-alat baru untuk memperbaiki proses pembelajaran.
Perlu diingat, teknologi tidak akan menggantikan guru. Teknologi pembelajaran, sebenarnya memiliki posisi dan peran sebagai pengembang multimedia pembelajaran yang bermutu. Tentu saja bekerjasama dengan pihak lain.
Implementasi teknologi di bidang pendidikan perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan (master plan) terhadap semua aspek pengembangan pendidikan secara seimbang (bukan secara proyek). Sering pengumuman yang muncul di media mengenai teknologi di arena pendidikan kelihatannya kurang menilaikan penelitian dan pengalaman di dunia pendidikan. Kasus-kasus teknologi dan pendidikan tertentu kelihatannya juga diankat sebagai solusi umum.Memang kita wajib untuk mencari solusi yang kreatif, tetapi kita juga wajib untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang ada di dunia supaya kita tidak hanya mengulangkan kegagalan negara lain.
Dengan mengkombinasikan soft-technology (seperti strategi, metode pembelajaran) yang tepat dengan hard-technology yang ada, maka seorang pengajar dapat menyulap proses pembelajaran menjadi suatu pembelajaran yang menarik dan efektif (tujuan tercapai). Dalam hal ini, bukan teknologi yang membuat suatu pembelajaran berhasil, tapi ketepatan menerapkan teknologi itulah yang menyebabkan suatu pembelajaran berhasil dengan baik.
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulannya adalah bahwa teknologi komputer sangat berhunbungan dengan dunia pendidikan salah satunya adalah berhubungan dengan psikologi pendidikan dimana siswa menggunakan komputer untuk mngerjakan tugas, penulisan ilmiah, dan skripsi.
Teknologi pendidikan memegang peran yang penting, terutama setelah berkembangnya TIK, dimana komputer menjadi bagian integral didalamnya. Teknologi pendidikan merupakan pengembangan, penerapan, dan penilaian sistem-sistem, teknik-teknik dan alat-alat baru untuk memperbaiki proses pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA

Munir. 2008. Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: CV Alfabeta
Riyanti,D.B.P.  Probowo. H. Puspitawati, I. 1996. Psikologi umum 1. Jakarta: UniversitasGunadarma.
Sarwono Sarlito W. Pengantar Psikologi Umum. Rajawali Pers.
http://amrull4h99.wordpress.com/2009/12/24/landasan-psikologi-pendidikan/
http://09034bobby.wordpress.com/2010/03/05/hasil-diskusi-online-kelompokkuliah-online-2/
http://09-043vera.blogspot.com/2010/03/tugas-diskusi-3-psikologi-pendidikan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_komputer
 
Leave a comment

Posted by on January 6, 2011 in Uncategorized

 

Dampak Psikologis HIV AIDS

AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah sindrom dengan gejala penyakit infeksi oportunistik atau kanker tertentu akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh infeksi HIV (Human Immunodeficiecy syndrome) yang akhirnya akan membawa kematian pada akhirnya.

Pada umumnya masyarakat tidak mengetahui secara memadai tentang pengertian penyakit HIV/AIDS. Pengetahuan tentang berbagai faktor yang menyebabkan penyakit HIV/AIDS misalnya, masyarakat umumnya juga kurang mengetahui secara rinci. Masyarakat hanya mengetahui penyebab penyakit HIV/AIDS, yang berasal dari perilaku seksual yang menyimpang.

Kosa kata atau istilah yang dipakai masyarakat untuk menyebut perilaku seksual yang menyimpang adalah “suka jajan”, “punya simpanan”, dan hubungan sesame jenis. Sementara itu juga ada yang mneyebut berasal dari alat suntik (yang tercemar virus HIV), dan yang lainnya menyebut tertular dari ibu yang sedang mengandung. Secara teoritis masih banyak kelompok yang beresiko terkena penyakit HIV/AIDS seperti orang yang bekerja ditempat-tempat hiburan, hotel, karaoke, orang yang sering bepergian jauh, dan sebagainya termasukorang yang tinggal di lokalisasi.

Sekitar 75-90 % pasien AIDS mengalami patologi otak dengan berbagai sindrome neuropsikiatri, pada 10 % pasien dengan infeksi HIV, komplikasi neuropsikiatri merupakan gejala utama. Pada pasien dengan infeksi HIV dan AIDS dapat ditemukan kelainan-kelainan psikiatri klasik seperti depresi, ansietas, psikosis dan lain-lain. Selain itu juga terdapat dampak psikososial yang dapat ditemukan pada pasien HIV/AIDS.

Ketika seseorang diberitahukan bahwa hasil tes HIV-nya positif, mereka dikonfrontasikan pada kenyataan bahwa mereka berhadapan dengan suatu keadaan terminal. Kenyataan ini akan memunculkan perasaan shock, penyangkalan, tidak percaya, depresi, kesepian, rasa tak berpengharapan, duka, marah, dan takut. Hal ini dapat menimbulkan kecemasan dan depresi.

Selama tahun-tahun awal di mana belum muncul gejala, stres akan berkurang. Tetapi, dengan berjalannya waktu di mana fungsi imun semakin menurun dan mulai ada tanda-tanda berhubungan dengan HIV seperti ruam-ruam kulit, penurunan berat badan, sesak napas, dan sebagainya, kecemasan serta depresi dapat timbul lagi. Mungkin disertai pula gagasan bunuh diri, gangguan tidur, dan sebagainya.

Pasien HIV/AIDS memiliki kebutuhan-kebutuhan khusus yang perlu dipertimbangkan dengan menetapkan tujuan terapi sebagai berikut:

  1. Membantu pasien mempertahankan kontrol akan hidupnya dan membantu mereka menemukan mekanisme pertahanan yang sehat, termasuk sikap yang selalu positif dalam menghadapi begitu banyak tantangan dan stres dalam perjalanan penyakitnya.
  2. Membantu pasien menghadapi perasaan bersalah, penyangkalan, panik, dan putus asa.
  3. Bekerja bersama pasien menciptakan perasaan self-respect (menghormati diri sendiri) dan menyelesaikan konflik mereka jika ada (misalnya homoseksualitas, penggunaan obat-obat terlarang, dan sebagainya).
  4. Membantu mereka berkomunikasi dengan keluarga, pasangan hidup dan teman-teman mengenai penyakit mereka dan rasa takut akan penolakan serta ditinggalkan. Juga membantu mereka membina hubungan interpersonal yang memuaskan.
  5. Membantu mereka membangun strategi untuk berhadapan dengan krisis nyata yang mungkin terjadi, baik dalam kesehatan maupun sosioekonomi, dan hal-hal dalam kehidupan lainnya.

Sumber :  http://www.psikologizone.com

 
Leave a comment

Posted by on January 2, 2011 in Dampak Psikologis HIV AIDS

 

Bahaya Aktivasi Otak Tengah

Kepopuleran tentang aktivasi otak tengah menimbulkan anggapan yang berbeda-beda, ada yang mendukung atau sejutu dengan adanya aktivasi otak tengah, ada yang tidak setuju, dan ada juga yang tidak memperdulikan apa itu aktivasi otak tengah. Kita bisa terkagum-kagum ketika melihat seorang anak yang duduk di bangku SD dengan mata tertutup bisa menyebutkan dengan benar nilai dan gambar kartu-kartu remi yang juga dalam keadaan tertutup. Sementara anak yang lain menggambar dengan mata tertutup, membaca koran, atau bahkan bisa naik sepeda dengan mata tertutup. Sebuah atraksi luar biasa ini bisa dilakukan oleh anak-anak ini dengan hanya latihan dua hari saja! Menyaksikan kemampuan ajaib itu, para orangtua pun berbondong-bondong mendaftarkan anaknya untuk mengikuti pelatihan singkat dan mahal dengan memegang janji dari panitia pelatihan bahwa anak mereka akan menjadi lebih cerdas, bahkan jenius, hanya dalam beberapa hari. Di blog artikel tentang keunggulan aktivasi sebelumnya di blog saya, ada beberapa keunggulan aktivasi otak tengah,, namun jika ada keunggulan pasti ada juga kelemahan atau bahaya aktivasi otak tengah tersebut.
Aktivasi Otak Tengah tidak Ilmiah
Sampai hari ini belum ada satupun publikasi ilmiah yang menyatakan bahwa otak tengah dapat diaktifkan untuk meningkatkan kecerdasan manusia, apalagi meng-upgrade nya menjadi jenius. Induksi lateralisasi aktifitas otak tengah menurut sebuah tulisan ilmiah tahun 2005 malahan dapat mengakibatkan mental stress (tekanan mental) dan berbagai stres lain yang akan memicu gangguan irama
jantung dan kematian mendadak (sudden death). Sesuatu yang bersifat ilmiah, haruslah bisa diukur dengan parameter tertentu, serta bisa dijelaskan secara ilmiah. Bukan sekedar pemahaman yang hanya melalui kesaksian (Testimony) seseorang yang telah mengalaminya. Ini bukan disebut ilmiah namun sekedar keyakinan. Dan keyakinan tanpa melalui proses pengujian tertentu, bukanlah ilmiah.
Saya mengambil dari tulisan Lely Setyawati Kurniawan, dia adalah Psikiater, Staf Dosen di Bagian Psikiatri FK. Udayana/RSUP SanglahDenpasar, konsultan Forensik Psikiatri. Yang menuliskan bahwa Masyarakat makin memahami pentingnya menyeimbangkan kedua belahan otak kanan dan kiri, karena masing-masing belahan tersebut memiliki beragam fungsi yang saling mengisi dalam perjalanan panjang kehidupan seorang manusia. Ironisnya seolah belum puas dengan kekayaan kedua belahan otak kita, sekelompok ilmuwan mulai mengotak-atik dan mencari bagian lain, yang dinamakan otak tengah. Mereka mencari tahu apakah dengan mengaktivasi otak tengah kecerdasan seseorang akan makin bertambah, atau mengubah mereka menjadi jenius, serta memiliki berbagai kecerdasan lain yang supra-natural? Di kalangan medis otak tengah ini dikenal sebagai bagian dari otak manusia yang memiliki fungsi sangat vital, misalnya sebagai pusat pengendali jantung, pembuluh darah, pernafasan,  refleks-refleks, dan masih banyak lagi. Berbagai tulisan ilmiah mengenai otak tengah ini bisa kita baca dalam berbagai tulisan sepuluh tahun terakhir. Sayangnya sampai hari ini belum ada satupun publikasi ilmiah yang berani menyatakan bahwa aktivasi otak tengah berhubungan dengan kecerdasan seseorang, apalagi membuat IQ seseorang meloncat jauh melebihi IQ manusia pada umumnya, atau dikenal dengan istilah jenius. Dahulu orang berpikir bahwa kecerdasan identik dengan IQ, meskipun mereka mengetahui dalam test IQ yang diukur hanyalah kecerdasan seseorang di bidang matematika, linguistik dan sedikit visuo-spatial.
Saat ini wawasan kita mulai terbuka, melalui hasil penelitian Prof Gardner di tahun 1980an diketahui bahwa ada delapan jenis kecerdasan yang berbeda yang bisa dimiliki oleh masing-masing kita dalam porsi yang berbeda. Masing-masing kecerdasan tersebut menempati area yang berbeda di sisi kiri dan kanan otak kita. Kecerdasan yang bervariasi ini disebut Kecerdasan Multipel (Multiple Intelligence).  Sehubungan dengan otak tengah tadi, muncul pertanyaan, adakah hubungan antara kecerdasan ini dengan fungsi otak tengah / mid brain seseorang? Benarkah aktivasi otak tengah membuat seseorang makin cerdas dan jenius, karena memiliki kemampuan supra-natural?
Anatomi dan Fungsi Otak
Pada saat lahir seorang anak memiliki 100 miliar sel otak yang disebut sel neuron – jumlah ini sama dengan banyaknya bintang di galaksi Bima Sakti – serta 1 Triliun sel glia, yang berfungsi sebagai sel pelindung bagi sel-sel otak tadi. Pembentukan sel-sel otak ini dimulai sejak minggu ketiga sel sperma membuahi sel telur, dengan kecepatan tumbuh 250 ribu sel/menit. Pada minggu kesepuluh sel-sel otak menjadi makin sibuk mempersiapkan diri agar bisa mulai menerima stimulus / rangsangan dari luar. Saat usia 3 tahun telah terbentuk 1000 triliun jaringan koneksi /sinapsis, jumlah ini ternyata 2 kali jumlah jaringan orang dewasa. Satu sel otak mampu menjalin 15 ribu koneksi dengan sel lain, jaringan yang sering digunakan akan semakin kuat dan permanen, tetapi yang jarang digunakan akan mati.
Otak manusia dibagi menjadi enam divisi utama, yaitu :
- Serebrum
- Diensefalon (kedua bagian ini sering disebut sebagai Forebrain /Pro-ensefalon)
-Serebelum, Midbrain (Mesencephalon)
- Pons dan Medula Oblongata.
Tiga bagian terakhir ini disebut brain stem atau batang otak. Midbrain (Mesensefalon) terdiri dari superior colliculi dan inferior colliculi. Superior colliculi merupakan pusat refleks gerakan kepala dan bola mata ketika berespon terhadap rangsang visual, sedangkan inferior colliculi merupakan pusat refleks gerakan kepala dan tubuh ketika berespon terhadap rangsang suara.

Menjadi Jenius?
Nah dikaitkan dengan janji, cukup dengan mengaktifkan otak tengah (mesensefalon) mampu membuat seorang manusia menjadi jenius; Apakah definisi jenius? Range IQ normal adalah 90 – 110. Dengan IQ normal seorang anak bisa tamat SMA, sebagian bahkan tamat S1. Di atas angka tersebut seseorang disebut Superior, di atasnya lagi adalah Very Superior, dan jika IQ nya lebih dari 180 orang akan disebut jenius. Seringkali peringkat IQ bisa membuat anak stres, padahal IQ tak bisa mengukur kecerdasan emosional (EQ) seseorang. Anak-anak yang sulit konsentrasi seringkali membuat kewalahan
para orang-tua dan guru. Orang-tua dan guru menduga anak tersebut bodoh karena nilai akademik di sekolah sangat kurang, padahal bisa saja mereka ini sebenarnya memiliki kecerdasan yang baik, tetapi
rentang waktu perhatian mereka sangat pendek. Rentang waktu perhatian ideal anak usia 5 tahun hanya berkisar 5 menit saja, sedangkan anak-anak usia 15 tahun berkisar 15 menit. Untuk membuat mereka bertahan lebih lama, para pendidik diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Hal ini haruslah dilakukan secara berkala saat konsentrasi dan perhatian anak-anak mulai menurun. Dalam keadaan tertentu seperti takut, sedih akibat depresi dan berbagai stres / tekanan mental lainnya seseorang menjadi kehilangan daya konsentrasi, Orang-tua biasanya membawa anak-anak tersebut untuk berkonsultasi dengan psikiater ataupun psikolog dengan keluhan kesulitan belajar dan menurunnya prestasi akademik. Sebenarnya peranan orang-tua sangat besar untuk proses belajar seorang anak, apa yang orang-tua pikirkan, katakan dan lakukan akan terus melekat dalam benak anak-anak, mempengaruhi suasana dan kenyamanan belajar mereka dan mempengaruhi jalan hidup serta masa depan mereka. Anak-anak bisa mengalami kebahagiaan, atau sebaliknya depresi – sama seperti orang dewasa yang lain – karena perkataan dan tindakan orang-tua mereka.

Mengaktivasi Otak
Ada cukup banyak cara yang biasa dipakai untuk mengaktivasi otak, misalnya dengan alunan musik klasik (yang paling poluler karya-karya Mozart), lagu-lagu / instrumentalia tertentu, gerakan-gerakan tubuh, menciptakan suasana tertentu, bermain dengan angka-angka, menambahkan berbagai bahan chemical, dan masih banyak cara lainnya. Banyak institusi menawarkan berbagai pelatihan yang menjanjikan untuk meningkatkan IQ tersebut, dengan memasukkan berbagai metode yang diyakini dapat menghilangkan tekanan mental para peserta selanjutnya mempermudah pengaktifan bagian-bagian tertentu otaknya. Beberapa ilmuwan mencoba mempelajari tentang otak tengah / midbrain. Harapan mereka sesudah penemuan yang mencengangkan tentang kiri dan kanan, sekaranglah saatnya mengungkap fenomena tentang otak tengah. Metode yang digunakan bukan sekedar cara-cara klasik seperti  yang kita kenal di atas, karena program neuro-linguistik (NLP) mereka sisipkan demi sebuah proses aktivasi yang nantinya mengarah pada suatu keadaan extra sensory perception (ESP). Suasana dibuat sedemikian rupa agar semua peserta yang ada di ruangan tersebut memasuki Alpha State, suatu fase dimana gelombang lambat di otak manusia, yang membuat seseorang mudah dipengaruhi dan diisi oleh berbagai hal oleh para instruktur. Metode yang cukup popular dikenal saat ini adalah BFR (blindfold reading). Sebagai informasi, di Rusia diperlukan waktu satu tahun bagi seorang siswa untuk mampu melakukan aksi blindfold. Di Jepang, sedikitnya perlu waktu tiga bulan untuk melakukannya. Ajaibnya di Indonesia suatu perusahaan pelatihan menyatakan hanya perlu waktu 12 jam untuk membuat anak-anak jenius! Aktivasi dianggap berhasil apabila mereka berhasil mengenali
berbagai macam benda dan halangan di sekitarnya dalam keadaan mata ditutup. Dengan demikian anak-anak tersebut akan mampu membaca, menggambar, menghitung, berlari dan menghindari semua rintangan tanpa menggunakan indera penglihatan mereka yaitu mata. Bahkan mereka berani menjanjikan, anak-anak akan memiliki kemampuan tembus pandang, menyusun kartu remi secara urut tanpa melihat, dapat membaca suatu dokumen rahasia di balik tembok, menghitung uang yang ada dalam dompet di saku baju seseorang, merangkum seluruh isi textbook dalam waktu singkat, memprediksi hal-hal buruk yang bakal terjadi esok, bahkan membaca pikiran orang-orang yang ada di sekelilingnya agar tak mudah tertipu. Hal itu bagi mereka dianggap sebagai talenta manusia baru di jaman modern ini, karena memiliki kecerdasan tersendiri (jenius) dengan kemampuan extra sensory perception (ESP), sehingga nantinya kita tak lagi tertarik menonton acara pertandingan sulap The Master. Pandangan di atas tentu tidak begitu saja dapat dibenarkan, karena secara medis kita bisa mengenali fungsi fisiologi seluruh organ dalam tubuh kita. Mengaktifkan dan menciptakan seseorang untuk memperoleh pengalaman extra sensory perception sudah jauh melenceng dari ranah medis fisiologis. Bahkan hal ini erat kaitannya dengan terjadinya berbagai gangguan mental pada manusia, yang salah satu gejalanya adalah mampu mendengar, melihat, merasakan dan membaca hal-hal yang tidak bisa didengar, dilihat, dirasakan dan dibaca oleh orang-orang sehat lainnya. Sebagai contoh pada kasus-kasus Skizofrenia pasien merasa yakin dengan kemampuannya membaca isi hati dan pikiran orang-orang lain di sekelilingnya, serta meyakini berbagai penglihatan dan pendengaran gaib yang bisa membuat orang lain berdiri bulu kuduknya. Sampai hari ini belum ada satupun publikasi yang menyatakan bahwa otak tengah dapat diaktifkan untuk meningkatkan kecerdasan manusia, apalagi meng-upgrade nya menjadi jenius. Musa A. Haxiu &  Bryan K. Yamamoto (2002) membuat suatu penelitian midbrain pada 24 ekor musang jantan. Hasilnya aktivasi midbrain di daerah periaquaductal gray (PAG) ternyata justru mengakibatkan otot-otot polos pernafasan menjadi relaksasi, sehingga mengganggu pernafasan hewan-hewan tersebut. Ada beberapa tahapan yang harus dilewati oleh suatu lembaga yang memiliki ide penelitian sebelum dilemparkan dan dimanfaatkan untuk  kepentingan publik. Minimal telah melalui 10 tahun percobaan di laboratorium (in vivo), setelah lulus uji klinis, barulah diujikan
pada hewan-hewan percobaan dengan evaluasi sekitar 10 tahun. Pada tahap ketiga barulah diujikan pada para relawan (biasanya merekadibayar) dan kembali dilakukan evaluasi. Dengan demikian dibutuhkan waktu sekitar 30 tahun untuk membawa suatu metode baru yang aman dalam masyarakat.  Menurut Peter D. Larsen, Sheng Zhong, dkk. (2001) ada beberapa hal yang berubah karena aktivasi midbrain, misalnya tekanan arteri utama (mean arterial pressure), aliran darah di ginjal (renal blood flow), aliran darah di daerah paha (femoral blood flow), persarafan daerah bawah jantung (Inferior cardiac), per-syaraf-an simpatis dan denyut jantung akan makin meningkat, sebaliknya tekanan darah justru turun, aktivitas persarafan di daerah tulang belakang juga turun. Peningkatan tekanan arteri, aliran darah ginjal dan paha tersebut bisa mencapai 328%.

Yang terjadi pada anak-anak tersebut sebenarnya bukan JENIUS (memiliki IQ yang sangat tinggi atau di atas 140), melainkan latihan untuk suatu kewaspadaan (AWARENESS) terhadap apapun yang ada di sekeliling mereka. Kondisi semacam ini perlu kita cermati lebih baik, mengingat kondisi awareness yang berlebihan akan membuat seseorang mengalami berbagai gangguan jiwa, dari gejala yang ringan berupa Gangguan Cemas Menyeluruh, sampai tipe berat berupa Gangguan Paranoid. Itulah sebabnya orangtua diminta waspada dan berhati-hati sebelum mengirim anak-anak mereka ke suatu institusi yang menawarkan sanggup mengubah anak-anak menjadi jenius dalam waktu singkat. Orangtua perlu menghargai setiap talenta yang dimiliki anak-anaknya, karena pada dasarnya semua anak adalah cerdas. Suatu tantangan bagi para orangtua dan kita semua yang memiliki anak, mampukah kita menghasilkan anak-anak yang bukan sekedar CERDAS, tetapi juga BAIK dan BERMORAL? Cerdas bahkan genius saja belumlah cukup. Karena dengan kecerdasan saja tidak menjamin mereka membuat dunia ini menjadi lebih baik. Banyak orang-orang cerdas justru mencelakai orang lain, memanipulasi suatu keadaan demi keuntungan dirinya sendiri.
Perlukah aktivasi otak tengah?

Orangtua perlu menghargai setiap talenta yang dimiliki anak-anaknya, karena pada dasarnya semua anak adalah cerdas. Kecerdasan ini tidak bisa disamakan dengan IQ, karena saat ini kita telah mengenal delapan macam kecerdasan, yang dikenal sebagai multiple intelligence yang ada dalam diri manusia. Mereka yang tidak bisa matematika dan IQ nya rendah bukan berarti tidak cerdas, karena mungkin saja mereka memiliki kecerdasan inter personal yang baik. Suatu tantangan bagi para orangtua dan kita semua yang memiliki anak, mampukah kita menghasilkan anak-anak yang bukan sekedar CERDAS, tetapi juga BAIK dan BERMORAL? Cerdas bahkan genius saja belumlah cukup. Karena dengan kecerdasan saja tidak menjamin mereka membuat dunia ini menjadi lebih baik. Banyak orang-orang cerdas justru mencelakai orang lain, memanipulasi suatu keadaan demi keuntungan dirinya sendiri. Mengapa dalam waktu 12 jam pelatihan atau satu setengah hari saja anak-anak tersebut bisa berubah? Salah satunya adalah kenyataan bahwa anak-anak dengan perilaku bermasalah sebenarnya membutuhkan perhatian dari orangtua mereka. Dalam program pelatihan midbrain tersebut semua orangtua diharapkan memperhatikan anaknya, mau melatih kembali anak-anak tersebut di rumah, termasuk setelah latihan selesai. Yang terjadi di sini sebenarnya adalah anak-anak tersebut dilatih untuk peka terhadap berbagai bahaya dan rintangan yang ada di depan, serta ‘dipaksa untuk bersikap dan berperilaku lebih baik’ karena mereka telah diberikan teladan yang baik oleh orangtua dan orang-orang dewasa di sekelilingnya.

Jadi, sebelum teman-teman mengikuti pelatihan aktivasi otak tengah aada baiknya kita mengetahui sisi positif dan negatif dari aktivasi otak tengah tersebut. :)
Sumber :
http://gracecenterbali.blogspot.com/2010/04/mengaktivasi-otak-tengah-pikirkan-dulu.html
http://bethyjoentak.blogspot.com/2010/10/bahaya-otak-tengah.html
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=17522
 

Keunggulan aktivasi otak tengah ???

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia ramai dan heboh membicarakan tentang “Aktivasi Otak Tengah”, Dikatakan bahwa jika mengaktifkan otak tengah anak-anak bisa memiliki kemampuan yang lebih, dan daya konsentrasi yang lebih tinggi. Percaya tidak percaya aktivasi otak tengah ini melalui training atua seperti pelatihan selam 2 atau tiga hari dengan biaya yang cukup mahal, well dengan hasil yang lebih baik mungkin biaya tidak masalah. bayangkan saja dalam waktu yang sangat singkat bisa menjadi seseorang yang sangat jenius :)
Kemampuan otak tengah ering disalahartikan dengan kemampuan supranatural atau hipnotis.
Yah, saya sendiri juga antara percaya dan tidak percaya, karena teman saya sendiri mengikuti pelatihan aktivasi otak tengah selama tiga hari dengan biaya RP.12.000.000,-
berarti 3juta perhari. Woow,,, tidak murah kan???
Sebelum dia mengikuti pelatihan, teman saya mengistirahatkan otaknya, teman saya seharian dirumah agar otaknya relax, dan setelah mengikuti pelatihan aktivasi otak tengah teman saya mampu membaca atau melihat apa yang sedang saya bayangkan atau pikirkan dan juga bisa membaca masa lampau :)
Terkesan seperti paranormal yaaah :)
Sebelum mengetahui lebih jauh apasih keunggulan aktivasi otak tengah ada baiknya kita mengetahui apa itu otak tengah atau Midbrain.
Otak tengah yang telah aktif dapat membantu perkembangan otak anak. Bagian otak yang kurang dominan akan dirangsang untuk berkembang menyamai kemampuan otak yang dominan. Setelah itu, secara sinergis, dan mencapai  kapasitasnya yang tidak akan didapat tanpa keterlibatan dari otak tengah.
Peningkatan daya ingat, daya angkap, dan konsentrasi adalah sebagian kecil dari keuntungan yang diperoleh setelah otak tengah seorang anak diaktifkan. Kemampuan mental dan karakter anak juga akan banyak terpengaruh. Keseimbangan otak kanan dan otak kiri akan membuat emosi seorang anak menjadi lebih stabil.

Otak tengah (mesencephalon) atau (midbrain) adalah bagian terkecil dari otak yang berfungsi sebagai stasiunrelai untuk informasi pendengaran (inferior colliculi) dan penglihatan (superior colliculi). Otak tengah mengontrolberbagai fungsi penting seperti sistem visual dan pendengaran serta gerakan mata. Beberapa bagian dari otak tengah yang disebut nukleus  merah (red nucleus) dan substantia nigra berfungsi dalam mengontrol gerakan badan. Substantia nigra yang berwarna gelap berisi banyak neuron yang memproduksi dopamine. Pada umumnya, berkurangnya neuron di substantia nigra menyebabkan terjadinya penyakit parkinson.  Otak tengah juga adalah bagian awal dari batang otak. Otak tersebut terdiri dari tectum dan tegmentum. Kedua bagian ini juga berfungsi dalam penglihatan, pendengaran, pergerakan mata, serta gerakan tubuh lainnya.
Otak tengah dapat diaktifkan secara ” manual ” ataupun alami. Orang2 yang otak tengahnya aktif secara alami biasanya disebut orang2 dengan kemampuan luar biasa, misalnya tuna netra yang bisa melihat, dimungkinkan otak tengahnya aktif secara alami.
Bila otak tengah diaktifkan, daya konsentrasi akan meningkat, kemampuan fisik berkembang, otak kanan dan kiri seimbang, ada keseimbangan hormon, dan daya intuisi meningkat.
Ada efek ajaib dari aktivasi otak tengah, misalnya bisa mendeteksi penyakit, menerima sinyal firasat, memprediksi masa mendatang, menebak kartu, mewarnai tanpa melihat, dan sebagainya.
Adanya penemuan baru di dunia psikologi, yaitu dapat berhasil mengaktifkan otak tengah (midbrain) anak-anak, misalnya melalui Metode Belajar Midbrain, karena setelah diaktifkan, midbrain akan mengeluarkan gelombang otak untuk merasakan dan bereaksi terhadap benda2 di luar.
Training aktivasi otak tengah efektif untuk usia anak 5 – 15 tahun, yang biasa dilakukan dengan Metode Belajar Menutup Mata, untuk membantu anak2-anak memasuki kondisi terbimbing midbrain. Sehingga mereka dapat secara seimbang menggunakan otak kanan dan otak kiri, serta mengembangkan potensi terbesar dari daya otak. Memejamkan mata membantu anak lebih fokus/konsentrasi, setelah terbiasa tidak perlu lagi menutup mata juga dapat menggunakan otak tengah/midbrain dan terjadi keseimbangan antara otak kanan dan kirinya.
Beberapa Keunggulan Aktivasi Otak Tengah
1. Meningkatkan Konsentrasi
2. Meningkatkan Daya Ingat
3. Meningkatkan Kreativitas
4. Lebih Cerdik
5. Lebih Berbakat
6. Hormon Lebih Seimbang
7. Membentuk Karakter Positif
8. Emosi Lebih Stabil
9. Lebih Berprestasi
10.Daya konsentrasi akan meningkat
11.Kemampuan fisik berkembangotak kanan dan kiri seimbang
12.Daya intuisi meningkat
13. Kemampuan melihat dengan mata tertutup
Kemampuan mewarnai dengan mata tertutup
Kegiatan dengan mata tertutup adalah suatu kegiatan yang paling nyata dapat dilihat. Seorang anak yang telah diaktivasi otak tengahnya (Mid Brain Activated) dapat mempunyai kemampuan luar biasa. Kemampuan ini bahkan sering kali dipertontonkan secara menakjubkan dalam program hiburan sulap. Setelah melihat kemampuan anak yang telah diaktivasi, sebagian besar acara pertandingan sulap di The Master menjadi kurang menarik. Karena hal ini dapat dilakukan sendiri oleh anak-anak polos yang hanya mengikuti training aktivasi otak tengah selama 2 hari. Kemampuan dasar yang dapat dilakukan adalah ‘melihat’ kartu dengan mata ditutup (blind fold). Christofle (9 thn) misalnya, setelah mengikuti training aktivasi otak tengah, dapat mengurutkan seluruh kartu remi sesuai dengan angka, warna dan bentuk gambar kartu dengan mata tertutup. Ia dapat mempergunakan indra raba untuk melihat pola dan warna lengkap dengan angka hanya dengan penglihatan kulit (Skin Vision).
Pengelompokan warna
Kemampuan berjalan dengan mata tertutup

Kemampuan lain yang dapat dilakukan oleh anak-anak ini adalah berjalan dengan mata ditutup, tanpa menabrak. Dilakukan percobaan pada seorang anak yang berjalan dengan mata ditutup kain. Seseorang sengaja menghalangi jalan didepannya. Dia serta merta dapat menghindari rintangan tersebut tanpa menyentuhnya. Seorang anak bahkan dapat mengenali ayahnya diantara kerumunan orang-tua lainnya, tanpa menyentuh dan mendengar suaranya.

Otak tengah merupakan jembatan yang menghubungkan dan menyeimbangkan fungsi otak kiri dan otak kanan. Sehingga apabila otak tengah telah diaktifkan, kemungkinan besarnya fungsi otak kiri dan otak kanan akan bekerja secara maksimal. Itu dikarenakan pengaktifan otak tengah bisa mengembalikan kekuatan otak pada keadaan semula. ketika otak tengah diaktifkan maka anak-anak akan memiliki akses yang mudah baik otak kiri, maupun otak kanan untuk lebih konsentrasi terhadap pelajaran. Daya kecepatan meghafalnya pun akan lebih sempurna Selain itu juga. Kelebihan dari pengaktifan otak tengah yaitu anak akan bisa membaca atau melakukan aktivitas lainnya dengan mata tertutup.
Well…. bagaimana apakah teman-teman ingin mencoba mengkatifkan otak tengah??? atau tanpa aktifasi otak tengah teman-teman sudah ada yang mampu berjalan dengan mata tertutup??? oke. you wanna try :)

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Otak_tengah
http://black-choise.blogspot.com/2010/12/aktivasi-otak-tengah.htmlBuku Dahsyatnya Otak Tengah oleh Hartono Sangkanparan

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.