RSS

Author Archives: moethya26

About moethya26

i'm a simple girl :)

Film : Crazy Little Thing Called Love

Nama : Mutia Farida

NPM   : 15509805

Kelas   : 3PA01

Crazy Little Thing Called Love

Saya suka dengan film ini karena menceritakan persahabatan, sahabat yang setia dan sahabat yang tidak pernah tergantikan. Dan perjuangan seorang wanita untuk orang yang disukainya serta semangatnya belajar untuk masa depannya.

Film ini adalah sebuah film dari Thailand yang menceritakan tentang persahabatan dan seorang gadis yang bernama Nam yang menyukai diam-diam kakak kelasnya yang bernama Shone. Nam gadis yang berkulit coklat, memakai behel dan berkaca mata. Nam sering diledekin teman-teman sekolahnya karena dia terlihat jelek. Dalam film ini ada berhubungan dengan psikologi, seperti pada cerita dimana Nam tinggal bersama ibu dan adik perempuannya, ayah Nam berkerja di USA untuk memenuhi kebutuhan keluarganya Nam. Ayah Nam berjanji jika salah satu dari anaknya mendapatkan juara 1 di sekolah akan dikirimkan tiket dan sekolah disana. Dengan janji ayahnya Nam menjadi giat belajar agar mendapatkan juara 1. Hubungannya dengan psikologinya adalah motivasi belajar Nam meningkat karena akan mendapatkkan reward bertemu ayahnya dan sekolah disana.

Nam memiliki tiga sahabat yang sangat dekat dengannya, kemana-mana mereka selalu bersama, sampai usaha Cheer, Gei, dan Nim untuk merubah penampilan Nam. Nam agar kakak kelasnya Shone bisa menyukai Nam. Semua usaha dilakukan sahabatnya untuk Nam, jika usaha pertama gagal sahabatnya selalu menyemangati Nam bahwa Nam bisa mendapatkan kak Shone. Hubungannya dengan psikologi adalah persahabatan, persahabatan adalah suatu hubungan antar pribadi yang akrab atau intim yang melibatkan setiap individu sebagai suatu kesatuan. Dalam film ini persahabatannya sangat terlihat dimana Nam dan sahabatnya sangat dekat, mereka selalu setia menemani dan memberi dukungan kepada Nam.

  Nam sangat berusaha untuk merubah      penampilannya agar menjadi cantik, putih dengan usaha bersama sahabatnya. Dengan luluran, mengecat rambut, memutihkan warna kulitnya mulai dari putihin kulit Nam = disikat, pake masker timun, jeruk, semangka, ampe dilulurin pake kunyit. yang sukses bikin kulit Nam kuning seharian. Nam berhasil merubah penampilannya, Nam sekarang mulai putih bersih dan Shone pun merespon perubahan Nam. Dalam psikologi usaha Nam ini termasuk kedalam ketertarikan interpersonal dan daya tarik fisik yang berarti kombinasi karakteristik yang dievaluasi sebagai cantik atau tampan. Serta daya tarik fisik dan evaluasi interpersonal seperti rasa suka terhadap teman kencan, kekasih. Karakteristik evaluasi lainnya seperti fisik, perilaku.

Sekolah Nam mengadakan acara pentas seni, seperti menari, bernyanyi dan drama. Awalnya Nam dan sahabatnya ingin mengikuti pentas seni tari, tapi karena kriteria seni tari tidak sesuai dengan penampilan, akhirnya Nam dan sahabatnya ikut pentas seni drama karena Nam melihat Shone ada dalam pementasan drama tersebut. Sebenarnya Shone juga menyukai Nam tapi Shone ingin melihat seberapa besar usaha Nam, tapi Shone didahului oleh sahabatnya Top, Top ternyata menyukai Nam. Setelah Top menembak Nam, Shone mengalah. Nam dan Top pun berteman dekat tapi tidak pacaran, padahal Shone memikir mereka berpacaran. Suatu hari sepulang dari cara ulang tahun teman Top, Nam meminta untuk tidak mendekatinya lagi karena Nam hanya mencintai satu orang. Top merasa dikhianati oleh Nam, Top meminta kepada Shone agar tidak pacaran dengan Nam, awalnya Shone tidak mau tapi demi sahabatnya Shone menuruti permintaan Top. Dari cerita bagian ini dalam psikologi adalah persahabatan diaman Shone menghargai keputun Top, dan kesukarelaan Shone untuk tidak pacaran dengan wanita yang dicintainya demi sahabatnya.

 Karena Nam dekat dengan Top dan teman-teman Top, Nam melupakan sahabatnya. Nam dekat dengan teman-teman Top agar bisa bergabung dan diterima kelompok teman-temannya Top, mau tidak mau Nam harus bisa membagi waktu antara teman baru dan sahabatnya, namun Nam tidak bisa membagi waktunya. Keinginan Nam bergabung dengan kelompok teman-temannya Top bisa disebut dengan konformitas. Nam sampai tidak datang ke acara ulang tahun Cheer sahabatnya karena Nam pergi dengan Top, sahabat Nam marah dan tidak mau berteman lagi. Setelah sadar Nam meminta maaf dengan sahabatnya, awalnya permintaan maaf Nam tidak diterima, tetapi setelah Nam menyanyikan sebuah lagu tentang sahabat Cheer, Gei, dan Nim sahabatnya memaafkan Nam. Cerita ini juga masih berhubungan dengan psikologi yaitu tentang persahabatan yang tidak tergantikan, dan kesetiaan dengan sahabatnya.

Saat lulus sekolah Nam mendapatkan juara 1. Saat di sekolah coret-coretan

dan tanda tangan Nam menemui Shone untuk menyatakan perasaan Nam yang sudah dipendamnya selam 3 tahun, tapi ternyata kak Shone sudah pacaran dengan kak Pin teman sekelasnya Shone. Nam menangis dan terjatuh dikolam renang sekolah.

Setelah lulus Nam berangkat ke USA seperti janji ayahnya, dan Shone sekolah di Bangkok. Setelah 9 tahun tidak bertemu Nam dan Shone bertemu di suatu acara TV. Nam sudah sukses menjadi perancang busana yang terkenal di New York dan Shone menjadi pemain bola yang terkenal. Mereka bertemu di acara Tv tersebut dan akhirnya bersama.

 
Leave a comment

Posted by on April 23, 2012 in Analisis Film, Psikoterapi

 

PI ???

PI itu singkatan dari Penulisan Ilmiah, sekarang gue lagi ngerasain hmmm menjalani PI di semester 6, PI itu seperti Skripsi tapi cuma sampe bab 3 aja..

Bismillah, gue sebenarnya pengen banget neliti tentang kecerdasan emosional dengan sikap memaafkan, tapi masih bingung sama subjeknya apa… Trus gue harus nyari subjek yang spesifik, tadinya subeknya itu cuma pada remaja tapi kata bu Trida harus lebih spesifik seperti remaja yang orangtuanya bercerai or menikah lagi,, setelah gue pikir-pikir gak mudah ngedapetin subjek yang agak sensitif masalahnya,,, yauuudaaa akhirnya gue pilih tentang coping stress,, sebenarnya coping stress udah banyak banget tapi untungnya di ACC…. tau deeeh di sekjur di ACC apa enggaaaaak!!! mudah-mudahan dan semoga jangan sampe gak di ACC :D

dan mudah-mudahan PI gue bisa berlanjut ke Skripsi AMIN :)

*justshareforme :)

 
Leave a comment

Posted by on March 23, 2012 in PI

 

Psikoterapi dengan Tehnik Psikoanalisis

Psikoterapi dengan tehnik Psikoanalisa

Dari tulisan sebelumnya sudah menjelaskan tentang psikoterapi, tapi belum spesifik. Sekarang saya akan mencoba menjelaskan Psikoterapi yang mengunakan tehnik Psikoanalisa. Sebelumnya saya akan memaparkan tehnik-tehnik pada Psikoterapi, yaitu :

1. Tehnik terapi Psikoanalisis

2. Tehnik terapi Perilaku

3. Tehnik terapi Kognitif Perilaku

4. Tehnik terapi Humanistik

5. Tehnik tearpi Elektik/Integratif

Psikoterapi dengan tehnik Psikoanalisis dipelopori oleh Sigmund Freud, dalam sejarahnya teknik psikoanalisa ini adalah aliran pertama dari tiga aliran utama psikologi. Psikoanalisa dipandang sebagai teori kepribadian ataupun metode psikoterapi.

Psikoterapi dengan tehnik Psikoanalisa memilki beberapa konsep utama, seperti struktur kepribadian, pandangan tentang sifat manusia, kesadaran dan ketidaksadaran, dan kecemasan. Untuk detailnya akan dijelaskan satu-persatu.

*Konsep-konsep Utama terapi Psikoanalisis :

1. Struktur Kepribadian

- Id

Prinsip kepuasan, dorongan dasar/naluri.

Contohnya : Orang yang sedang lapar membayangkan makanan.

- Ego

Pelaksanaan dari Id, prinsip realitas.

Contohnya : Orang yang lapar lalu pergi mencari makanan.

- Super ego

Mengontrol Id, sesuai dengan norma/moralnya. Menentukan sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak sesuai norma/moralnya.

Contohnya : Seseorang lapar, tetapi tidak mempunyai uang, atau sedang berada di kelas mengikuti kuliah.

Jika seseorang yang lapar tapi tidak mempunyai uang, dia tidak bisa menahan lalu mencuri makananà tidak sesuai norma. Tetapi jika orang tersebut mencari uang / bekerja dulu untuk mendapatkan makananàsesuai norma.

2. Pandangan tentang sifat manusia

Pandangan freud ttg sifat manusia pd dasarnya pesimistik, deterministic, mekanistik dan reduksionistik.

3. Kesadaran & ketidaksadaran

Konsep ketidaksadaran

-     Mimpi → merupakan representative simbolik dari kebutuhan, hasrat konflik, dan keinginan dalam diri.

-   Salah ucap / lupa → tanda-tanda ada yang dirahasiakan

-   Sugesti pascahipnotik → seperti dogeng

-   Bahan yg berasal dari teknik asosiasi bebas → cerita tentang apa saja yang ada dipikiran klien kepda terapis/konselor

-   Bahan yg berasal dari teknik proyektif

4. Kecemasan : suatu keadaan yg memotifasi kita untuk berbuat sesuatu

Fungsi → memperingatkan adanya ancaman bahaya

3 macam kecemasan

  • Kecemasan realistis
  • Kecemasan neurotic
  • Kecemasan moral

* Teknik dasar Terapi Psikoanalisis

1. Asosiasi bebas

→ suatu metode pemanggilan kembali pengalaman masa lalu & pelepasan emosi yg berkaitan dengan situasi-situasi traumatik di masa lalu

2. Penafsiran

→ suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi-asosiasi bebas, mimpi, resistensi dan transferensi

* bentuk nya = tindakan analis yg menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku

3. Analisis Mimpi

→ Suatu prosedur yg penting untuk menyingkap bahan-bahan yg tidak disadari dan memberikan kpd klien atas beberapa area masalah yg tak terselesaikan

4. Analisis dan Penafsiran Resistensi

→ Ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yg ada dibalik resistensi shg dia bias menanganinya

5. Analisis & Penafsiran Transferensi

→ Adalah teknik utama dalam Psikoanalisis krn mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lalu nya dalam terapi

*Tujuan terapi Psikoanalisis

  • Membentuk kembali struktur karakter individu dg jalan membuat kesadaran yg tak disadari didalam diri klien
  • Focus pada uapaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak

Demikian penjelasan psikoterapi dengan tehnik psikoanalisa yang saya ketahui dan saya dapat dari beberapa sumber, semoga bermanfaat bagi teman-teman yang ingin melakukan terapi J

sumber :

-          indryawati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/21332/TERAPI+PSIKOANALISIS.doc

-          modul Psikologi Konseling by : Diana

 

Psikoterapi

PSIKOTERAPI

MUTIA FARIDA (15509805)

3PA01

UNIVERSITAS GUNADARMA

______________________________________________________________________________________________

A. Sejarah Psikoterapi :

Psikoterapi berawal dari upaya menyembuhkan pasien yang menderita penyakit jiwa

  • Berabad-abad yang lalu

Orientasi mistik —> upaya mengusir roh jahat dengan cara tidak manusiawi (mengisolasi, mengikat, memasung, memukul)

  • Philipe Pinel

Melakukan pendekatan bersifat manusiawi, yang berorientasi kasih sayang (love oriented approach) —> mendirikan

  • Anton Mesmer

Mempergunakan teknik hypnosis  & sugesti, teknik hypnosis kemudian digunakan oleh Jean Martin Charcot

  • Paul Dubois

Merumuskan & menekankan peranan penting teknik berbicara (speech technique, talking cure) yang digunakan kepada pasien. Paul Dubois tercatat sebagai “The First Psychotherapiest

  • Joseph Breuer (senior dari Sigmund Freud) & Sigmund Freud

Menggunakan teknik hypnosis & teknik berbicara dalam upaya menyembuhkan pasien2 histeria

  • Pada Breuer —> talking cure dilakukan terhadap pasien dalam keadaan hypnosis

       Pada Sigmund Freud —> talking cure dilakukan terhadap pasien dalam keadaan sadar  (cikal bakal lahirnya psikoanalisis)

B. Pengertian

Psyche   : mind / jiwa

Therapy :  merawat, mengobati, menyembuhkan

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN PSIKOTERAPI ?

                Banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli. Antara lain yaitu bahwa psikoterapi adalah terapi atau pengobatan yang menggunakan cara-cara psikologik, dilakukan oleh seseorang yang terlatih khusus, yang menjalin hubungan kerjasama secara profesional dengan seorang pasien dengan tujuan untuk menghilangkan, mengubah atau menghambat gejala-gejala dan penderitaan akibat penyakit. Definisi yang lain yaitu bahwa psikoterapi adalah cara-cara atau pendekatan yang menggunakan teknik-teknik psikologik untuk menghadapi ketidakserasian atau gangguan mental.

              Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, talking cures telah digunakan orang sejak berabad yang lalu. Misalnya, Soranus dari Ephesus, seorang dokter pada abad pertama Masehi, menggunakan percakapan atau pembicaraan untuk pasien-pasiennya dan mengubah ide-ide yang irasional dari pasien depresi. Kini, dalam terapi kognitif (salah satu jenis psikoterapi), terapis menelusuri cara berpikir yang irasional pada pasien-pasien depresi dan membimbing mereka agar kemudian dapat mengatasinya sendiri.

                Bermula dari Sigmund Freud, pada akhir abad ke-sembilanbelas, yang memaparkan teori psikoanalisisnya, psikoterapi kian berkembang hingga kini. Teknik dan metode yang dicetuskan oleh Freud dapat dikatakan merupakan dasar dari psikoterapi, yang tampaknya, dalam praktek sehari-hari masih tetap digunakan sebagai dasar, apa pun teori yang dianut atau menjadi landasan atau pegangan bagi seseorang yang melakukan psikoterapi.

            Ada beberapa pengertian lain psikoterapi dari  Wohlberg dan Corsini. Menurut Wohlberg, psikoterapi adalah pengobatan dengan cara psikologis dari masalah yang bersifat emosional di mana seseorang terlatih sengaja membangun hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan:

- Menghapus, mengubah atau menghambat gejala

- Yang terganggu pola mediasi perilaku

- Meningkatkan pertumbuhan kepribadian yang positif dan pengembangan.

Sedangkan menurut Corsini, psikoterapi adalah Proses interaksi formal 2 pihak (2 orang/lebih), bertujuan memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distres) pada salah 1 pihak karena tidak berfungsinya / ketidakmampuan pada fungsi kognitif, afeksi atau perilaku, dengan terapis berusaha mengembangkan memelihara atau mengubahnya dengan menggunakan metode2 sesuai pengetahuan & skill, serta bersifat profesional & legal.

C. Ciri Psikoterapi

  1. Proses :  Interaksi 2 pihak, formal, profesional, legal, etis
  2. Tujuan : Perubahan kondisi psikologis individu -à  pribadi yang positif / optimal (afektif, kognitif, perilaku/kebiasaan)
  3. Tindakan, berdasar :

                      – Ilmu (teori2), teknik, skill yang formal

              – Assessment (data yang diperoleh melalui proses assessment – wawancara, observasi, tes,dsb)

D. Tujuan terapi (Korchin) :

  1. Memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar
  2. Mengurangi tekanan emosional
  3. Mengembangkan potensi klien
  4. Mengubah kebiasaan
  5. Memodifikasi struktur kognisi
  6. Memperoleh pengetahuan tentang diri
  7. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi & hubungan  interpersonal
  8. Meningkatkan kemampuan mengambil keputusan
  9. Mengubah kondisi fisik
  10. Mengubah kesadaran diri
  11. Mengubah lingkungan sosial

E. Dasar psikoterapi :

Manusia pada dasarnya bisa dan mungkin untuk dipengaruhi / diubah melalui intervensi psikologi yang direncanakan

F. Jenis-jenis Psikoterapi

a. Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, psikoterapi dibedakan atas:

1 Psikoterapi Suportif:

Tujuan:

- Mendukung funksi-funksi ego, atau memperkuat mekanisme defensi yang ada

- Memperluas mekanisme pengendalian yang dimiliki dengan yang baru dan lebih baik.

- Perbaikan ke suatu keadaan keseimbangan yang lebih adaptif.

Cara atau pendekatan: bimbingan, reassurance, katarsis emosional, hipnosis, desensitisasi, eksternalisasi minat, manipulasi lingkungan, terapi kelompok.

Psikoterapi Reedukatif:

Tujuan:

Mengubah pola perilaku dengan meniadakan kebiasaan (habits) tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan.

Cara atau pendekatan: Terapi perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, psikodrama, dll.

3. Psikoterapi Rekonstruktif:

Tujuan :

Dicapainya tilikan (insight) akan konflik-konflik nirsadar, dengan usaha untuk mencapai perubahan luas struktur kepribadian seseorang.

Cara atau pendekatan: Psikoanalisis klasik dan Neo-Freudian (Adler, Jung, Sullivan, Horney, Reich, Fromm, Kohut, dll.), psikoterapi berorientasi psikoanalitik atau dinamik.

 b. Menurut “dalamnya”, psikoterapi terdiri atas: 

1. ”superfisial”, yaitu yang menyentuh hanya kondisi atau proses pada “permukaan”, yang tidak menyentuh hal-hal yang nirsadar atau materi yangdirepresi.

2. “mendalam” (deep), yaitu yang menangani hal atau proses yang tersimpan dalam alam nirsadar atau materi yang direpresi.

c. Menurut teknik yang terutama digunakan, psikoterapi dibagi menurut teknik perubahan yang digunakan, antara lain psikoterapi ventilatif, sugestif, katarsis, ekspresif, operant conditioning, modeling, asosiasi bebas, interpretatif, dll.

d. Menurut konsep teoretis tentang motivasi dan perilaku, psikoterapi dapat dibedakan menjadi: psikoterapi perilaku atau behavioral (kelainan mental-emosional dianggap teratasi bila deviasi perilaku telah dikoreksi); psikoterapi kognitif (problem diatasi dengan mengkoreksi sambungan kognitif automatis yang “keliru”; dan psikoterapi evokatif, analitik, dinamik (membawa ingatan, keinginan, dorongan, ketakutan, dll. yang nirsadar ke dalam kesadaran). Psikoterapi kognitif dan perilaku banyak bersandar pada teori belajar, sedangkan psikoterapi dinamik berdasar pada konsep-konsep psikoanalitik Freud dan pasca-Freud.

e. Menurut setting-nya, psikoterapi terdiri atas psikoterapi individual dan kelompok (terdiri atas terapi marital/pasangan, terapi keluarga, terapi kelompok)

f.  Menurut nama pembuat teori atau perintis metode psikoterapeutiknya, psikoterapi dibagi menjadi psikoanalisis Freudian, analisis Jungian, analisis transaksional Eric Berne, terapi rasional-emotif Albert Ellis, konseling non-direktif Rogers, terapi Gestalt dari Fritz Perls, logoterapi Viktor Frankl, dll.

g. Menurut teknik tambahan khusus yang digabung dengan psikoterapi, misalnya narkoterapi, hypnoterapi, terapi musik, psikodrama, terapi permainan dan peragaan (play therapy), psikoterapi religius, dan latihan meditasi.

h. Yang belum disebutkan dalam pembagian di atas namun akhir-akhir ini banyak dipakai antara lain: konseling, terapi interpersonal, intervensi krisis.

G.Teknik-teknik Psikoterapi

Sampai saat ini, sebagaimana yang dikemukakan oleh Atkinson, terdapat teknik psikoterapi yang digunakan oleh para psikiater atau psikolog yaitu:

1.Teknik terapi psikoanalisis, bahwa di dalam tiap-tiap individu terdapat kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan yang menyebabkan konflik internal tidak terhindarkan. Konflik yang tidak disadari itu memiliki pengaruh yang kuat pada perkembangan kepribadian individu, sehingga menimbulkan stres dalam kehidupan. Teknik ini menekankan fungsi pemecahan masalah dari ego yang berlawanan dengan impuls seksual dan agresif dari id. Model ini banyak dikembangkan dalam Psikoanalisis yang dipelopori oleh Sigmund Freud.

Menurut Freud, ada beberapa teknik penyembuhan penyakit mental, diantaranya yaitu dengan mempelajari :
– Hipnotis banyak digunakan oleh psikiater Perancis, dengan cara menghilangkan ingatan-ingatan pasien yang mengandung simptomsimptom, kemudian psikiater memberikan ingatan baru berupa sugesti-sugesti yang kuat, yang dapat memulihkan kesehatan pasien. Freud kurang tertarik dengan teknik ini, sebab tingkat keampuhannya diragukan.

- Chatarsis, yaitu pembebasan dan pelepasan ketegangan atau kecemasan dengan jalan mengalami kembali dan mencurahkan keluar kejadian-kejadian traumatis di masa-masa lalu, yang semula dilakukan dengan jalan menekan emosi-emosinya ke alam ketidaksadaran. Teknik ini digunakan dengan cara berbicara (talking cure). Cara kerjanya adalah pasien disuruh untuk menguraikan simptom secara rinci yang mengganggu jiwanya, setelah simptom itu muncul lalu psikiater segera menghilangkannya.

- Asosiasi bebas, yaitu membiarkan pasien menceritakan keseluruhan pengalamannya, baik yang mengandung symptom maupun tidak. Cerita yang dikemukakan tidak harus runtut, teratur, logis ataupun penuh makna. Cerita itu betapapun memalukan tetapi tetap harus diceritakan. Setelah simptom diketahui, psikiater mudah memberikan terapinya.

- Analisis mimpi. Mimpi adalah jalan kerajaan menuju alam bawah sadar. Ia merupakan keinginan tahu ketakutan bawah sadar dalam bentuk yang disangkal. Mimpi merupakan bentuk, isi, dan kegiatan paling primitif dari jiwa seseorang. Setelah pasien menceitakan mimpinya, psikiater mengetahui rahasia paling dalam di dalam jiwa pasien. Freud membedakan antara isi mimpi manifes (jelas, sadar) dan isi mimpi laten (tersembunyi, tidak disadari). Dengan mengungkap isi manifes dari suatu mimpi dan kemudian mengasosiasi-bebaskan isi mimpi, ahli analisis dan klien berupaya mengungkap makna bawah sadar.
Teknik terapi Psikoanalisis Freud pada perkembangan selanjutnya disempurnakan oleh Jung dengan teknik terapi Psikodinamik.

2. Teknik terapi perilaku, yang menggunakan prinsip belajar untuk memodifikasi perilaku individu. Teknik ini antara lain :
– Desensitisasi sistematik dipandang sebagai proses deconditioning atau counterconditioning. Prosedurnya adalah memasukkan suatu respons yang bertentangan dengan kecemasan , seperti relaksasi. Individu belajar untuk relaks dalam situasi yang sebelumnya menimbulkan kecemasan.

- Flooding adalah prosedur terapi perilaku di mana orang yang ketakutan memaparkan dirinya sendiri dengan apa yang membuatnya takut, secara nyata atau khayal, untuk periode waktu yang cukup panjang tanpa kesempatan meloloskan diri.

- Penguatan sistematis (systematic reinforcement) didasarkan atas prinsip operan, yang disertai pemadaman respons yang tidak diharapkan. Pengkondisian operan disertai pemberian hadiah untuk respons yang diharapkan dan tidak memberikan hadiah untuk respons yang tidak diharapkan.

- Pemodelan (modeling) yaitu mencontohkan dengan menggunakan belajar observasionnal. Cara ini sangat efektif untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan, karena memberikan kesempatan kepada klien untuk mengamati orang lain mengalami situasi penimbul kecemasan tanpa menjadi terluka. Pemodelan lazimnya disertai dengan pengulangan perilaku denganpermainan simulasi (role-playing).

- Regulasi diri melibatkan pemantauan dan pengamatan perilaku diri sendiri, pengendalian atas kondisi stimulus, dan mengembangkan respons bertentangan untuk mengubah perilaku maladaptif.

3.Teknik terapi kognitif perilaku, yaitu teknik memodifikasi perilaku dan mengubah keyakinan maladaptif. Ahli terapi membantu individu mengganti interpretasi yang irasional terhadap terhadap suatu peristiwa dengan interpretasi yang lebih realistik. Atau, membantu pengendalian reaksi emosional yang terganggu, seperti kecemasan dan depresi dengan mengajarkan mereka cara yang lebih efektif untuk menginterpretasikan pengalaman mereka.

4.Teknik terapi humanistik, yaitu teknik dengan pendekatan fenomenologi kepribadian yang membantu individu menyadari diri sesungguhnya dan memecahkan masalah mereka dengan intervensi ahli terapi yang minimal. Gangguan psikologis yang diduga timbul jika proses pertumbuhan potensi dan aktualisasi diri terhalang oleh situasi atau oleh orang lain. Carl Rogers, yang mengembangkan psikoterapi yang berpusat pada klien (client-centered-therapy), percaya bahwa karakteristik ahli terapi yang penting untuk kemajuan dan eksplorasi-diri klien adalah empati, kehangatan, dan ketulusan.

5.Teknik terapi eklektik atau integrative, yaitu memilih dari berbagai teknik terapi yang paling tepat untuk klien tertentu, ketimbang mengikuti dengan kaku satu teknik tunggal. Ahli terapi mengkhususkan diri dalam masalah spesifik, seperti alkoholisme, disfungsi seksual, dan depresi. Keenam, teknik terapi kelompok dan keluarga. Terapi kelompok adalah teknik yang memberikan kesempatan bagi individu untuk menggali sikap dan perilakunya dalam interaksi dengan orang lain yang memiliki masalah serupa. Sedang terapi marital dan terapi keluarga adalah bentuk terapi kelompok khusus yang membantu pasangan suami-istri, atau hubungan orang tua dan anak, untuk mempelajari cara yang lebih efektif, untuk berhubungan satu sama lain dan untuk menangani berbagai masalahnya.

H. Terapi —> efektif jika :

- Adanya pemulihan dalam hubungan interpersonal

- Adanya keterampilan coping yang lebih baik

- Pertumbuhan personal

I. Tahap-tahap psikoterapi :

1. Wawancara awal

  • Dikemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan2, yang akan dilakukan

terapi & diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama,

keterbatasan, dll)

  • Akan diketahui apa yang menjadi masalah klien – rapport, klien menceritakan masalah (ada

komitmen untuk mengkomunikasikan), terapis & klien bekerjasama

2. Proses terapi

  • Mengkaji pengalaman klien, hubungan terapis & klien, pengenalan – penjelasan
  • Pengartian perasaan & pengalaman klien

3. Pengertian ke tindakan

  • Terapis bersama klien mengkaji & mendiskusikan apa yang telah dipelajari klien selama terapi

berlangsung, penngetahuan klien akan aplikasinya nanti di perilaku & kehidupan sehari-hari

4. Mengakhiri terapi

  • Terapi dapat berakhir jika tujuan telah tercapai, klien tidak melanjutkan lagi, atau terapis tidak \dapat lagi  menolong kliennya (merujuk ke ahli lain)
  • Beberapa pertemuan sebelum terapi berakhir klien diberitahu à klien disiapkan untuk menjadi

lebih mandiri  menghadapi lingkungannya nanti

Sumber :

Wikipedia-Psikoterapi, Jum’at, 16 Maret 2012

http://id.wikipedia.org/wiki/Psikoterapi

Kitab Psikologi-Terapi Psikologi :  Jum’at, 16 Maret 2012

http://zainulanwar.staff.umm.ac.id/download-as-pdf/umm_blog_article_413.pdfHartosujono,%20Diktat%20Psikoterapi,Universitas%20Sarjanawiyata%20Tamansiswa,Yogyakarta:%20Fakultas%20Psikologi

Psikoterati- Tes Pengantar, Jum’at 16 Maret 2012

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=psikoterapi&source=web&cd=3&ved=0CEIQFjAC&url=http%3A%2F%2Fsrini.staff.gunadarma.ac.id%2FDownloads%2Ffiles%2F13996%2Ftespengantr-fix.doc&ei=uQhjT-bzHoW8rAeEtqi9Bw&usg=AFQjCNFXJjp23sIXhGI3V093o0qFDc-WIg&cad=rja

Psikoterapi – Sylvia D. Elvira, Jum’at 16 Maret 2012

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=psikoterapi&source=web&cd=5&ved=0CE4QFjAE&url=http%3A%2F%2Fxa.yimg.com%2Fkq%2Fgroups%2F20899393%2F125933547%2Fname%2FPsikoterapi.doc&ei=XCRjT5rmMIiJrAeTk5i9Bw&usg=AFQjCNExih8fJQkIWWpEQh0oodRDtCCqrA&cad=rja

 
 

Psikologi Lintas Budaya : Kebudayaan Jawa Tengah

MAKALAH SOFTSKILL : PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA

KEBUDAYAAN JAWA TENGAH

Disusun Oleh :

LAILATUL FAIZAH (15509489)

MUTIA FARIDA (15509805)

PANGESTIKA RAHADYANI (10509788)

YESSICA HERA PRATIWI (11509975)

TUTI SETIYAWATI (11509445)

UNIVERSITAS GUNADARMA

2011

____________________________________________________________________________

BAB I

PENDAHULUAN

 1.1       Latar Belakang

            Keunikan Jawa Tengah terletak pada budaya serta tradisi luhur dan estetis yang tetap terjaga, disertai dengan keramahan, jiwa kewirausahaan yang tangguh dan keterbukaan terhadap inovasi.

            Sejarah menunjukkan kedekatan hubungan antara orang Jawa dengan alam, pegunungan, ngarai, dan pantai yang sangat mewarnai karakter budaya dan tradisi Jawa Tengah dan tercermin pada kriya, olah seni dan mahakarya budaya yang penuh makna.

            Kreatifitas yang muncul dari tangan-tangan orang Jawa, merupakan bentuk nyata dari cipta, rasa, dan karsa, yang terinspirasi dari makrokosmos yang merangkum mikrokosmos.

            Kekuatan inspirasi jagat raya, olah kreatifitas dan etos kerja keras orang Jawa  menghasilkan antara lain Borobudur, Prambanan, Wayang, Gamelan, Topeng, Keris, dan Batik, yang menjadi warisan budaya dunia karena setiap artefak tersebut membawa serta kecantikan wujud dan kedalaman makna bagi kehidupan manusia secara universal.

1.2       Fenomena yang terjadi pada masyarakat

            Pada zaman sekarang masyarakat Jawa Tengah sebagian besar merantau ke kota-kota besar khususnya ibukota untuk mengadu nasib. Apakah masyarakat urban ini masih mengetahui dan mengikuti budaya asal mereka apa mereka sudah mulai meninggalkannya ?

 1.3       Tujuan Penelitian

                        Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jauh lebih dalam tentang kebudayaan  Jawa Tengah mulai dari tarian, alat musik , dan upacara adat.

1.4       Metode Penelitian

  1. Pendekatan Penelitian

            Pada penelitian ini kami ingin mengetahui lebih dalam tentang budaya Jawa Tengah. Sejarah budaya tersebut mulai ada, oleh karena itu kami melakukan pendekatan kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang kami gunakan adalah dengan teknik observasi dan wawancara.

  1. Subjek Penelitian

            Pada penelitian ini kami memilih subjek dengan menggunakan teknik secara sample. Subjek yang kami ambil adalah pria yang berusia 47 dan 57 tahun.

  1. Tahap – Tahap penelitian yang kami lakukan antara lain :
    1. Menentukan fenomena atau masalah yang akan diambil
    2. Mencari teori yang berhubungan dengan permasalahan
    3. Menentukan teknik pengumpulan subjek
    4. Menentukan lokasi pengambilan data
    5. Membuat  pedoman observasi dan wawancara
    6. Melakukan pengambilan data
    7. Analisis
    8. Teknik Kumpul Data

            Pada penelitian ini kami menggunakan teknik pengumpulan data khas penelitian kualitatif yaitu observasi dan wawancara. Adapun teknik observasi yang kami pilih adalah observasi non partisipan dimana dalam observasi ini kami hanya mengamati perilaku secara alamiah, tidak turun langsung ke dalam penelitian dan kehidupan subjek. Teknik wawancara yang kami gunakan adalah wawancara terstruktur dan terbuka, kami membuat pedoman wawancara singkat secara garis besar dan mewancarai subjek yang melakukan dengan menggunakan bahasa informal untuk dapat menggali lebih jauh.

  1. Alat Bantu Kumpul Data

Dalam melakukan pengumpulan data kami menggunakan berbagai macam alat seperti alat tulis, dan alat perekam suara.

BAB II

PEMBAHASAN

 2.1       Tinjauan Pustaka

            Seni Budaya

  1. Gamelan Jawa

Gamelan Jawa merupakan Budaya Hindu yang digubah oleh Sunan Bonang, guna mendorong kecintaan pada kehidupan Transedental (Alam Malakut)”Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang. Sampai saat ini tembang tersebut masih dinyanyikan dengan nilai ajaran Islam, juga pada pentas-pentas seperti: Pewayangan, hajat Pernikahan dan acara ritual budaya Keraton.

  1. Keris Jawa

Keris dikalangan masyarakat di jawa dilambangkan sebagai symbol “ Kejantanan “ dan terkadang apabila karena suatu sebab pengantin prianya berhalangan hadir dalam upacara temu pengantin, maka ia diwakili sebilah keris. Keris merupakan lambang pusaka. Di kalender masyarakat jawa mengirabkan pusaka unggulan keraton merupakan kepercayaan terbesar pada hari satu sura. Keris pusaka atau tombak pusaka merupakan unggulan itu keampuhannya bukan saja karena dibuat dari unsure besi baja, besi, nikel, bahkan dicampur dengan unsure batu meteorid yang jatuh dari angkasa sehingga kokoh kuat, tetapi cara pembuatannya disertai dengan iringan doa kepada sang maha pencipta alam ( Allah SWT ) dengan duatu apaya spiritual oleh sang empu. Sehingga kekuatan spiritual sang maha pencipta alam itu pun dipercayai orang sebagai kekuatan magis atau mengandung tuah sehingga dapat mempengaruhi pihak lawan menjadi ketakutan kepada pemakai senjata pusaka itu.

  1. KesenianTarian Jawa

Tarian merupakan bagian yang menyertai perkembangan pusat baru ini. Ternyata pada masa kerajaan dulu tari mencapai tingkat estetis yang tinggi.  Jika dalam lingkungan rakyat tarian bersifat spontan dan sederhana, maka dalam lingkungan istana tarian mempunyai standar, rumit, halus, dan simbolis.  Jika ditinjau dari aspek gerak, maka pengaruh tari India yang terdapat pada  tari-tarian istana Jawa terletak pada posisi tangan, dan di Bali ditambah dengan gerak mata.
Tarian yang terkenal ciptaan para raja, khususnya di Jawa, adalah bentuk teater tari seperti wayang wong dan bedhaya ketawang. Dua tarian ini merupakan pusaka raja Jawa. Bedhaya Ketawang adalah tarian yang dicipta oleh raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613-1646) dengan berlatarbelakang mitos percintaan antara raja Mataram pertama (Panembahan Senopati) dengan Kangjeng Ratu Kidul (penguasa laut selatan/Samudra Indonesia) (Soedarsono, 1990). Tarian ini ditampilkan oleh sembilan penari wanita.

  1. Kesenian Wayang

1)      Wayang Kulit Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa. Pertunjukan Kesenian wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animism dan dynamisme. Menurut Kitab Centini, tentang asal-usul wayang Purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang/Kediri. Sektar abad ke 10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Ceritera Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.

2)      Wayang Kulit Gagrag Banyumasan

Wayang Kulit Gagrag Banyumasan adalah jenis pertunjukan wayang kulit yang bernafas Banyumas. Lakon-lakon yang disajikan dalam pementasan tidak berbeda wayang kulit purwo, yaitu bersumber dari kitab Mahabarata dan Ramayana. Spesifikasi wayang kulit gagrag Banyumasan adalah terletak pada tehnik pembawaannya yang sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya masyarakat setempat yang memilik pola kehidupan tradisional agraris.

3)      Wayang Bocah

Berbagai macam pertunjukan kesenian yang anda lihat di Solo belum lengkap rasanya sebelum melihat bertunjukan wayang bocah biasanya pernain wayang adalah orang dewasa namun seperti namanya, wayang ini dimainkan anak anak atau dalam bahasa jawa disebut bocah. Meskipun demikian kepiawaian mereka bermain tak kalah dengan wayang orang yang dimainkan orang dewasa. Bahkan selain melihat pertunjukannya. , juga dapat melihat latihannya dengan mengunjungi sanggar tari Wayang Bocah Suryo Sumirat di Mangkunegaran atau Meta Budaya di Kampung Baluwarti.

4)      Wayang Orang Sriwedari

Wayang Orang berkembang sejak abad XVIII. Diilhami dari drama yang telah berkembang di Eropa, KGPAA Mangkunegoro I di Surakarta menciptakan Wayang Orang, bnamuiuntidak berkembang lama. pada saat Paku Buwono X membangun Sriwedari sebagai taman hiburan untuk umum dan diresmikan pada tahun 1899, diadakan pertunjukan Wayang Orang yang kemudian hidup sampai sekarang. Wayang Orang Sriwedari telah berjasa besar ikut serta melestarikan kebudayaan bangsa,yaitu seni wayang orang, seni tari, seni busana, seni suara serta seni karawitan.

5)      Wayang Golek Menak

Dijaman penyiaran agama Islam masuk ke wilayah Pulau Jawa khususnya diwilayah Pantura Pulau Jawa mengalami hambatan ‑terutama diwilayah Kota Pemalang sebagian masyarakat banyak yang menganut agama Hindu. Karena daerah Pemalang merupakan tanah perdikan dari Kerajaan Majapahit.
Untuk dapat mempengaruhi ajaran‑ajaran Islam para sunan wali dan ulama syiar dengan menggunakan wayang sebagai medianya. Di Kabupaten Pemalang ada beberapa jenis wayang yang tumbuh dan subur diantaranya : wayang kulit, wayang kemprah, wayang tutur, wayang golek cepak, wayang golek badong, wayang golek menak.

Diantara wayang yang kami sebutkan di atas wayang kulit dan wayang golek menak yang mendapat hati di masyarakat. Untuk itu, kami mengangkat wayang golek menak sebagai kesenian unggulan. Bentuk wayang tak ubahnya dengan wayang golek di daerah kami, terbuat dari kayu, dengan wajah tiga dimensi yang menggambarkan tokoh ‑ tokoh pada masa dahulu yang bersumber dari tokoh legenda dan tokoh islam.

Cerita mengambil dari dua sumber, bisa menceritakan ajaran ‑ ajaran Islam dan cerita ‑cerita daerah setempat , tinggal menurut apa keinginan masyarakat atau kehendak yang punya hajat ataupun panitia.

Ke Khasan Wayang Golek MenakCerita daerah setempat dengan cerita yang tidak dimiliki daerah lain.Gending. Gending iringan adaiah gending cengkok khusus daerah setempat Pernalangan Yang tidak di ajarkan di pawiyatan seperti iringan wayang kulit misainya.Sastra dan Sabet. Sastra kadang muncul dengan khas wayang golek menak serta sabet atau gerak Wayang golek.

  1. Produk Khas

1)      Batik (Batik of Central Java) Salah satu jenis produk sandang yang berkembang pesat di Jawa tengah sejak beberapa dekade, bahkan beberapa abad yang lalu, adalah kerajinan batik. Sebagian besar masyarakat Indonesia telah mengenal batik baik dalam coraknya yang tradisional maupun yang modern. Pada umumnya batik digunakan untuk kain jarik, kemeja, sprey, taplak meja, dan busana wanita. Mengingat bahwa jenis produk ini amat dipengaruhi oleh selera konsumen dan perubahan waktu maupun model, maka perkembangan industri batik di Jawa Tengah juga mengalami perkembangan yang cepat baik menyangkut rancangan, penampilan, corak dan kegunaannya, disesuaikan dengan permintaan dan kebutuhan pasar baik dalam maupun luar negeri. Tradisonal secara historis berasal dari zaman nenek moyang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik di Jawa Tengah mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini. Corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri. Sentra produksi batik di Jawa Tengah banyak dijumpai di Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kota Surakarta, dan Kabupaten Sragen. Dari sisi permintaan dan keunikan produk, peluang usaha di bidang industri batik masih terbuka luas dan sangat menguntungkan. Pemasaran batik selain untuk konsumsi lokal juga telah menembus pasar Eropa dan Amerika.

2)      Mebel Ukir

Salah satu produk kayu olahan yang pertumbuhannya amat pesat dalam beberapa dekade terakhir ini adalah produk mebel dan furniture. Berawal dari pekerjaan rumah tangga, produk mebel kini telah menjadi industri yang cukup besar dengan tingkat penyerapan tenaga kerja terdidik yang tidak sedikit. Produk jenis ini secara prinsip dibagi dalam dua kategori yaitu mebel untuk taman (garden) dan interior dalam rumah (indoor).

Mebel dari Jawa Tengah ( furniture from Central Java )sudah terkenal sejak lama baik karena kualitas, seni maupun harganya yang kompetitif. Banyak konsumen baik dalam maupun luar negeri yang memesan furniture antik, yang walaupun dibuat baru, namun diproses seolah-olah merupakan produk kuno (antik). Ada pula produk furniture yang dibuat dari bonggol (tonggak) pohon yang dengan sentuhan-sentuhan seni berubah menjadi produk furniture yang sangat menarik dan memiliki nilai jual tinggi. Sedangkan corak dan gaya fungsional dan modern juga berkembang pesat bersamaan meningkatnya permintaan untuk kebutuhan perkantoran dan hotel yang pembangunannya tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir ini, baik di dalam maupun luar negeri.

Produk furniture, khususnya ukiran dikembangkan oleh para pengrajin Jawa Tengah berdasarkan keterampilan mengukir yang diwariskan oleh para leluhurnya. Disamping itu, di Kota Semarang terdapat sekolah kejuruan yang mengkhususkan diri di bidang design dan teknik perkayuan (PIKA) yang menghasilkan lulusan yang memiliki keahlian tinggi. Para luklusan PIKA tersebut telah ikut menjadi tulang punggung industri permebelan di Jawa Tengah hingga mampu menghasilkan produk berkualitas dan memiliki daya saing tinggi yang tidak kalah dengan produk luar negeri.

Produksi mebel Jawa Tengah berkembang dan tumbuh pesat seiring dengan permintaan yang meningkat dari dalam maupun luar negeri, baik desain, konstruksi, corak maupun pewarnaannya. Sebagian bahannya terbuat dari kayu, dan saat ini makin bervariasi karena bahan bakunya tidak lagi semata-mata kayu jati tetapi juga mulai banyak menggunakan kayu mahoni dan jenis lainnya, serta bahan logam.

Sentra-sentra produksi mebel di Jawa Tengah tersebar di Kota Semarang, Kabupaten Jepara, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Kudus, Kabupaten Rembang, Kabupaten Blora, Batang, Sragen. Investasi di produk ini masih terbuka dengan persaingan yang cukup ketat.

3)      Rokok

Rokok sigaret kretek merupakan salah satu produk Jawa Tengah yang cukup dikenal luas. terdapat berbagai tipe dan merk rokok sigaret kretek yang dihasilkan, baik oleh pengusaha yang dikategorikan sebagai K-1000 (memproduksi rokok di bawah 1000 batang per hari) hingga yang merupakan pabrikan modern dan besar seperti Jarum, Jambu Bol, Sukun, Tapel Kuda, dan lain-lain.

Rokok sigaret kretek merupakan slaah satu jenis produk rokok yang dihasilkan melalui proses pencampuran antara rajangan tembakau, cengkeh, dan diolah dengan campuran aroma tertentu yang menimbulkan rasa dan kenikmatan khas. beberapa jenis rokok K-1000 menambahkan bahan baku lain seperti kemenyan dan dibungkus dengan daun tertentu. Bahan baku utama yaitu tembakau umumnya berasal dari Jawa Tengah sendiri yakni dari Kabupaten Wonosobo, Temanggung, Kendal, Boyolali, dan Batang.

Sentra produksi rokok tersebar di Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kota Surakarta, Kabupaten Surakarta, Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Karanganyar. Sedangkan pasarnya tidak hanya dalam negeri tetapi juga luar negeri, khususnya ASEAN.

  1. Tradisi Upacara Adat
    1. Upacara adat Tingkepan atau Mintoni sendiri merupakan sebuah upacara adat yang dilaksanakan untuk memperingati kehamilan pertama ketika kandungan sang ibu hamil tersebut memasuki bulan ke tiga, lima dan puncaknya ke tujuh bulan. Adapun maksud dan tujuan dari digelarnya upacara adat ini adalah untuk mensucikan calon ibu berserta bayi yang di kandungnya, agar selalu sehat segar bugar dalam menanti kelahirannya yang akan datang.

Kronologi singkat dari upacara tingkepan ini sendiri adalah menggelar selametan pada bulan ketiga, lima dan kemudian puncaknya adalah pada bulan ke tujuh sang ibu hamil pun menggelar sebuah prosesi upacara berupa memandikan atau mensucikan calon ibu berserta bayi yang di kandung, agar kelak segar bugar dan selamat dalam menghadapi kelahirannya.

  1. Pertama-tama sang calon ayah dan calon ibu yang akan melakukan upacara Tingkepan duduk untuk menemui tamu undangan yang hadir untuk menyaksikan upacara Tingkepan ini di ruang tamu atau ruang lain yang cukup luas untuk menampung para undangan yang hadir. Setelah semua undangan hadir maka barulah kemudian sang calon ibu dan ayah inipun di bawa keluar untuk melakukan ritual pembuka dari acara tingkepan itu sendiri yakni sungkeman. Sungkeman adalah sebuah prosesi meminta maaf dan meminta restu dengan cara mencium tangan sambil berlutut. Kedua calon ayah dan calon ibu dengan diapit oleh kerabat dekat diantarkan sungkem kepada eyang, bapak dan ibu dari pihak pria, kepada bapak dan ibu dari pihak puteri untuk memohon doa restu. Baru kemudian bersalaman dengan para tamu lainnya.
  2. Setelah acara sungkeman selesai barulah kemudian digelar upacara inti yakni memandikan si calon ibu setelah sebelumnya peralatan upacara tersebut telah dipersiapkan. Alat-alat dan bahan dalam upacara memandikan ini sendiri adalah antara lain bak mandi yang dihias dengan janur sedemikian rupa hingga kelihatan semarak, alas duduk yang terdiri dari klosobongko, daun lima macam antara lain, daun kluwih, daun alang-alang, daun opo-opo, daun dadapserat dan daun nanas. Jajan pasar yang terdiri dari pisang raja, makanan kecil, polo wijo dan polo kependem, tumpeng rombyong yang terdiri dari nasi putih dengan lauk pauknya dan sayuran mentah. Baki berisi busana untuk ganti, antara lain kain sidoluhur; bahan kurasi; kain lurik yuyu sukandang dan morikputih satu potong; bunga telon yang terdiri dari mawar, melati dan kenanga; cengkir gading dan parang serta beberapa kain dan handuk.
  3. Setelah semua bahan lengkap tersedia maka barulah kemudian si calon ibu pun di mandikan. Pertama-tama yang mendapat giliran memandikan biasanya adalah nenek dari pihak pria, nenek dari pihak wanita, dan kemudian barulah secara bergiliran ibu dari pihak pria, ibu dari pihak wanita, para penisepuh yang seluruhnya berjumlah tujuh orang dan kesemuanya dilakukan oleh ibu-ibu. Disamping memandikan, para nenek dan ibu-ibu ini pun diharuskan untuk memberikan doa dan restunya agar kelak calon bayi yang akan dilahirkan dimudahkan keluarnya, memiliki organ tubuh yang sempurna (tidak cacat), dan sebagainya.
  4. Sementara itu, ketika calon ibu dimandikan maka yang dilakukan oleh calon ayah berbeda lagi yakni mempersiapkan diri untuk memecah cengkir (kelapa muda) dengan parang yang telah diberi berbagai hiasan dari janur kelapa. Proses memecah cengkir ini sendiri hanya sekali ayun dan harus langsung terbelah menjadi dua bagian. Maksud dari hanya sekali ayun dan harus langsung terbelah ini sendiri adalah agar kelak ketika istrinya melahirkan sang anak tidak mengalami terlalu banyak kesulitan. Setelah semua upacara itu terlewati, langkah selanjutnya adalah sang calon ayah dan calon ibu yang telah melakukan upacara tersebut pun diiring untuk kembali masuk kamar dan mengganti pakaian untuk kemudian bersiap melakukan upacara selanjutnya yakni memotong janur. Prosesi memotong janur ini sendiri adalah pertama-tama janur yang telah diambil lidinya itu dilingkarkan ke pinggang si calon ibu untuk kemudian dipotong oleh si calon ayah dengan menggunakan keris yang telah dimantrai. Proses memotong ini sama seperti halnya ketika memecah cengkir, sang calon ayah harus memotong putus pada kesempatan pertama.
  1. Setelah selesainya upacara memotong janur ini pun kemudian dilanjutkan dengan upacara berikutnya yakni upacara brojolon atau pelepasan. Upacara brojolan ini sendiri adalah sebuah upacara yang dilakukan oleh calon ibu sebagai semacam simulasi kelahiran. Dalamupacara ini pada kain yang dipakai oleh calon ibu dimasukkan cengkir gading yang bergambar tokoh pewayangan yakni Batara Kamajaya dan Batari Kamaratih. Tugas memasukkan cengkir dilakukan oleh ibu dari pihak wanita dan ibu dari pihak pria bertugas untuk menangkap cengkir tersebut di bawah (antara kaki calon ibu). Ketika cengkir itu berhasil ditangkap maka sang ibu itu pun harus berucap yang jika dibahasa Indonesiakan berbunyi, “Pria ataupun wanita tak masalah. Kalau pria, hendaknya tampan seperti Batara Kamajaya dan kalau putri haruslah cantik layaknya Batari Kamaratih.” Kemudian seperti halnya bayi sungguhan, cengkir yang tadi ditangkap oleh ibu dari pihak pria ini pun di bawa ke kamar untuk ditidurkan di kasur.
  2. Langkah berikutnya yang harus dilakukan oleh calon ibu ini pun harus memakai tujuh perangkat pakaian yang sebelumnya telah disiapkan. Kain-kain tersebut adalah kain khusus dengan motif tertentu yaitu kain wahyutumurun, kain sidomulyo, kain sidoasih, kain sidoluhur, kain satriowibowo, kain sidodrajat, kain tumbarpecah dan kemben liwatan. Pertama, calon ibu mengenakan kain wahyutumurun, yang maksudnya agar mendapatkan wahyu atau rido yang diturunkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Kedua, calon ibu mengenakan kain sidomulyo, yang maksudnya agar kelak hidupnya mendapatkan kemuliaan. Ketiga, calon ibu mengenakan kain sidoasih, maksudnya agar kelak mendapatkan kasih sayang orang tua, maupun sanak saudara. Keempat, calon ibu mengenakan busana kain sidoluhur, maksud yang terkandung di dalamnya agar kelak dapat menjadi orang yang berbudi luhur. Kelima, calon ibu mengenakan kain satriowibowo, maksudnya agar kelak dapat menjadi satria yang berwibawa. Keenam, calon ibu mengenakan busana kain sidodrajat, terkandung maksud agar kelak bayi yang akan lahir memperoleh pangkat dan derajat yang baik. Ketujuh, calon ibu mengenakan busana kain tumbarpecah dan kemben liwatan yang dimaksudkan agar besok kalau melahirkan depat cepat dan mudah seperti pecahnya ketumbar, sedangkan kemben liwatan diartikan agar kelak dapat menahan rasa sakit pada waktu melahirkan dan segala kerisauan dapat dilalui dengan selamat. Sambil mengenakan kain-kain itu, ibu-ibu yang bertugas merakit busana bercekap-cakap dengan tamu-tamu lainnya tentang pantas dan tidaknya kain yang dikenakan oleh calon ibu. Kain-kain yang telah dipakai itu tentu saja berserakan dilantai dan karena proses pergantiannya hanya dipelorotkan saja maka kain-kain tersebutpun bertumpuk dengan posisi melingkar layaknya sarang ayam ketika bertelur. Dengan tanpa dirapikan terlebih dahulu kain-kain tersebut kemudian dibawa ke kamar.
  3. Prosesi selanjutnya sekaligus sebagai penutup dari rangkaian prosesi upacara tersebut adalah calon ayah dengan menggunakan busana kain sidomukti, beskap, sabuk bangun tulap dan belankon warna bangun tulip, dan calon ibu dengan mengenakan kain sidomukti kebaya hijau dan kemben banguntulap keluar menuju ruang tengahdimana para tamu berkumpul. Di sini sebagai acara penutup sebelum makan bersama para tamu, terlebih dahulu dilakukan pembacaan doa dengan dipimpin oleh sesepuh untuk kemudian ayah dari pihak pria pun memotong tumpeng untuk diberikan kepada calon bapak dan calon ibu untuk dimakan bersama-sama. Tujuan dari makan timpeng bersama ini sendiri adalah agar kelak anak yang akan lahir dapat rukun pula seperti orang tuanya. Pada waktu makan ditambah lauk burung kepodang dan ikan lele yang sudah digoreng. Maksudnya agar kelak anak yang akan lahir berkulit kuning dan tampan seperti burung kepodang. Sedangkan ikan lele demaksudkan agar kelak kalau lahir putri kepala bagian belakang rata, supaya kalau dipasang sanggul dapat menempel dengan baik. Usai makan bersama, acara dilanjutkan upacara penjualan rujak untuk para tamu sekaligus merupakan akhir dari seluruh acara tingkepan atau mitoni. Sambil bepamitan, para tamu pulang degan dibekali oleh-oleh, berupa nasi kuning yang ditempatkan di dalam takir pontang dan dialasi dengan layah. Layah adalah piring yang terbuat dari tanah liat. Sedangkan, takir pontang terbuat dari daun pisang dan janur kuning yang ditutup kertas dan diselipi jarum berwarna kuning keemasan.
  1. Upacara Pernikahan Adat Jawa Tengah

Sebelum melaksanakan upacara adat perkawinan, yang pertama kali harus dilakukan adalah memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar acara dapat berlangsung dengan baik dari awal sampai akhir.

Masyarakat Jawa Tengah dan sekitarnya akrab dengan budaya leluhur, bila akan melaksanakan sebuah hajatan, biasanya tak akan lupa menyediakan sesajen di berbagai tempat tertentu, khususnya di sekitar rumah.

Prosesi Upacara Pernikahan Adat Jawa Tengah adalah sebagai berikut:

  1. a.      Bersih Lahir Batin

Sebelum kedua mempelai terikat perkawinan, Sebelum pesta perkawinan tradisonal ini dilangsungkan, keduanya harus dibersihkan terlebih dahulu baik lahir maupun batin. Tujuannya agar kedua calon mempelai benar-benar bersih dari segala hal dan siap menyongsong status sebagai suami istri dalam keadaan bersih.

  1. b.      Midodareni

Midodareni adalah acara perkenalan dan silaturahmi antar keluarga. Dari pihak pria dilakukan oleh sesepuh dan keluarga dekat pengantin pria. Selain itu wakil orang tua pengantin pria juga dibekali dengan bingkisan balasan sebagai tanda kasih sayang dari keluarga pengantin wanita.Prosesi midodareni ini adalah awal dari rangkaian pesta pernikahan tradisonal yang biasa dilakukan di Jawa.

  1. c.       Upacara Injak Telur

Selanjutnya, Upacara dan Pesta Pernikahan Tradisional ini dilanjutkan dengan Upacara Injak Telur. Acara ini mengandung harapan bagi pengantin wanita untuk segera mempunyai keturunan, karena injak telur ini identik dengan pecah wiji dadi. Telur ini juga mempunyai makna sebagai keturunan yang akan lahir sebagai cinta kasih berdua. Kemudian dilanjutkan mencuci kaki pengantin pria yang dilakukan oleh pengantin wanita yang melambangkan kesetiaan istri pada suaminya.

  1. d.      Sikepan Sindur

Setelah acara injak telur selesai dilanjutkan dengan sikepan sindur yang dilakukan oleh ibu pengantin wanita. Sindur ini akan dibentangan pada kedua bahu mempelai. Adapun makna upacara ini mengandung harapan bahwa dengan sinfur tersebut kelak keduanya akan semakin erat karena dipersatukan dengan ibunda.

Sedangkan tugas ayah sebagai kepala rumah tangga berjalan di muka sebagai pemandu anak mengikuti langkah terbaik dalam hidup yang akan dijalani. Sang ayah bertugas sebagai penunjuk jalan kehidupan di masa depan dan hal ini perlu dijadikan contoh bagi pasangan baru.

  1. e.       Acara Pangkuan

Acara pangkuan disebut juga dengan istilah timbang bobot. Pada acara ini pengantin pria duduk di paha sebelah kanan dan pengantin wanita duduk di paha sebelah kiri sang ayah pengantin wanita, yang kemudian ditanya oleh sang ibu mana yang lebih berat dan dijawab sama berat.

Pada saat ini sang ayah seakan-akan sedang menimbang keduanya yaitu antara anak kandung dan menantu. Maknanya adalah bila kedua mempelai sudah mempunyai keturunan akan memiliki kasih sayang kepada putra-putrinya sebagaimana layaknya sang ayah memiliki kasih sayang yang sama antara anak kandung dan anak menantu.

  1. f.       Kacar-Kucur

Tahap upacara panggih adalah kacar-kucur. Acara ini melambangkan kesejahteraan dan tugas mencari nafkah dalam kehidupan berumah tangga yang dilakukan dalam bentuk biji-bijian, beras kuning, uang recehan yang semuanya diberikan kepada ibu. Begitu berat tugas suami dalam mencari nafkah, begitu juga istri dalam mengelolanya. Meski begitu mereka tetap ingat kepada orang tua mengingat perannya yang sangat besar dalam kehidupan seseorang.

  1. g.      Dahar Klimah | Dulang-dulangan

Acara selanjutnya adalah dahar klimah atau dulang-dulangan. Acara ini cukup menarik dan seru karena kedua mempelai saling menyuapi yang dilakukan sebanyak tiga kali dan dilanjutkan dengan minum air putih.

Proses ini sebenarnya mengandung harapan agar kedua mempelai senantiasa rukun, saling tolong menolong serta sepenanggungan dalam menempuh hidup baru. Selain itu juga mengandung makna sebagai ungkapan saling mencintai dan saling memperhatikan pada pasangan.

  1. h.      Titik Pitik

Setelah dahar klimah, upacara titik pitik pun dilaksanakan. Yaitu saat besan datang untuk menyaksikan upacara sakral tersebut. Dengan hadirnya besan berarti keluarga semakin berambah besar dan menjadi satu kesatuan yang kuat sebagai keluarga.

  1. i.        Ngabekten | Sungkeman

Ngabekten biasa disebut dengan istilah sungkeman atau menyembah. Sungkeman pertama ditujukan kepada orang tua yang diteruskan kepada para sesepuh lainnya seperti nenek, kakek dan sebagainya.

Sungkeman ini dilakukan dengan penuh takzim dan membuat suasana haru, karena pasangan muda ini sangat awam dalam menghadapi persoalan kehidupan rumah tangga. Padahal sejak itu mereka harus melangkah sendiri dan akan menjadi orang tua bagi anak-anaknya kelak. Oleh sebab itulah bekal berupa doa restu merupakan hal yang sangat penting dan ditunggu-tunggu oleh pasangan pengantin.

Prosesi prosesi tersebut diatas biasanya ada yang dilakukan secara utuh artinya semua kegiatan upacara pernikahan adat tersebut dilaksanakan semua, ada pula yang melaksanakan hanya beberapa bagian dari prosesi tersebut diatas.

Semua prosesi tadi biasanya dilakukan sebelum pesta perkawinan atau bersamaan dengan pesta pernikahan yang biasanya menggunakan pesta pernikahan tradisional juga.

  1. Tedhak Siten (Ritual Turun Tanah)

Tedhak artinya turun atau menapakkan kaki, Siten dari kata siti artinya tanah atau bumi. Jadi tedhak siten berarti menapakkan kaki kebumi.Ritual tedhak siten menggambarkan persiapan seorang anak untuk menjalani kehidupan yang benar dan sukses dimasa mendatang, dengan berkah Gusti, Tuhan dan bimbingan orang tua dan para guru dari sejak masa kanak-kanak.
Upacara tedhak siten juga punya makna kedekatan anak manusia kepada IbuPertiwi, tanah airnya.

Dengan menjalani kehidupan yang baik dan benar dibumi ini dan sekaligus tetap merawat dan menyayangi bumi, maka kehidupan didunia terasa nyaman dan menyenangkan. Ini untuk mengingatkan bahwa bumi atau tanah telah memberikan banyak hal untuk menunjang kehidupan manusia. Tanpa ada bumi,  sulit dibayangkan bagaimana eksistensi kehidupan manusia , sang suksma yang berbadan halus dan kasar.

Manusia wajib bersyukur kepada Gusti, Tuhan , diberikan kehidupan yang memadai dibumi yang alamnya sangat kondusif, memungkinkan mahluk manusia dan mahluk- mahluk yang lain bermukim disini. Inilah kesempatan untuk berbuat yang sebaik-baiknya, berkarya nyata, tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarganya, tetapi untuk peradaban seluruh umat manusia, yang semuanya adalah titah Gusti dan asal muasalnya dari tempat yang sama.
Hendaknya diingat bahwa tanah adalah salah satu elemen badan manusia dan yang tak             terpisahkan dengan elemen-elemen yang lain, yaitu air, udara dan api, yang mendukung kiprah kehidupan suksma didunia ini, atas kehendak Gusti.

Kapan diadakan upacara tedhak siten?

Pada waktu seorang anak kecil berumur tujuh selapan atau 245 hari. .Selapan merupakan kombinasi hari tujuh menurut kalender internasional dan hari lima sesuai  kalender Jawa.Oleh karena itu selapanan terjadi setiap 35 hari sekali. Bisa jatuh hari Senin Legi, Selasa Paing dst.

Biasanya pelaksanaan upacara tedhak siten diadakan pagi hari dihalaman depan rumah.Selain kedua orang tua bocah, kakek nenek dan para pinisepuh merupakan tamu terhormat, disamping tentunya diundang juga para saudara dekat.

Seperti pada setiap upacara tradisional, mesti dilengkapi dengan sesaji yang sesuai.Bermacam sesaji yang ditata rapi, seperti beberapa macam bunga, herbal dan hasil bumi yang dirangkai cantik, menambah sakral dan marak suasana ritual.

Sesaji itu bukan takhayul, tetapi intinya bila diurai merupakan sebuah doa permohonan kepada Gusti, Tuhan, supaya upacara berjalan dengan selamat dan lancar. Juga  tujuan dari ritual tercapai, mendapatkan berkah Gusti.

Jalannya upacara

Pertama : Anak dituntun untuk berjalan maju dan menginjak bubur tujuh warna yang terbuat dari beras ketan. Warna-warna itu adalah : merah, putih, oranye, kuning, hijau, biru dan ungu.

Ini perlambang , anak mampu melewati berbagai rintangan dalam hidupnya. Strata kesadarannya juga selalu meningkat lebih tinggi. Dimulai dari kehidupan duniawi, untuk menunjang dan mengembangkan diri, terpenuhi kebutuhan raganya, kehidupan materinya cukup, raganya sehat, banyak keinginannya terpenuhi. Seiring pertumbuhan lahir, keperluan batin meningkat ke kesadaran spiritual .

Kedua : Anak dituntun menaiki tangga yang terbuat dari batang tebu Arjuna, lalu turun lagi. Tebu merupakan akronim dari antebing kalbu, mantapnya kalbu, dengan tekad hati yang mantap.

Tebu Arjuna melambangkan supaya si anak bersikap seperti Arjuna, seorang yang berwatak satria dan bertanggung jawab. Selalu berbuat baik dan benar, membantu sesama dan kaum lemah, membela kebenaran, berbakti demi bangsa dan negara.

Ketiga : Turun dari tangga tebu, si anak  dituntun untuk berjalan dionggokan pasir. Disitu dia mengkais pasir dengan kakinya, bahasa Jawanya ceker-ceker, yang  arti kiasannya adalah mencari makan. Maksudnya si anak setelah dewasa akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Keempat : Si bocah dimasukkan kedalam sebuah kurungan yang dihias apik, didalamnya terdapat berbagai benda seperti : buku, perhiasan, telpon genggam dlsb. Dibiarkan bocah itu akan  memegang barang apa. Misalnya dia memegang buku, mungkin satu hari dia mau jadi ilmuwan. Pegang telpon genggam, dia bisa jadi tehnisi atau ahli komunikasi.

Kurungan merupakan perlambang dunia nyata, jadi si anak memasuki dunia nyata dan dalam kehidupannya dia akan dipenuhi kebutuhannya melalui pekerjaan/aktivitas yang telah dipilihnya secara intuitif sejak kecil.

Kelima : Ayah dan kakek si bocah menyebar udik-udik, yaitu uang logam dicampur berbagai macam bunga. Maksudnya si anak sewaktu dewasa menjadi orang yang dermawan, suka menolong orang lain. Karena suka menberi, baik hati, dia juga akan mudah mendapatkan rejeki. Ada juga  ibu si anak mengembannya, sambil ikut menyebarkan udik-udik.

Keenam : Kemudian anak tersebut dibersihkan dengan dibasuh atau dimandikan dengan air sritaman, yaitu air yang dicampuri bunga-bunga : melati, mawar, kenanga dan kantil.

Ini merupakan pengharapan , dalam kehidupannya, anak ini nantinya harum namanya dan bisa mengharumkan nama baik keluarganya.

Ketujuh : Pada akhir upacara, bocah itu didandani dengan pakaian bersih dan bagus. Maksudnya supaya si anak mempunyai jalan kehidupan yang bagus dan bisa membuat bahagia keluarganya.

            Demikian, ritual tedhak siten telah selesai. Seluruh keluarga berbahagia dan berharap semoga Gusti memberikan berkahnya, supaya tujuan ritual berhasil. Selanjutnya para hadirin dipersilahkan menyantap hidangan yang telah disediakan.

Hasil Wawancara (Verbatim)

 A.    Identitas Subjek 1

1. Nama (Inisial)        : SL

2. Jenis Kelamin        : Laki-laki

3. Usia                            : 47

5. TTL                            : Pekalongan, 1 Oktober 1964

4. Suku                          : Jawa

5. Pendidikan             : SMA

6. Pekerjaan               : Wirausaha

7. Agama                    : Islam

8. Hobi                        : Memancing

Pedoman Wawancara

Tanya       : Apa saja upacara adat Jawa Tengah yang anda rayakan bersama keluarga di Jakarta?

Jawab       : Upacara pernikahan , upacara kehamilan seperti saat tiga, lima, dan tujuh bulan.

Tanya       : Mengapa anda masih merayakannya walaupun sudah bermukim di Jakarta?

Jawab       : Karena keluarga dari JATENG juga banyak yang bermukim di Jakarta dan karena itu merupakan tradisi keluarga.

Tanya       : Bagaimana prosesi dan gambaran upacara adat tersebut dilangsungkan?

Jawab       : Upacara pernikahan : Yang saya tahu yaitu ketika prosesi lamaran setelah itu di pingit. Kemudian dipingit sampai acara akad nikah. Kemudian ada prosesi pertemuan antara keluarga besar kedua belah pihak. Prosesi acaranya yaitu; yang pertama ketika resepsi, yaitu dengan sang suami menginjak telur mentah dan istri membersihkan kaki suami yang habis menginjak telur tersebut. Setelah itu upacara orang tua menggendong kedua mempelai dengan cara selendang yang dililitkan ke kedua mempelai kemudian di lingkarkan dan di pegang dan berjalan bersama orang tua wanita dengan menggunakan selendang tersebut. Setelah itu acara dulangi atau saling menyuapi antar kedua mempelai sebanyak 3 kali biasanya makan nasi ataupun potongan ayam goreng dan yang terakhir adalah sungkeman antara mempelai dan kedua orang tua.

Upacara kehamilan : Biasanya itu disebut mintoni. Prosesinya dilaksanakan pada kehamilan anak pertama itu dilaksanakan pada kehamilan usia 3, 5, 7 bulan yang bertujuan supaya bayi dan ibunya selamat dan sehat biasanya pas acara itu urutannya dengan siraman dan diadakan selamatan dengan di sediakan buah buahan dan kue-kuean.

Tanya   : Apa saja upacara khas Jawa Tengah yang dipakai ketika anda melangsungkan pernikahan?

Jawab    : Sama seperti yang tadi sudah saya jelaskan sebelumnya.

Tanya   : Mengapa anda memasukkan tema tersebut ketika melangsungkan pernikahan?

Jawab   : Karena menurut saya itu merupakan suatu tradisi yang harus di lestarikan agar tradisinya tidak hilang.

Tanya    : Apa tanggapan anda mengenai pelestarian adat Jawa Tengah di tengah kehidupan kota Jakarta?

Jawab  : Sudah mulai berkurang karena kebanyakan orang sekarang ingin melaksanakan pernikahan dengan cara yang sederhana.

Tanya       : Mengapa anda berpendapat demikian?

Jawab       : Karena upacara pernikahan Jawa Tengah tergolong ribet dan harus melalui berbagai prosesi yang cukup banyak.

Tanya       : Apa yang anda ketahui mengenai tedak sinten?

Jawab       : Ya itu acara saat anak usia di bawah 1 taun secara garis besarnya untuk melihat bakat dari suatu anak misalnya ketika si anak disuruh memilih benda – benda yang ada di depannya kayak handphone , pulpen buku , dan lain – lain dari situ kita melihat ketertarikan si anak.

Tanya   : Menurut anda, Mengapa banyak orang Jawa Tengah yang hidup di Jakarta tidak mengetahui upacara adatnya sendiri?

Jawab   : Karena tradisi tersebut sudah mulai luntur dan ketika di Jakarta mereka hanya melaksanakan prosesi pernikahan secara sederhana.

Tanya       : Bagaimana cara anda melestarikan budaya Jawa Tengah di Jakarta?

Jawab       : Ya dengan itu tadi dengan melaksanakan berbagai upacara adat yang berasal dari Jawa Tengah.

Tanya       : Apa saja pengaruh dari identitas Jawa Tengah pada diri anda dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat selama hidup di Jakarta?

Jawab       : Pengaruhnya ketika kita sedang berbincang-bincang dengan teman , bergaul dan saat makan.

Tanya       : Mengapa anda merasakan hal tersebut?

Jawab       : Karena untuk lebih menyesuaikan dengan kebudayaan yang ada di  Jakarta.

Tanya       : Bagaimana pola pengasuhan anda terhadap anak-anak anda mengenai kebudayaan Jawa Tengah?

Jawab       : Dengan mengajarkan anak sedikit bahasa Jawa agar anak mengerti bahasa kampung halamannya dan sering mengajaknya pulang kampung untuk lebih mengetahui secara langsung tata krama yang ada di Jawa Tengah.

Tanya       : Mengapa pola asuh anda demikian?

Jawab       : Karena tata krama di Jawa Tengah itu mementingkan kesopansantunan agar anak mengerti tentang sopan santun.

  1. B.     Identitas Subjek

1. Nama (Inisial)        : SS

2. Jenis Kelamin        : Laki-laki

3. Usia                           : 57

5. TTL                            : Rembang, 10 Oktober 1954

4. Suku                         : Jawa

5. Pendidikan            : S1

6. Pekerjaan              : PNS

7. Agama                   : Islam

8. Hobi                       : Berkebun

Pedoman Wawancara

Tanya       : Apa saja upacara adat Jawa Tengah yang anda rayakan bersama keluarga di Jakarta?

Jawab       : Siraman sebelum melakukan pernikahan, sungkeman kepada yang lebih tua pada idul fitri atau acara-acara tertentu.

Tanya       : Mengapa anda masih merayakannya walaupun sudah bermukim di Jakarta?

Jawab       : Karena tradisi keluarga turun-menurun.

Tanya       : Bagaimana prosesi dan gambaran upacara adat tersebut dilangsungkan?

Jawab       : Ketika melakukan upacara pernikahan pengantin dipingit dahulu dan tidak bertemu satu sama lainnya dan melakukan siraman untuk memperoleh doa restu. Malam sebelum pernikahan ada acara midodareni dimana calon pengantin pria berkunjung ke kediamana mempelai wanita tetapi tidak dipertemukan. Keesokannya melakukan sungkeman kepada orang tua. Kalau     idul fitri biasanya yang lebih muda sungkem atau meminta maaf dan meminta doa pada yang lebih tua.

Tanya   : Apa saja upacara khas Jawa Tengah yang dipakai ketika anda melangsungkan pernikahan?

Jawab       : Sama kayak yang tadi.

Tanya       : Mengapa anda memasukkan tema tersebut ketika melangsungkan pernikahan?

Jawab       : Karena saya percaya prosesi tersebut semata-semata bermaknaan doa untuk sang kedua mempelai.

Tanya       : Apa tanggapan anda mengenai pelestarian adat Jawa Tengah di tengah kehidupan kota Jakarta?

Jawab       : Bagus sih. Harusnya tradisi dari zaman dulu di pertahankan sampe sekarang walaupun sudah tidak berada di daerah setempat.

Tanya       : Mengapa anda berpendapat demikian?

Jawab       : Harus dilestarikan karena merupakan warisan leluhur dan memiliki banyak makna.

Tanya       : Apa yang anda ketahui mengenai tedak sinten?

Jawab       : Saya gatau tentang prosesi itu.

Tanya  : Menurut anda, Mengapa banyak orang Jawa Tengah yang hidup di Jakarta tidak mengetahui upacara adatnya sendiri?

Jawab   : Karena mungkin disebabkan pola asuh orang tuanya yang tidak mengajarkan adat tersebut.

Tanya       : Bagaimana cara anda melestarikan budaya Jawa Tengah di Jakarta?

Jawab       : Dengan menerapkan pada kehidupan pada kehidupa sehari-hari.

Tanya       : Apa saja pengaruh dari identitas Jawa Tengah pada diri anda dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat selama hidup di Jakarta?

Jawab       : Pengaruhnya baik untuk diri saya. Contohnya pada masyarakat Jawa Tengah diajarkan nilai moral seperti kesabaran, harus selalu melihat kebawah, kalau makan tidak boleh sisa.

Tanya       : Mengapa anda merasakan hal tersebut?

Jawab   : Karena adat Jawa Tengah bagus untuk membentuk perilaku yang baik dalam bersosialisasi ataupun lingkungan.

Tanya       : Bagaimana pola pengasuhan anda terhadap anak-anak anda mengenai kebudayaan Jawa Tengah?

Jawab       : Saya mendidik anak saya dengan mengajari dan memberi contoh perilaku-perilaku yang ditanamkan orang tua saya berdasarkan adat Jawa Tengah.

Tanya       : Mengapa pola asuh anda demikian?

Jawab       : Agar anak saya bisa lebih baik dari pada orang tuanya punya perilaku yang baik.

BAB III

ANALISIS

3.1 Analisis

Conformity adalah proses dimana seseorang mengubah perilakunya untuk menyesuaikan dengan aturan kelompok. Dapat juga diartikan sebagai perubahan pendapat atau perilaku seseorang sebagai hasil dari tekanan nyata atau imajinasi dari orang atau kelompok lain (Sternberg, 2001). Konformitas mengacu pada sikap mengalah seseorang pada tekanan sosial, baik nyata maupun yang dibayangkan (Dayakisni & Yuniardi, 2008; Matsumoto, 2008). Kiesler & Kiesler (Sarwono, 2005) mendefinisikan sebagai perubahan perilaku keyakinan karena adanya tekanan dari kelompok, baik yang sungguh-sungguh ada maupun yang dibayangkan saja.

Compliance adalah proses dimana seseorang mengikuti permintaan orang lain. Dapat juga diartikan sebagai menunjukkan perbuatan dan perilaku dari keyakinan yang diubah untuk mengikuti tujuan orang lain (Sternberg, 2001). Ketundukan atau compliance secara umum didefinisikan sebagai sikap mengalah orang pada tekanan sosial dalam kaitannya dengan perilaku sosial mereka, meski mungkin keyakinan pribadi mereka tidak berubah (Dayakisni & Yuniardi, 2008; Matsumoto, 2008). Compliance adalah konformitas yang dilakukan secara terbuka sehingga terlihat oleh umum, walaupun hatinya tidak setuju (Sarwono, 2005).

Obedience adalah proses dimana seseorang mengikuti perintah dari seseorang yang dirasa sebagai figur yang lebih berkuasa (Sternberg, 2001). Kepatuhan atau obedience merupakan salah satu bentuk ketundukan yang muncul ketika orang mengikuti suatu perintah langsung, biasanya dari seseorang dengan suatu posisi otoritas (Dayakisni & Yuniardi, 2008; Matsumoto, 2008).

Subjek pertama mengatakan bahwa alasannya masih tetap melaksanakan upacara-upacara adat Jawa Tengah di Jakarta adalah, “karena keluarga dari JATENG juga banyak yang bermukim di Jakarta dan karena itu merupakan tradisi keluarga.” Dimana hal ini menunjukkan adanya unsur conformity dan compliance yang mempengaruhi subjek melakukan hal tersebut. Seandainya keluarga dari JATENG yang bermukim di Jakarta sedikit, mungkin ceritanya akan lain. Subjek pertama dalam rangka melestarikan adat Jawa Tengah lebih terpusat kepada pencontohan yang merupakan bagian dari konformitas. Baik dalam kehidupan bersosialisasi maupun dalam hal pola asuh. Subjek pertama lebih moderat dan lebih menyesuaikan dengan kebudayaan di Jakarta sehingga mungkin pengaruh Jawa Tengahnya agak luntur. Meskipun begitu, pengetahuannya tentang upacara adat Jawa Tengah masih kental.

Sementara itu, subjek kedua dalam rangka melestarikan adat Jawa Tengah lebih terpusat kepada obedience (kepatuhan). Baik dalam kehidupan bersosialisasi maupun dalam hal pola asuh. Subjek kedua lebih konservatif dalam menanamkan nilai-nilai kebudayaan meskipun pengetahuannya tentang upacara adat Jawa Tengah tidak sebanyak subjek pertama. Pengaruh kebudayaan Jawa Tengah dalam membentuk kepribadian subjek masih kuat. subjek kedua menyatakan alasannya tetap melaksanakan upacara adat adalah karena tradisi turun-temurun, yang menunjukkan adanya pengaruh obedience dalam keputusannya melakukan upacara adat. Meskipun subjek hidup di lingkungan yang sedikit orang Jawa Tengahnya, kemungkinan besar subjek akan tetap mempertahankan tradisi upacara adat Jawa Tengahnya karena kepatuhannya terhadap leluhur (obedience).

Kesamaan dari subjek pertama dan subjek kedua adalah terletak kepada bentuk atribusi yang mempengaruhi kebiasaan, perilaku dan kepribadian mereka saat hidup di Jakarta. Keduanya menggunakan bentuk atribusi eksternal yaitu nilai adat kebudayaan Jawa Tengah. Atribusi eksternal adalah atribusi yang memandang penyebab perilaku berada di luar diri seseorang. Sedangkan atribusi internal adalah atribusi yang memandang bahwa penyebab perilaku ada dalam diri pelakunya; (Matsumoto, 2008). Sedangkan arti atribusi sendiri adalah penarikan kesimpulan atau inferensi yang diambil orang tentang apa yang menjadi penyebab suatu kejadian dan perilaku diri maupun orang lain (Dayakisni & Yuniardi, 2008; Matsumoto, 2008). Atribusi juga didefinisikan sebagai penjelasan mental yang menunjukkan penyebab perilaku seseorang, termasuk juga perilaku seseorang dalam membuat atribusi tersebut (Sternberg, 2001).

BAB IV

PENUTUP

4.1  Simpulan

Perilaku sosial manusia akan berbeda seiring budaya yang melatarbelakanginya. Budaya yang diperoleh manusia mempengaruhi pengalaman yang dicerminkan melalui perilaku mereka, cara berinteraksi dan bekerja dengan orang lain. Budaya suatu kelompok bahkan mengatur unsur-unsur dalam sistem sosial dan bagaimana cara individu berperilaku dalam lingkungan sosialnya.

DAFTAR PUSTAKA

Berry, J. W. et al. (1992). Cross-Cultural Psychology: Research and Application. Cambridge: Cambridge University Press.

Dayakisni, T., Yuniardi, S. (2008). Psikologi Lintas Budaya. Edisi Revisi. Malang: UMM Press.

Matsumoto, D. (2008). Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sarwono, S. W. (2005). Psikologi Sosial: Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka.

Sternberg, R. J. (2001). Psychology: In Search of the Human Mind. Orlando: Hartcourt     Publishers

http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Tengah#Suku

http://www.jatengprov.go.id/?mid=tentang

 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2011 in Psikologi Lintas Budaya

 

Report Tugas Softskill : Psikologi Lintas Budaya

Report Tugas Softskill : Psikologi Lintas Budaya

Nama   : Mutia Farida

NPM  : 15509805

Kelas : 3PA01

Tema : Jawa Tengah

Proses penyusunan data penelitian tentang Jawa Tengah tidak banyak hambatannya. Data-data tentang Jawa Tengah bisa diperoleh dengan mudah melalui internet dan dari subjek yang bersuku Jawa yang ada atau merantau di Jakarta. Mereka yang merantau atau tinggal di Jakarta karena bekerja atau pindah tugas dari kota asalnya, tapi walaupun sudah lama tinggal di Jakarta kebudayaan asli, tradisi Jawa Tengah masih digunakan, selain itu keseharian mereka juga masih menggunakan bahasa Jawa . Mereka umumnya merantau ke Jakarta dan berdomisili di Jakarta karena mereka bekerja di Jakarta. Proses yang belum selesai adalah analisis mengenai data yang diperoleh dari teori.

Harapan kelompok kami semoga penelitian ini bisa diselesaikan sebaik mungkin.

 
Leave a comment

Posted by on December 9, 2011 in Psikologi Lintas Budaya

 

Kebudayaan Indis

Materi Ke-1

Nama Kelompok :
1. Lailatul Faizah
2. Muthia Farida
3. Pangestika Rahadiyani
4. Putri Uswatul khasanah
5. Tuti Setiyawati
6. Yessica Hera Pratiwi
Mata Kuliah : Psikologi Lintas Budaya

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Budaya telah menjadi perluasan topik ilmu psikologi di mana mekanisme berpikir dan bertindak pada suatu masyarakat kemudian dipelajari dan diperbandingkan terhadap masyarakat lainnya. Psikologi lintas budaya adalah cabang dari psikologi yang (terutama) menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda.

1.2 Tujuan Pembuatan Makalah
1. Memenuhi tugas Psikologi Lintas Budaya
2. Mengetahui persamaan dan perbedaan antara kebudayaan indis dan kebudayaan lain

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Pustaka
a) Pengertian Psikologi Lintas Budaya
Budaya dalam kehidupan manusia adalah hal yang dekat dan melekat padanya. Budaya merupakan hasil karya manusia, lahir untuk manusia dalam mengatur dan mendukung kehidupannya. Tujuan menjadikan kehidupan ini menjadi lebih baik adalah keadaan akhir yang diinginkan tersebut. Kelly mendefinisikan budaya sebagai bagian yang terlibat dalam proses harapan-harapan yang dipelajari/dialami. Orang-orang yang memiliki kelompok budaya yang sama akan mengembangkan cara-cara tertentu dalam mengonstruk peristiwa-peristiwa, dan mereka pun mengembangkan jenis-jenis harapan yang sama mengenai jenis-jenis perilaku tertentu.
Budaya telah menjadi perluasan topik ilmu psikologi di mana mekanisme berpikir dan bertindak pada suatu masyarakat kemudian dipelajari dan diperbandingkan terhadap masyarakat lainnya. Psikologi lintas budaya adalah cabang dari psikologi yang (terutama) menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda.
b) Tujuan Mempelajari Psikologi Lintas Budaya
Tujuan dari kajian psikologi Lintas Budaya adalah mencari persamaan dan
perbedaan dalam fungsi-fungsi individu secara psikologis, dalaam berbagai budaya dan kelompok etnik.
c) Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan Ilmu lain
Psikologi lintas budaya sama seperti dengan Psikologi budaya mencoba mempelajari bagaimana faktor budaya dan etnis mempengaruhi perilaku manusia. Namun psikologi lintas budaya tidak hanya mempelajari faktor budaya dengan prilaku tetapi faktor antar budaya atau perbedaan budaya yang mempengaruhi prilaku manusia.
Psikologi Sosial mempelajari tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan masyarakat sekitarnya. Psikologi lintas budaya juga sama mempelajari individu dengan masyarakat selain itu juga mempelajari individu dengan atar masyarakat yang berbeda.
d) Etnosentrisme dalam Psikologi Lintas Budaya
Etnosentrisme secara formal didefinisikan sebagai pandangan bahwa kelompok atau budaya sendiri adalah pusat segalanya dan budaya lain akan selalu dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar budaya sendiri. Etnosentrisme membuat kebudayaan diri sebagai patokan dalam mengukur baik buruknya, atau tinggi rendahnya dan benar atau ganjilnya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan kebudayaan sendiri, adanya.
e) Persamaan dan perbedaan antara budaya dalam hal transmisi budaya melalui enculturasi dan Sosialisasi.
Berbagai peranan harus dipelajari oleh anak (individu anggota masyarakat) melalui proses sosialisasi; adapun mengenai kebudayaan perlu dipelajarinya melalui enkulturasi. Jika anak tidak mengalami sosialisasi dan/atau enkulturasi, maka ia tidak akan dapat berinteraksi sosial, ia tidak akan dapat melakukan tindakan sosial sesuai status dan peranannya serta kebudayaan masyarakatnya.
f) Persamaan dan perbedaan antar budaya Melalui Perkembangan Moral
Perkembangan sosial merupakan proses perkembangan kepribadian siswa selaku seorang anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain. Perkembangan ini berlangsung sejak masa bayi hingga akhir hayat. Perkembangan merupakan suatu proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pembentukan pribadi dalam keluarga, bangsa dan budaya. Perkembangan sosial hampir dapat dipastikan merupakan perkembangan moral, sebab perilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam bertingkah laku sosial. Seorang siswa hanya akan berperilaku sosial tertentu secara memadahi apabila menguasai pemikiran norma perilaku moral yang diperlukan untuk menguasai pemikiran norma perilaku moral yang diperlukan.
Proses perkembangan sosial dan moral selalu berkaitan dengan proses belajar. Konsekuensinya, kualitas hasil perkembangan sosial sangat bergantung pada kualitas proses belajar (khususnya belajar sosial), baik dilingkungan sekolah, keluarga, maupun di lingkungan masyarakat. Hal ini bermakna bahwa proses belajar sangat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moral, agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral yang berlaku dalam masyarakat.

g) Persamaan dan perbedaan antar budaya Melalui Perkembangan Remaja
Saat ini pengaruh budaya barat tidak hanya sebatas cara berpakaian, pergaulan, tapi juga di bidang pendidikan dan gaya hidup. Subjek yang paling terpengaruh adalah remaja. Bahkan bagi sebagian remaja, gaya hidup barat merupakan suatu kewajiban dalam pergaulan. Tanpa disadari, para remaja telah memadukan kebudayaan dengan pergaulan dalam aspek kehidupan mereka. Pada dasarnya remaja memiliki semangat yang tinggi dalam aktivitas yang digemari. Mereka memiliki energi yang besar, yang dicurahkannya pada bidang tertentu, ide-ide kreatif terus bermunculan dari pikiran mereka. Selain itu, remaja juga memiliki rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Untuk menuntaskan rasa ingin tahunya, mereka cenderung menggunakan metode coba-coba.
h) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal konfromitas, kompliance, dan obedience
Conformity adalah proses dimana seseorang mengubah perilakunya untuk menyesuaikan dengan aturan kelompok. Compliance adalah konformitas yang dilakukan secara terbuka sehingga terlihat oleh umum, walaupun hatinya tidak setuju. Kepatuhan atau obedience merupakan salah satu bentuk ketundukan yang muncul ketika orang mengikuti suatu perintah langsung, biasanya dari seseorang dengan suatu posisi otoritas.
Untuk membandingkan bagaimana conformity, compliance, dan obedience secara lintas budaya, maka telaah itu harus memusatkan perhatian pada nilai konformitas dan kepatuhan itu sebagai konstruk sosial yang berakar pada budaya. Dalam budaya kolektif, konformitas dan kepatuhan tidak hanya dipandang “baik” tetapi sangat diperlukan untuk dapat berfungsi secara baik dalam kelompoknya, dan untuk dapat berhasil menjalin hubungan interpersonal bahkan untuk dapat menikmati status yang lebih tinggi dan mendapat penilaian atau kesan positif.
i) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal nilai-nilai
Telaah lintas budaya mengenai nilai-nilai baik kemasyarakatan maupun perseorangan tergolong baru nilai merupakan gambaran yang dipegang oleh perseorangan atau secara kolektif oleh anggota kelompok, yang mana dapat diinginkan dan mempengaruhi baik pemaknaan dan tujuan tindakan diantara pilihan-pilihan yang ada.
Dalam Psikologi Lintas Budaya nilai dimasukkan sebagai salah satu aspek dari budaya atau masyarakat. Nilai muncul menjadi ciri khas yang cenderung menetap pada seseorang dan masyarakat dan karenanya penerimaan nilai berpengaruh pada sifat kerpibadian dan karakter budaya.
j) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal Prilaku Gender
Gender merupakan kajian tentang tingkah laku dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender berbeda dari seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis. Perbedaan pola sosialisasi ini juga berkaitan dengan beberapa faktor budaya dan faktor ekologi.
Gender merupakan hasil konstruksi yang berkembang selama masa anak-anak sebagaimana mereka disosialisasikan dalam lingkungan mereka. Adanya perbedaan reproduksi dan biologis mengarahkan pada pembagian kerja yang berbeda antara pria dan wanita dalam keluarga. Perbedaan-perbedaan ini pada gilirannya mengakibatkan perbedaan ciri-ciri sifat dan karakteristik psikologis yang berbeda antara pria dan wanita. Faktor-faktor yang terlibat dalam memahami budaya dan gender tidak statis dan unidimensional. Keseluruhan sistem itu dinamis dan saling berhubungan dan menjadi umpan balik atau memperkuat sistem itu sendiri. Sebagai akibatnya sistem ini bukan suatu unit yang linear dengan pengaruh yang berlangsung dalam satu arah, dan semua ini diperoleh dalam kehidupan kita sendiri.
Sebagai konsekuensinya, budaya yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda pula. Satu budaya mungkin mendukung kesamaan antara pria dan wanita, namun budaya lainnya tidak mendukung kesamaan tersebut. Dengan demikian budaya mendefinisikan atau memberikan batasan mengenai peran, kewajiban, dan tanggung jawab yang cocok bagi pria dan wanita.
k) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal Sosial Bermasyarakat
Masyarakat didefinisikan oleh Ralph Linton sebagai “setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas”. Sejalan dengan definsi dari Ralph Linton, Selo Sumardjan mendefinisikan masyarakat sebagai “orangorang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan” (Soerjono Soekanto, 1986). Mengacu kepada dua definisi tentang masyarakat seperti dikemukakan di atas, dapat di identifikasi empat unsur yang mesti terdapat di dalam masyarakat, yaitu:
1.Manusia (individu-individu) yang hidup bersama.
2.Mereka melakukan interaksi sosial dalam waktu yang cukup lama.
3.Mereka mempunyai kesadaran sebagai satu kesatuan.
4.Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.
l) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal Sosial Cognitif
Kognitif diartikan sebagai kegiatan untuk memperoleh, mengorganisasikan dan menggunakan pengetahuan. Dalam psikologi, kognitif adalah referensi dari faktor-faktor yang mendasari sebuah prilaku. Kognitif juga merupakan salah satu hal yang berusaha menjelaskan keunikan manusia. Pola pikir dan perilaku manusia bertindak sebagi aspek fundamental dari setiap individu yang tak lepas dari konsep kemanusiaan yang lebih besar, yaitu budaya sebagai konstruksi sosial. Sedangkan kebudayaan (culture) dalam arti luas merupakan kreativitas manusia (cipta, rasa dan karsa) dalam rangka mempertahankan kelangsunganhidupnya. Manusia akan selalu melakukan kreativitas (dalam arti luas) untuk memenuhi kebutuhannya (biologis, sosiolois, psikologis) yang diseimbangkan dengan tantangan, ancaman, gangguan, hambatan (AGHT) dari lingkungan alam dan sosialnya.

m) Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal Individual dan Kolektivitas
1) Individual
Diri individual adalah diri yang fokus pada atribut internal yang sifatnya personal; kemampuan individual, inteligensi, sifat kepribadian dan pilihan-pilihan individual. Diri adalah terpisah dari orang lain dan lingkungan. Budaya dengan diri individual mendesain dan mengadakan seleksi sepanjang sejarahnya untuk mendorong kemandirian sertiap anggotanya. Mereka didorong untuk membangun konsep akan diri yang terpisah dari orang lain, termasuk dalam kerangka tujuan keberhasilan yang cenderung lebih mengarah pada tujuan diri individu. Dalam kerangka budaya ini, nilai akan kesuksesan dan perasaan akan harga diri megambil bentuk khas individualisme. Keberhasilan individu adalah berkat kerja keras dari individu tersebut.
2) Kolektif
Dalam konstruk diri kolektif ini, nilai keberhasilan dan harga diri adalah apabila individu tersebut mampu memenuhi kebutuhan komunitas dan menjadi bagian penting dalam hubungan dengan komunitas. Individu focus pada status keterikatan mereka (interdependent), dan penghargaan serta tanggung jawab sosialnya. Aspek terpenting dalam pengalaman kesadaran adalah saling terhubung antar personal. Dalam budaya diri kolektif ini, informasi mengenai diri yang terpenring adalah aspek-aspek diri dalam hubungan.

2.2 Kebudayaan Indis
2.2.1 Awal Kehadiran Orang Belanda

A. ETNOSENTRISME
“Pandangan bahwa kelompok atau budaya sendiri adalah pusat segalanya dan budaya lain Akan selalu dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar budaya sendiri”
Semua artefak kebudayaan berupa monografi, kesusasteraan, kisahperjalanan, lukisan, foto,sketsa,artefakan seni bangunan indis menunjukkan kemampuan segolongan masyarakat Indonesia dalam mengambi unsur – unsur budaya asing tanpa meninggalkan budaya tradisionalnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat suku jawa memiliki sikap open minded tolerance atau savoir vivre (lapang dada) dalam menanggapi kebudayaan asing yang hadir sepanjang sejarah Indonesia.

B. TRANSMISI BUDAYA DAN BIOLOGIS
Suburnya budaya indis pada awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang parapejabat Belanda.Saatitu, ada larangan membawa istri dan mendatangkan perempuan Belanda ke Hindia Belanda.Hal tersebut mendorong lelaki Belanda menikahi penduduk setempat.Maka, terjadilah percampuran darah yang melahirkan anak – anak campuran, serta menumbuhkan budaya dan gaya hidup Belanda – Pribumi, atau gaya indis. Pada tahun 1870, Terusansuez dibuka, terusan tersebut memperpendek jarak antara negeri Belanda dengan Indonesia, sehingga kehadiran perempuan dari negeri Belanda makin banyak ke Indonesia. Kehadiran perempuan Eropa ke Indonesia pun memperluas percampuran budaya.

C. ENKULTURASI
“Suatu proses dimana individu belajar cara berpikir ,cara bertindak , dan merasa yang mencerminkan kebudayaan masyarakatnya”
Orang belanda memiliki kemampuan sebagai bangsa penguasa, ternyata bangunan rumah belanda terpengaruh juga oleh seni bangunan setempat yang disebut “Indo-Europeeschebouwkunst”. Ia menunjukkan sushistoris – arsitektural romaw ikuno yang tumbuh dan berkembang akibat bentuk seni budaya yunani. Hal semacam ini berlanjut dan terjadi pula di Hindia Belanda.Kedua pihak saling mengambil dan mengisi ;diawali dari kelompok pertama, yaitu bangsa belanda membawa pola peradaban belanda ke daerah koloninya di jawa.Dari parabirokrat pemerintah colonial, berkembanglah kebudayaan indis yang merupakan kebudayaan hasil jalinan erat antara dua budaya, yaitu budaya jawa dan belanda.Jalinan yang erat semacam ini digambarkan seolah – olah terdapat osmose dan pertukaran mental di antara orang jawa dan belanda, yaitu manusia jawa memasuki lingkungan budaya eropa dan sebaliknya.

D. KONFORMITAS
“Proses dimana seseorang mengubah perilakunya untuk menyesuaikan dengan aturan kelompok”

E. KEPATUHAN
“Salah satu bentu ketundukkan yang muncul ketika orang mengikuti suatu perintah langusng, biasanya dari seseorang dengan suatu posisi otoritas”
Politik liberal yang diberlakukan oleh pemerintah colonial pada 1870, ditambah dengan berkembangnya banyak perusahaan swasta di bidang perkebunan ,pelayaran , perbankan , dan perkeretaapian, memerlukan banyak tenagaterampil. Tenaga buruh kasar untuk mengerjakan irigasi, pembuatan jalan dan sebagainya diambil dari desa – desa di Jawa.
Pemerintah colonial mengharuskan pengusaha untuk bergaya hidup serta membangun gedung dan tempat tinggalnya dengan menggunakanciri – ciridan lambing yang berbeda dari rakyat yang dijajahnya.Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk menunjukkan kekuasaan dan kebesarannya.

F. Nilai
“gambaran yang dipegang oleh perseorangan atau secara kolektif oleh anggota kelompok yang mana dapat diinginkan dan mempengaruhi baik pemaknaan dan tujuan tindakan diantara pilihan – pilihan yang ada”
Orang eropa mengenal peletakkan batu pertama dan pemancanganb endera di atas kemuncak bangunan rumahnya yang sedang dibangun dengan diikuti pesta minum nir, tetapi hal semacam ini adalah peninggalan lama mereka.Kegiatan itu adalah “gema” saja dari adat lama yang sudah kabur pengertiannya. Bagi orang jawa, menaikkan mala (tiang) sebuah rumah tinggal dengan slametan, melekan (wungon, bedagang), meletakkan secarik kain tolak bala, sajen dan memilih haribaik, memiliki arti simbolik tertentu. Bagi orang jawa, meninggalkan adat kebiasaan seperti itu sangat bera karenaa danya paham kepercayaan terhadap kekuatan supranatural yang sulit dijelaskan.

G. EPISTEMOLOGI GENETIK
Dalam hal membangun rumah tempat tinggal dengan susunan tata ruangnya. Arti simbolik suatu bagian ruang rumah tinggal berhubungan erat dengan perilaku penghuninya.Pada suku jawa, misalnya, tidak dikenal ruang khusus bagi keluarga dengan pembedaan umur, jeniskelamin, generasi, family bahkan di antara anggota dan bukan anggota penghuni rumah.Maka, fungsi ruang tidak dipisahkan atau dibedakan dengan jelas.
Contoh lain yang sangat menarik adalah keselarasan system simbolik, khususnya gaya hidup. Betapa canggungnya orang pribumi jawa yang hidup secara tradisional di kampong, kemudian pindah untuk bertempat tinggal di dalam rumah gedung di dalam blok atau kompleks dengan suasana rumah bergaya barat modern. Kelengkapan rumah tangga yang serba asing, pembagian ruang – ruang di dalam rumah dengan fungsi yang khusus, fungsi ruang secara terpisah untuk terjamin privilege atau privacy penghuninya, semua itu menambah kecanggungan orang pribumi untuk tinggal di dalam rumah yang asingitu.
H. GAYA KOGNITIF
Anggapan bahwa rumah adalah model alam mikrokosmos menurut konsep pikiran jawa dans ebagainya, tidak ada pada alam pikiran eropa.

2.2.2. Kebudayaan Indis
A. Akulturasi
Sejak awal kedatangan bangsa Belanda telah terjadi kontak budaya yang kemudian menghasilkan perpaduan budaya. Kebudayaan campuran yang didukung oleh segolongan masyarakat Hindia Belanda itu disebut “Kebudayaan Indis”. Percampuran budaya tersebut meliputi berbagai unsure kebudayaan.
Dalam proses akulturasi dua kebudayaan tersebut, peran penguasa colonial di Hindia Belanda sangat menentukan. Sementara itu, bangsa Indonesia menerima nasib sebagai bangsa terjajah serta menyesuaikan diri sebagai aparat penguasa jajahan atau colonial. Hasil perpaduan menunjukan bahwa cirri-ciri Barat (Eropa) tampak lebih menonjol dan dominan.
Akulturasi yang diciptakan antara bangsa belanda dan masyarakat pribumi menghasilkan banyak kebudayaan baru yang masih awet sampai sekarang. Contohnya saja hasil karya budayanya, arsitektur rumah, peralatan rumah tangga, gaya hidup, serta tata kota merupakan hasil kebudayaan campur antara bangsa Belanda dan masyarakat pribumi yang masih bisa kita nikmati sampai sekarang. Bangunan-bangunan lama bergaya belanda-betawi itu, salah satu saksi mati adanya percampuran 2 kebudayaan tersebut.
B. Kognisi Sosial dan Nilai-nilai (nilai keindahan)
Kognitif diartikan sebagai kegiatan untuk memperoleh, mengorganisasikan dan menggunakan pengetahuan. Sedangkan kebudayaan (culture) dalam arti luas merupakan kreativitas manusia (cipta, karsa, dan rasa) dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya. Manusia akan selalu melakukan kreativitasnya (dalam arti luas) untuk memenuhi kebutuhannya yang diseinvangkan dengan tantangan, ancaman, gangguan, dan hambatan dari lingkungan alam dan sosialnya.
Dalam hal ini, wujud dan isi kebudayaan yang terjadi dalam proses akulturasi ada tiga macam, yaitu: system kultur yang berupa gagasan, ide, pikiran dan konsep. System kemasyarakatan yang berwujud kelakuan. Serta artifacts, yaitu benda-benda hasil karya manusia.
Hasil karya manusia pribumi itu sendiri berupa benda antara lain berupa ukiran-ukiran kayu untuk perabotan rumah tangga, arsitektur rumah, bangunan candi, yang kemudian dipadukan dengan pengetahuan dari bangsa eropa yang kemudian menghasilkan alat kelengkapan hidup seperti pakaian, dan alat – alat produksi yang bergaya indis. Dengan perpaduan tersebut terciptalah hasil karya gabungan yang memiliki nilai artistic yang tinggi.
Isi kebudayaan menurut para antropolog, ada tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal. “IsI” kebudayaan Belanda yang datang memperkaya kebudayaan Indonesia dalam konteks tujuh unsur budaya universal itu ialah:
1. Bahasa (lisan maupun tertulis)
2. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia ( pakaian, rumah, senjata, alat transpotrasi, alat produksi, dll
3. Mata pencaharian dan system ekonomi (pertanian dan perternakan, system produksi, dll)
4. Sistem kemasyarakatan (organisasi politik, system kekerabatan, system hokum, system perkawinan, dll)
5. Kesenian (seni rupa, seni sastra, seni gerak, dll)
6. Ilmu pengetahuan
7. Religi
C. Sosialisasi Bahasa dan Keturunan (Biologis)
Sejak awal abad ke 18 sampai awal abad ke 20, bahasa melayu pasar mulai berbaur dengan bahasa Belanda. Pembauran ini berawal dari bahasa komunikasi yang digunakan oleh keluarga dalam lingkungan. “indische Landshuizen”, yang selanjutnya digunakan oleh golongan Indo-Belanda. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, proses perpaduan bahasa Belanda dan Jawa terjadi hanya pada sebagian masyarakat pendukung kebudayaan indis. Proses ini menimbulkan bahasa pijin atau bahasa campuran yang pada umumnya digunakan oleh orang-orang keturunan Belanda dengan ibu Jawa, oleh Cina keturunan, dan Timur asing. Bahasa hasil campuran orang-orang Belanda dengan orang Jawa ini lazim disebut bahasa Peotjoek
Kehadiran bangsa Belanda di Indonesia yang dilanjutkan dengan pencampuran darah dan budaya, memunculkan sekelompok masyarakat yang berdarah campuran. Mereka juga menggunakan bahasa poetjoek, yaitu bahasa yang digunakan oleh golongan orang-orang papa atau miskin dan orang-orang Belanda yang tidak diakui. Bahasa poetjoek juga digunakan oleh anak-anak Indo dan anak-anak dari golongan masyarakat terpandang, tapi tidak boleh digunakan dirumah karena mereka harus menggunakan bahasa Belanda sopan.
Anak-anak yang beribu Jawa dan berayah Belanda, biasanya lebih banyak menerima pengaruh budaya dari pihak Ibu. Hal itu disebabkan karena mereka besar dalam lingkungan orang Jawa, dan sehari-hari mereka mendengar bahasa Jawa serta menyaksikan tingkah laku orang Jawa. Mereka juga mendengar bahasa belanda dari ayahnya, namun mereka melafalkannya dengan menggunakan logat Jawa.
D. Konformitas Dalam Menggunakan Karya Untuk Kelengkapan Hidup dan Perkembangan Moral
a. Rumah Tempat Tinggal
Bentuk bangunan tempat tinggal dengan ukuran yang besar dan luas, memiliki hiasan mewah, penataan halaman yang rapi, dan perabotan lengkap merupakan tolak ukur derajat kekayaan pemiliknya dan status sosial dalam masyarakat. Gaya hidup yang serba cukup mewah dapat menjadi lambang prestise dan status sosial yang tinggi.

b. Kelengkapan dan Peralatan Rumah Tangga
Kelengkapan rumahtangga, seperti meja, kursi, dan almari merupakan barang baru yang dikenal oleh suku Jawa setelah orang Eropa datang ke Nusantara. Setelah itu baru kemudian golongan bangsawam dan priyayi mulai menggunakan peralatan rumah tangga yang disebut meubelair.
Perabotan rumah tangga atau meubelair yang dibuat di Hindia Belanda berbahan dasar kayu jati berkualitas baik dengan ukiran motif bergaya Jawa atau bercampur dengan motif bergaya Eropa.

E. Konformitas, Compliance, Obedience Dalam Mata Pencaharian
Abad ke 18 dan 19 merupakan zaman keemasan bagi penjajahan dunia, demikian pula dengan VOC. VOC mencapai puncak kejayaannya setelah pemerintahan Belanda memperkokoh kekuasaannya di Nusantara. Sebelum pertengahan abad ke -19, politik colonial belanda berbeda dengan abad-abad sebelumnya yang lebih mengutamakan perdagangan,. Pada abad ke -19 ini, Belanda lebih mengutamakan penaklukan ilayah dari tangan bangsa pribumi serta merebut peragangan rempah-rempah dari sainganya.
Berbagai usaha perluasan penjajahan ini melibatkan banyak tenaga pribumi sehingga muncullah mata pencaharian baru bagi banyak orang jawa. Pekerjaan yang menggunakan tenaga Indo-Eropa atau pribumi antara lain sebgai prajurit sewaan,pejabat administrasi pemerintahan, dan tenaga kasar.
Dari ulasan diatas, para pribumi melakukan pekerjaan dari mata pencahariannya itu tidak semata-mata denggan sukarela, tapi disana terdapat proses dan prilaku konformitas, konkompliance, dan obdiaence yaitu tujuannya agar tidak hanya dipandang “baik”, tapi sangat diperlukan untuk dapat berfungsi secara baik dalam kelompoknya, dan untuk dapat berhasil menjalin hubungan interpersonal bahkan untuk menikmati status yang lebih tinggi dan mendapat penilaian atau kesan positif, dan yang terpenting, mereka dapat menghidupi keluarganya karena menjadikan sesuatu yang dipatuhi, dan diikutinya itu sebagai mata pencahariannya dan penunjang kehidupannya.

F. PENGERTIAN DAN TUJUAN PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA
Manusia diciptakan tidak bersifat universal melainkan bersifat local, hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dan memiliki budaya sendiri.
Konsep Indis disini hanya terbatas pada ruang lingkup di daerah kebudayaan Jawa, yaitu tempat khusus bertemunya kebudayaan Eropa (Belanda ) dengan Jawa.
G. HUBUNGAN PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA DENGAN ILMU LAIN
Psikologi lintas budaya sama seperti dengan Psikologi budaya mencoba mempelajari bagaimana factor budaya dan etnis mempengaruhi perilaku manusia.
Gaya hidup golongan masyarakat pendukung kebudayaan Indis menunjukkan perbedaan mencolok dengan kelompok-kelompok social lainnya., terutama dengan kelompok masyarakat tradisional Jawa. Tujuh unsure universal kebudayaan Indis, seperti halnya tujuh unsure universal yang dimiliki semua bangsa, mendapatkan bentuk dari akar budaya Belanda, ataupun budaya Pribumi Jawa. Kehidupan social dan ekonomi yang rata-rata lebih baik dibandingkan dengan kehidupan social masyarakat Pribumi pada umumnya, memungkinkan mereka memiliki rumah tinggal berukuran besar, yang bagus di dalam kompleks yang wilayahnya khusus pula.
H. Etnosentrisme dalam Psikologi Lintas Budaya
Kedudukan sebagai kelompok penguasa membuat masyarakat Indis berupaya menjaga prestise dan kedudukannya melalui berbagai cara agar dpat dibedakan dengan kelompok masyarakat lainnya. Kewibawaan, kekayaan dan kebesarannya ditampilkan agartampak lebih mewah dan agung dibandingkan kelompok-kelompok masyarakat lain. Hal demikian dimaksudkan untuk menjaga kelangsungan kekuasaa mereka di nusantara.
Kehidupan masyarakat Hindia Belanda umumya terpisah dalam kelompok-kelompok dengan batas-batas yang diatur dengan ketat. Batas-batas tersebut antaralain batas warna kulit, kelas social serta asal keturunan. Namun, ada pengecualian dalam lapangan ekonomi, ada kelas majikan yang berkulit putih dan pekerja atau budak yang berkulit berwarna. Selain itu dalam lapangan kerja seks, lazim para pejabat pemerintahan atau administrator perkebunan memiliki dan memelihara nyai ata gundik yang dapat diambil dari anak atau isteri kuli pekerja perkebunan atau dari kampong orang Pribumi.
I . Transmisi Budaya melalui enkulturasi dan sosialisasi
Enkulturasi adalah suatu proses dimana individu belajar cara berpikir, bertindak, dan merasa yang mencerminkan kebudayaan masyarakatnya. Sosialisasi menunjukkan proses pengintegrasian individu ke dalam sebuah kelompok social.
Kehadiran balatentara Jepang dalam Pernag Dunia II tahun 1942 menumbangkan lambing-lambang kebesaran budaya Indis dan mengubur kebudayaan dan gaya hidup boros serta mewah itu. Meskipun demikian, kebudayaan Indis tidak seluruhya lenyap. Dari pohon budaya Indis yang besar dan menjangkau peradaban yang luas di Indonesia itu, masih ada tunas-tunas yang hidup dan tetap berlanjut dan berkembang pada pada masa Republik Indonesia setelah runtuhnya pendudukan Jepang. Bahkan, di antara usur-unsur universal budaya Indis yang tetap menjadi unsure dominan sebagai kebudayaan nasional Indonesia, misalnya system pendidikan, system pemerintahan, perundang-undangan, dan sebagainya.Bahkan karya seni sesudah Indonesia merdeka, khususnya seni music dan seni drama tetap berlanjut. Penggunaan panggung proscenium, peralatan dan berbagai kelengkapan paggung yang modern seperti spotlight, pengeras suara, dekor dan sebagainya, melanjutkan kebiasaan masa Indis.
J. Perbedaan dan Persamaan antar budaya dalam hal-hal nilai
Satu kebiasaan yang umum dilakukan bangsa Pribumi Jawa pada pagi hari adalah pergi ke kali. Hal demikian sangat biasa termasuk untuk para perempuannya. Kebiasaan seperti iini yangmembuat jamban terletak di luar rumah. Sedangkan keluarga keturunan Belanda membuat tempat untuk mandi di tepi sungai.
Orang yang lahir di Belanda sebenarnya membenci kebiasaan mandi setiap hari. Hal demikian itu juga berlaku bagi bangsa Portugis, termasuk juga perempuannya, khususnya para nona.
K. Kontekstualisasi Kognitif
Pada upacara kematian untuk pejabat VOC atau pemerintah Hindia Belanda terdapat tokoh-tokoh yang dapat ikut “menangisi” jenazah,. Mereka menangis hingga iring-iringan pengantar jenazah sudah tidak tampa, jauh dari rumah duka. Acara meratap dan menangis tidak dikenal di Belanda. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh adat kebiasaan masyarakat Cina di Batavia sebagai tanda rasa berduka cita. Menangisi jenazah juga tidak tidak dikenal dalam ajaran Nasrani.
L.PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTAR BUDAYA DALAM HAL NILAI-NILAI
dalam disertasi F.A Soetjipto tentang kota-kota pantai disekitar selat madura terdapat informasi tentang sumber-sumber berita tertulis Pribumi antara lain berupa babat, kidung maupu serat, baik yang masih berupa manuskrip maupun yang sudah dengan jumlah cukup banyak. Karya-karya tulis ini banyak ditulis di daerah pantai (pesisir) dan pedalaman pulau Jawa.
Manuskrip tersebut antara lain Babad Negeri Semarang, Babad Tuban, Babad Gresik, Babad Blambangan, Babad Kitho Pasoeroean, Babad Lumajang dan Babad Banten. Yang berupa cerita perjalanan anatar lain adalah perjalanan R.M Poerwolelono. Kitab-kitab tersebut memberitakan dan menerangkan keadaan berbagai aspek kehidupan suku Jawa, dan secara tidak langsung juga memberitakan tentang kota, rumah, adat, sejarah, dan sebagainya.
M. AKAR SEJARAH ALAM BENTUK PERSEPSI
Menggunakan sumber-sumber berupa babad, serat atau cerita perjalanan memerlukan ketelitian dan sikap kritis dalam memahaminya karena kitab-kitab tersebut memang tidak dimaksudkan sebagai karya sejarah, tetapi lebih bersifat karya sastra. Zoetmulder mengingatkan bahwa sikap subjektif dan fantasi si penulis mungkin sangat menonjol sehingga diperlukan sikap hati-hati dan kritis para pembaca.
N. PERSEPSI POLA DAN GAMBAR
Untuk meneliti kebenaran karya tuliis atau relief sebagai sumber berita sejarah, diperlukan kecermatan dan sikap hati-hati. Bagaimanapun juga, silang pendapat antara N.J>krom dan F.D.K. Bosch dalam menggunakan relief candi di Jawa sebagai sumber sejarah kehidupan sehari-hari masyarakatJawa perlu diperhatikan(sebagai contoh). Kedua pengamat dan peneliti sejarah kesenian Indonesia kuno tersebut mempermasalahkan nilai relief Candi Borobudur sebagai sumber sejarah. N.J.Krom menilai pentingnya relief candi sebagai sumber sejarah kehidupan masyarakat Jawa, sementara F.D.K. Bosch meragulkan kebenaran bentuk bangunan rumah pada relief bangunan tersebut benar-benar terdapat Jawa. T. Galestien sependapat dengan N.J.Korm dalam tulisannya berjudul Houtbouwop Oost Javansche Reliefs. Penulis sependapat bahwa relief candi merupakan hal yang berharga bagi penelusuran sejarah masyarakat Jawa. Pada kaki asli Candi Borobudur dengan relief Karmawibangga, terdapat tulisan-tulisan berhuruf dan bahasa Jawa kuno yang sangat berharga untuk sumber sejarah kehidupan masyarakat Jawa. Bukti ini menjadi petunjuk bahwa si pelaksana pembangunan Candi Borobudur adalah orang yang berbahasa dan menulis dengan dengan huruf atau orang Jawa.

O. TRANSMISI BUDAYA
Sejak 1960-an demi kepentingan ekonomi dan perdagangan, banyak bangunan rumah gaya Indis yang dirombak atau digusur. Penggusuran semacam itu antara lain diawali di Jakarta untuk kepentingan Asian Games, kemudian disusul proinsi-provinsi lain. Bangunan-bangunan Indis yang megah tersebut banyak yang dirombak dan digusur untuk dijadikan bangunan bank, toko swalayan dan sebagainya. Bahkan perombakan dan penggusuran dapat terjadi karena suatu bangunan dianggap tidak sesuai lagi dengan gaya zaman atau selera rasa keindahan bangsa Indonesia sekarang.
P. INTELIGENSI UMUM
Sayang sekali peninggalan seni lukis pada benda-benda keramik (misalnya lukisan pada jambangan dan piring) di Indonesia tidak dikenal. Bahkan sampai sekarang tidak ada tradisi melukiskan bangunan atau rumah pada karya keramik seniman dan pengrajin Indonesia, apalagi disertakan tulisan. Untunglah ingatan generasi tua bangsa Indonesia masih segar dan peninggalan bangunan rumah gaya Indis masih banyak tersebar di setiap kota di Pulau Jawa, walaupun pada akhir abad ke-20 nasibnya makin merana. Nama penghuni dan kegunaan masing-masing bangunan masih dapat dirunut kembalidari cerita para orang tua yang kini masih hidup atau dari berbagai karya sastera, namun jumlah generasi tua makin sedikit dan mereka semakin pikun.
KONTEKS SOSIAL
Pakaian para pekerja, apabila dibandingkan dengan pakaian tuan-tuan bangsa Eropa, tampak jelas berbeda. Bahkan pakaian antara orang-orang Eropa sendiri, sesuai dengan kedudukan kepangkatannya, tampak berbeda.
C. Pola Pemukiman Masyarakat Indis di Kota, Provinsi dan Kabupaten di Jawa
Pengertian kota dan macam-macam jenis kota yang menarik ialah karya tulis Peter J.M Nas yang membahas tentang kota yang dibedakannya menjadi empat macam, yaitu :
1. Kota awal Indonesia
Kota awal Indonesia memiliki struktur yang jelas mencerminkan tatatanam kosmologis dengan pola-pola sosial budaya yang dibedakan dalam dua tipe, yaitu :
a. Kota-kota pedalaman dengan ciri-ciri tradisional dan religius.
b. Kota-kota pantai yang berdasarkan pada kegiatan perdangangan, misalnya kota Indis Semarang.
2. Kota Indis
3. Kota Kolonial
4. Kota Modern.

• Etnosentrisme dalam psikologi
Etnosentrisme secara formal didefinisikan sebagai pandangan bahwa kelompok atau budaya sendiri adalah pusat segalanya dan budaya lain akan selalu dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar budaya sendiri. Sejak awal pembentukannya sebagai kota, Batavia dijadikan pusat penguasa kolonial di Indonesia. Konfigurasi penduduk beserta wilayah pemukimannya sudah berkiblat pada bentuk kemajemukan. Pandangan bahwa kelompok atau budaya sendiri adalah pusat segalanya bisa dilihat dari pembaruan administrasi pemerintahan di Residensi Batavia telah melepaskan konsepsi pengelompokan etnis. Dasar pembagian ras dalam soal kependudukan dan susunan wilayah pemukiman tetap dipertahankan, bagaimanapun juga pengelompkan etnis dan pemisahan pemukiman berdasrkan ras dalam suatu kebijakan kolonial tidak sepnuhnya mampu membuat dikotomi mutlak.
• Awal perkembangan dan pengasuhan
Keterbukaan sebuah kota pusat pemerintahan dan perdagangan mengahruskan adanya perkembangan komunikasi dan teknologi pada abad ke-20 namun sampai abad ke-18 kota-kota di Jawa ridak mengalami perkembangan yang berarti. Kota tersebut tidak memiliki fungsi perdagangan umumnya menjadi pusat pemerintahan daerah.

• Enkulturasi dan sosialisai,Budaya dan Nilai-nilai
Berbagai peranan harus dipelajari oleh anak (individu anggota masyarakat) melalui proses sosialisasi; adapun mengenai kebudayaan perlu dipelajarinya melalui enkulturasi. Jika anak tidak mengalami sosialisasi dan/atau enkulturasi, maka ia tidak akan dapat berinteraksi sosial, ia tidak akan dapat melakukan tindakan sosial sesuai status dan peranannya serta kebudayaan masyarakatnya.
Enkulturasi adalah suatu proses dimana individu belajar cara berpikir, cara bertindak, dan merasa yang mencerminkan kebudayaan masyarakatnya. Herkovits menyatakan bahwa sosialisasi menunjukkan proses pengintegrasian individu ke dalam sebuah kelompok sosial, sedangkan enkulturasi adalah proses perolehan kompetensi budaya untuk hidup sebagai anggota kelompok. Dalam buku Kebudayaan Indis Kaarsten berupaya menggunakan percobaan dengan ilham bangunan pedesaan. Semuanya diciptakan Kaarsten dengan rekayasa desain seperti di negeri Belanda. Berlage menyebut kota Semarang adalah kota “ciptaan Kaarsten” karena Kaarsten memberi cap atau ciri bangunan di kota Semarang. Kaarsten juga membangun gedung Sobokerti, gedung pertunjukan prosenium ini adalah hasil salah satu percobaan untuk pemecahan masalah tentang gaya campuran Pribumi dengan Eropa yang disebutnya Indo-Europeesche Stjil. Tujuan utamanya agar dapat digunakan sebagai tempat pertunjukan wayang orang dan juga dapat digunakan untuk pertunjukan bentuk baru seni pentas gaya Barat dengan posisi para penonton di dalam ruangan dapat duduk dikursi, melihat kesatu arah panggung prosenium. Posisi penonton seperti ini sama dengan posisi penonton di gedung Pulzig, Berlin, Jerman sebagai banguna opera modern sebelum Perang Dunia II. Pertunjukan drama atau sandiwara dengan dialog bahasa Indonesia merupakan salah satu karya gaya Indis.
• Persepsi dan Pola gambar
Bentuk kota dan kabupaten digambarkan tidak jauh berbeda dengan lingkungan pedesaan sekitarnya. Rumah (dalem) bupati dan para pejabat tampak menonjol disekeliling alun-alun, diselingi dengan rumah kontrolir atau asisten residen dan perkantoran. Kelompok bangunan di kota lebih rapat satu sama lain dibandingkan dengan kelompok perumahan di pedesaan. Dibandingkan dengan kota-kota pantai kuno, kelompok perumahan di kota pusat pemerintahan lebih jarang.

• Budaya dan Kesehatan
Pada 1925, Sociaal Technische Vereeniging mengadakan Volkshuisvesting Congres yang kedua. Laporan (verslag) kongres kedua mempunyai jangkauan tiga hal, yaitu :
a. Rumah tinggal penduduk Pribumi
b. Perbaikan kampung-kampung jelek dan kumuh untuk jangka panjang
c. Pameran tentng perumhana penduduk.
Pengamatan tentang perbaikan pemukiman dan perumahan pribumi banyak kendalanya, khususnya pada bidang kesehatan. Yang paling memprihatinkan ialah berjangkitnya berbagai penyakit. Setelah 1910 terjadi kekurangan bahan makanan di Jawa sehingga diperlukan impor beras dari berbagai negeri di Asia. Salah satu kapal pembawa beras membawa sejenis tikus yang dengan cepat menularkan penyakit pes. Pada tahun yang sama tersebar penyakit pes dengan pesat di Malang dan menyebar lebih luas ke arah barat. Untuk memberantas penyakit, segera dibentuk dinas kesehatan rakyat.peraturan dan perbaikan rumah-rumah permukiman bangsa pribumi berhubungan erat dengan kepentingan kesehatan bangsa Belanda sendiri yang juga tinggal didalam kota yang sama.
• Self dalam konteks Sosial
Gaya hidup golongan masayarakat kebudayaan indis menunjukkan perbedaan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya terutama dengan kelompok masyarakat. Seperti di Pasuruan, orang –orang Cina tinggal di Pecinaan, sementara Pribumi tinggal di kampung-kampung yang berpenduduk padat. Untuk setiap kelompok masyarakat didirikan sekolah. Sekolah orang Eropa terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya, sedangkan orang Cina di selatan kota. Sekolah untuk anak negeri didirikan di pusat kota, tidak jauh dari kampung-kampung.
Ada empat golongan dan kebangsaan menurut Maclaine, yaitu :
1. Anak negeri atau kelompok Pribumi
2. Orang yang disamakan dengan anak negeri
3. Orang Eropa
4. Orang yang disamakan dengan bangsa Eropa
Orang yang disamakan dengan anak negeri yaitu orang Cina, Arab, Koja dan Keling. Mereka dinamakan “orang asing di bawah angin”. Untuk tetap tinggal di Jawa dan Madura mereka harus mendapat izin dari gubernur dan jenderal. Untuk tinggal di luar tempat ini, mereka harus mendapat izin kepala pemerintah setempat. Menurut Staatsblad “orang di bawah angin” ini ditempatkan dikampung-kampung yang sudah ditentukan, yang diatur kepala pemerintah negeri.
D. Upaya Mencukupi Kebutuhan Perumahan Kota
• Nilai-nilai dan motif kerja
Dari sudut ekonomi, pembangunan rumah dapat dimaksudkan untuk mencari untung. Pengusaha real estate sejak awal sudah menduga bahwa rumah berukuran kecil dibawah f 125 sebulan, tidak akan mampu disewa orang dan tidak akan menguntungkan. Khusus di Surabaya masyarakat ingin menjadi pengusaha real estate. Perusahaan membangun rumah berukuuran kecil untuk disewakan dan untuk menyimpan modal kekayaan yang menguntungkan. Dikalangan masyarakat pengusaha (asing dan Timur asing) ada yang bernafsu membuat rumah0rumah berukuran kecil atau sedang, tetapi dilengkapi perabotan serba lengkap untuk disewakan kepada orang Eropa. Pemrintah kolonial lebih tertarik untuk menarik uang subsidi dari gemeente. Subsidi digunakan untuk biaya pembuatan rumah-rumah kecil, khususnya untuk bangsa Pribumi dengan sewa paling rendah.
Sesak dan padatnya kota Bandung berubah menjadi kota industri sehingga kolonial memberlakukan hal-hal berikut :
1. Membeli tanah yang siap dibangun (bowklaar) untuk mendirikan rumah kecil dengan cara mengangsur pembayarannya secara ringan dan dengan harga tanah serendah mungkin.
2. Mendirikan rumah-rumah sederhana untuk disewakan atau dikreditkan (sewa beli)
3. Memberikan bantuan bahan-bahan atau alat-alat rumah yang tinggal dipasang.
4. Menutup suatu daerah di dalam bagian kota tertntu dan hak eigendom, yaitu hak pemilikan pribadi sehingga harga tanah tempat itu tidak selalu naik.
5. Pada awal 1930, pemerintah Bandung membuat contoh mendirikan rumah-rumah kecil sebanyak-banyaknya dengan sewa serendah-rendahnya.

E. Penggunaan Unsur Seni Tradisional dalam Rumah Gaya Indis
• Enkulturasi
Pada penggunaan unsur seni tradisional dalam rumah gaya Indis Ch. Meyll bertutur bahwa para arsitek Inggris di India berhasil dalam ciptaan-ciptaannyabdengan mendapat ilham dan mencontoh arsitektur tradisional Pribumi India yang ada disekeliling mereka. Conto-contoh dari arsitektur hasil katya bangsa yang dianggap lebih rendah atau tidak beradap. Hendaknya karya-karya yang merupakan ilham dari orang Jawa yang berbakat tersebut dapat dipakai untuk bahan ide membangun arsitektur modern di dunia Timur (Hindia Belanda)
Para reflektor menganjurkan tidak bersikap sentimen dan menolak menggunakan unsur-unsur budaya bangsa Pribumi, bila perlu mereka bisa mengawinkan dua unsur sebagai usaha baru dalam penciptaan. Orang-orang Eropa yang berbudaya dan tinggal di bumi Hindia Belanda perlu belajar dan meneliti hasil kkarya orang Jawa, arab, Cina dan India. Hal ini diperlukan untuk menghadapi adat kebiasaan pada masa lalu dan abad-abad yang akan datang.
• Ciri sifat antar budaya
Di Hindia Belanda ada dua kelompok pendapat tentang penggunaan atau pemakaian seni budaya Jawa dalam bangunan. Kelompok pertama, mengutamakan pemindahan dari negeri ibu (Belanda) yang menghendaki seni bangunan ( nasional Belanda ) diberlakukan di daerah koloni, khususnya Jawa karena kemajuan teknik bangunan tidak mudah untuk diduga sebelumnya. Kelompok ini menyebutkan bahwaperalihan menuju ke seni Jawa masih sedikit. Oleh karena itu tidak ada gejolak yang berati dalam peralihan bentuk seni bangunan dan pandangan arsitek. Kelompok kedua, karena merasa dipisahkan oleh kenyataan adanya pertimbangan politik, mereka lebih mengharapkan adanya peralihan ke seni Jawa yang dapat menuju ke seni Indo-Eropa, yaitu apabila nantinya Hindia Belanda telah dapat berdiri sendiri.
Seni Jawa juga mempunyai karakteristik sendiri seperti halnya seni bangsa Barat atau negeri-negeri di Barat lainnya. Pentingnya faktor konstruksi bangunan, kesehatan dan ekonomi juga dihargai. Walaupun demikian, pada hakikatnya jiwa nasionalisme yang terdalam dimiliki bangsa Pribumi harus diutamakan.
BAB V
Ragam Hias Rumah Tinggal
Arsitektur rumah tinggal merupakan suatu bentuk kebudayaan. Marcus Vitruvius Pollio dengan karyanya yang berjudul De Architectura Libri Dacem adalah orang yang pertama kali mencetuskan konsep ini pada abad pertama sebelum masehi. Menurutnya, terdapat tiga unsur yang merupakan faktor dasar dalam arsitektur, yaitu: (a). Kenyamanan (convenience); (b). Kekuatan atau kekukuhan (strength); dan keindahan (beauty). Sedangkan salah satu elemen dalam dunia arsitektur adalah ornamen atau ragam hias.
Abad ke-19 dikenal sebagai periode elektik, yaitu suatu periode gaya hidup yang menerapkan cara pandang serba praktis. Orang lebih mementingkan fungsi, sehingga ornament atau ragam hias tidak dianggap penting. Terlebih sejak abad ke-20 banyak benda tidak lagi memerlukan hiasan. Rumah dan interiornya tidak lagi dihias karena memang dianggap tidak perlu.
Sementara itu, ada pendapat yang menyebutkan bahwa ornamen digunakan karena diilhami faktor emosi dan faktor teknik. Faktor emosi yaitu hasil cipta yang didapat dari kepercayaan, agama, dan magis atau faktor naturalistik. Sedangkan faktor teknik mencakup bahan-bahan baku dari ornamen dan proses pembuatannya.
Berikut ini adalah lima indikasi seni bangunan dan seni lukis. Pertama, seni lukis modern adalah karya seni yang meninggalkan naturalisme yang terdapat pada seni plastid (pahat patung). Kedua, seni lukis modern bersifat bebas, terbuka, dan berlawanan dengan seni arsitektur. Ketiga, seni lukis modern penuh dengan warna-warna pada bidang yang bertolakbelakang dengan arsitektur yang tidak banyak menggunakan warna-warni seperti karya lukis. Keempat, seni lukis modern meliputi proses penciptaan bentuk plastis pada bidang datar, yang menghasilkan sesuatu yang kontras dengan permukaan bidang datar yang terbatas pada bangunan. Kelima, seni lukis modern member bentuk plastis pada bidang datar dengan pertimbangan yang tepat dan imbang.
B. Bentuk Atap dan Hiasan Kemuncak
Bangunan rumah jawa tradisional dan hiasannya dari masa awal abad ke-20 terdapat suatu keganjilan apabila dibandingkan dengan bagaimana masyarakat yang tinggal di pulau sekitarnya. Orang sumatera membangun rumah dari kayu dan orang Bali membangun rumahnya dari tanah liat yang dijemur atau dengan batu bata. Sedangkan pada umumnya bangunan pribumi di Jawa dibuat dari bahan yang murah, berdinding bamboo, beratap daun pohon palem atau rerumputan.
Bangunan rumah Jawa memiliki bermacam-macam bentuk atap. Nama atau gaya sesuatu bangunan rumah justru ditentukan menurut masing-masing bentuk atapnya, misalnya: rumah joglo, limas an, tajug, kampung dan sebagainya. Sedangkan bentuk atap bangunan rumah merupakan penentu nama sesuatu gaya bangunan rumah di Jawa dan Indonesia pada umumnya. Adapun di Eropa orang menggunakan bentuk tiang atau kepala tiang sebagai penentu ciri suatu bangunan.
Hiasan atap dan kemuncak bangunan rumah tradisional Jawa sangat sederhana. Demikian pula dengan hiasan atap dan kemuncak bangunan rumah gaya Indis pada awal abad ke-20 sebelum pengaruh seni Eropa melanda Pulau Jawa. Bersamaan dengan itu, corak bangunan rumah gaya Indis kembali lebih mendekati gaya Eropa. Hal itu tampak antara lain pada bentuk bangunan tertutup yang cocok bagi alam Eropa yang dingin.
C. Hiasan dan Kemuncak Tadhah Angin dan Sisi Depan Rumah
Di Indonesia, khususnya di Jawa, hiasan di bagian atap rumah kurang mendapat perhatian, kecuali pada bangunan-bangunan peribadatan. Pada bangunan Eropa, hiasan kemuncak mendapat perhatian da mempunyai arti tersendiri, baik dari sudut keindahan, status sosial, maupun kepercayaan.
Hiasan kemuncak dengan sisi depan rumah gaya Indis di Jawa tidak terlalu banyak digunakan, baik pada bangunan di kota maupun rumah di pegunungan dan pedesaan. Semangat menghias rumah seperti halnya masyarakat Eropa tidak terdapat pada masyarakat Indis di Jawa. Hal demikian terjadi akibat tekanan ekonomi atau kemiskinan zaman Malaise akibat Perang Dunia I. Umumnya rumah gaya Indis beragam hias sederhana, kecuali rumah orang Cina yang kaya.
Pada awal abad ke-19, bangunan rumah kayu yang setengah batu yang memiliki sisi depan atap yang meruncing menjadi ciri umum bangunan rumah gaya Indis. Namun pada akhir abad ke-20, masyarakat Indis mulai banyak menggunakan bentuk tertutup menyerupai gaya Eropa.
Pada umumnya, sisi depan atap rumah gaya Indis berbentuk runcing menjorok ke depan (tuitgevel), suatu bentuk yang lazim digunakan untuk bangunan gudang (pakhuizen), yaitu menggunakan tadhah angin berbentuk segitiga (tjimpanon atau geveltoppen) bervariasi, dari hiasan sederhana berbentuk sumbu kemuncak nokspil hingga ornamen-ornamen yang bagus. Tympanon ini berbentuk segitiga, bagian atas disebut voorschot yang terdiri atas papan-papan kayu yang disusun vertikal.
Sejarah lambang-lambang yang dipahatkan pada papan lis tadhah angin (tympanon) dapat dibedakan menjadi tiga babakan waktu, yaitu:
1. Lambang dari masa Pra-Kristen, antara lain diwujudkan dengan gambar pohon hayat, kepala kuda, atau roda matahari.
2. Masa Kristen, berupa lambing gambar salib gambar hati(hart) , jangkar (angker),
3. Khusus lambing-lambang dari agama Roma katolik, yaitu berupa miskelk dan hostie.
Bagi bangunan rumah gaya Indis di Indonesia, lambang seperti tersebut di atas sudah kehilangan makna sebagai hiasan yang mengandung arti simbolik, tetapi berfungsi hanya sebagai hiasan belaka.
1. Macam-macam Hiasan Kemuncak dan Atap Rumah
a. Penunjuk arah Angin (Windwizer)
Penunjuk arah tiupan angin (windwijzer) atau windvaan, dalam bahasa Perancis disebut girovettes dan apabila berputar-putar disebut wire-wire.
b. Hiasan Puncak Atap (Nok Acroterie) dan cerobong asap Semu
Hiasan ini terbuat dari daun alang-alang sebagai prototype, kemudian dalam rumah gaya Indis dibentuk dengan bahan semen. Atap daun alang-alang (rumbia) digantikan dengan atap genteng. Demikian halnya cerobong asap yang menjulang tinggi di Negara Belanda, digantikan menjadi “cerobong asap semu”.
c. Hiasan Kemuncak Tampak-Depan (Geveltoppen)
Bentuk segitiga pada depan rumah disebut voorschot. Seringkali voorschot itu dihias dengan papan kayu yang dipasang vertical, berhiasan, yang digunakan sampai dengan abad ke-19. Ragam hias yang dipahatkan seringkali memiliki arti simbolik berupa huruf-huruf yang distilisasi sehingga merupakan motif ragam hias (runenschrift). Misalnya:
1. Lambang Manrune, dengan bentuk huruf M, terkadang dengan bentuk bunga tulip atau leli, mengandung arti simbolik kesuburan.
2. Perhiasan oelebord atau uilebord yang terdapat di rumah para petani Friesland berupa kayu berukir melukiskan dua ekor angsa bertolakbelakang yang bersandar pada makelaar. Pada rumah gaya Indis, bentuk angsa bertolakbelakang ada yang digantikan pohon hayat (kalpataru, kalpawreksa).
3. Hiasan berupa makelaar, yaitu papan kayu berukir, panjang sekitar dua meter ditempel secara vertikal.
d. Ragam Hias Pasir dari Material Logam
Ragam hias lain yang melengkapi bangunan rumah yang berbahan besi misalnya untuk:
a. Pagar serambi (stoep)
b. Kerbil, yaitu penyangga atap emper pada bagian depan dan belakang rumah.
c. Penunjuk arah mata angin
d. Lampu halaman
e. Kursi kebun
2. Ragam Hias pada Tubuh Bangunan
Ragam hias yang terdapat di bagian tubuh bangunan misalnya pada lubang-lubang angin (bovenlicht) yang terletak di atas pintu atau jendela. Hiasan yang berupa ukir krawanga (a’jour relief) ini lazimnya terbuat dari kayu, tetapi pada rumah-rumah mewah yang dihuni pembesar pemerintah kadang terbuat dari besi.

Lubang angin pada rumah gaya Indis di Jawa dihias sederhana saja, yaitu lukisan beberapa anak panah yang ujung-ujungnya menuju kearah pusat. Sedangkan pada bangunan besar seperti istana atau keraton raja-raja Jawa Yogyakarta dan Solo, batang bagian dalamnya dihias dengan gaya Ionia dan Korinthia.

Penggunaan tiang gaya Doria, Ionia, Korinthia, dan Komposit disesuaikan dengan pandangan dan filsafat Yunani dan Romawi kuno. Bangsa Doria yang bersifat dan berjiwa militer serta menyukai kekuasaan menciptakan gaya Doria. Sehingga gaya Doria sangat cocok sebagai hiasan bangunan pemerintahan atau penguasa. Suku Ionia yang berwatak menyukai ketenangan, keindahan, dan keserasian menciptakan gaya Ionia. Sementara itu, para pedagang Korinthia, untuk menunjukkan kekayaan dan kemewahan, memesan batang tiang gaya Korinthia kepada para seniman bernama Kalimachos.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pandangan bahwa kelompok atau budaya sendiri adalah pusat segalanya dan budaya lain Akan selalu dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar budaya sendiri” Semua artefak kebudayaan berupa monografi, kesusasteraan, kisahperjalanan, lukisan, foto,sketsa,artefakan seni bangunan indis menunjukkan kemampuan segolongan masyarakat Indonesia dalam mengambi unsur – unsur budaya asing tanpa meninggalkan budaya tradisionalnya.

3.2 Saran

Diharapkan mahasiswa mahasiswa mampu memahami dan mengerti tentang unsur-unsur kebudayaan Indis yang ada di Indonesia. Sehingga diharapkan bisa dituangkan dalam kehidupan sehari-hari untuk dapat saling bertoleransi satu sama lain.

 
1 Comment

Posted by on October 4, 2011 in Kebudayaan Indis, Psychology

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.